Kehilangan Sebelah Mata

Selasa, 10 Januari 2017 yang lalu, aku telah kehilangan sebelah mata. Satu sisi pandang dari mataku menggelap hitam, setelah operasi pada mata kiri milikku. Sama seperti kalian, aku juga tidak pernah menyangka hal yang seperti ini akan terjadi dalam cerita hidupku. Namun kenyataannya demikian, dan lagi, ini menjadi satu dari kumpulan pelajaran hidup yang ku petik perlahan.


Akhir Desember 2016 beban pekerjaanku cukup meningkat hingga larut malam, terlebih ada salah satu Surat Edaran yang menegaskan bahwa untuk akhir tahun (31 Desember 2016) kami ditugaskan untuk lembur hingga pukul 24.00 sesuai wilayah bagian Indonesianya masing – masing (WIB, WITA, dan WIT -Red).

Sudah dua tahun berturut – turut aku merayakan pergantian tahun baru di depan layar monitor kantor. Bersama dengan rekan – rekan seperantauan yang juga meninggalkan keluarga dan orang tersayang di tempatnya. Tak ada letusan kembang api, tidak ada bunyi terompet yang bersahutan. Yang ada hanyalah ucapan selamat tahun baru, doa, dan keriangan kecil pada wajah – wajah yang nampak kelelahan. Riang karena menyambut tahun baru, mungkin juga riang karena ingin segera pulang istirahat di rumahnya.

Akhir 24.00 atau awal 00.00 satu pekerjaanku yang lain justru baru dimulai. Seusai mengucap selamat kepada orang – orang tersayang, aku kembali menatap layar. Ada penugasan untukku yang harus ku selesaikan. Merekap angka total penerimaan kantor selama setahun penuh.

Oh iya, jangan kalian gambarkan aku seperti robot. Datang, kerja, lalu kemudian pulang. Aku juga merayakan dengan makan dan minum bersama teman – teman, hanya saja aku berpamit lebih dahulu untuk menunaikan sebuah tanggung jawab.

Dalam keadaan badan lelah, mata sepet – sepet, aku pun mulai kembali bergaul dengan deretan digit angka itu. Kumpulang angka itu seperti bunga – bunga kembang api yang berserak di mana – mana. Ku teguk segelas air minum pada mug putih dekat mouse ku. Seteguk dua teguk, menenangkan. Aku juga mengusap mataku yang sudah ingin terlelap, seakan membangunkannya perlahan. Alhamdulillah, tidak terlalu dini hari pekerjaanku selesai dan aku pun bisa beristrirahat. Selamat Tahun Baru 2017! Gumamku sekali lagi saat hendak meninggalkan kantor. Semangat!

Rutinitas sampai tengah malam ini belangsung selama satu pekan di penghujung bulan dua belas. Efeknya? aku hanya merasakan kelelahan tanpa merasakan hal yang aneh – aneh terjadi pada diriku saat itu. Sampai satu pagi saat melihat di depan cermin, ada semacam bengkak / bintitan di mata kiri milikku. Awalnya tidak terasa sakit, sehingga aku pikir aku bintitan biasa. Nanti akan berangsur hilang dengan pengobatan biasa, pikirku enteng.

Beberapa hari terlewati bengkak itu tak kunjung hilang, justru perlahan membesar dan mulai menyita perhatian orang sekitar.  Beberapa orang mulai menanyakan apa yang terjadi pada sebelah mataku. Akhirnya kuputuskan di akhir pekan awal tahun ini untuk periksa ke dokter.


Kali pertama, aku memilih untuk mengunjungi salah satu praktek dokter umum setempat. Lagi – lagi karena kupikir ini hanyalah semacam bintitan biasa. Namun reaksi Pak Dokter saat itu justru berlainan denganku, baginya ini justru bukan hal remeh temeh yang biasa. Mukanya membuat raut tak enak, ia seperti kesakitan begitu. Padahal aku yang punya penyakitnya. Dia bertanya padaku,

“Rasanya sakit nggak?”

“Nggak Dok, nggak ada rasanya… Cuma rasanya ada yang mengganjal aja.” jawabku.

(ceileh mengganjal, emangnya ban bis/truk di ganjel – ganjel)

“Biasanya kalau udah begini nyeri, belum ya?”

“Nggak nyeri kok Dok, kalau bisa mah jangan nyeri, hehe.” jawabku lagi sambil cengengesan.

Aku pun pulang dari tempat praktiknya dengan membawa tebusan obat, beliau juga menyarankanku untuk dilakukan “tindakan” pada sebuah praktik spesialis dokter mata terekomendasi.

Sampai hari itu pun tiba, Selasa 10 Januari 2017.


Bengkak itu tak kunjung mengecil, justru lama – lama aku mulai kerap kali merasakan nyeri di mata kala berkedip genit. Oh! maaf berkedip aja deng tanpa genit segala, suer.

Dalam keadaan yang demikian aku pun memutuskan untuk mengunjungi rujukan spesialis mata waktu lalu. Sebelumnya, aku juga mencari – cari tahu sendiri perihal apa yang sebenarnya terjadi di mataku. Dan bagaimana rupa “tindakan” yang di maksud dokter umum kemarin? Sampai – sampai aku menonton rekaman praktik “tindakan” tersebut di Youtube.

Semacam operasi kecil, insisi di bagian mata. Terdengar dan terlihat ngeri, terlebih aku memang tak tahan dengan yang namanya operasi dan semacamnya, tapi toh aku bakalan diginiin, jadi sudah seharusnya tahu lebih dahulu resiko dan kawan – kawannya. Dengkul aku sampe lemes, padahal nontonnya juga sambil duduk di kursi. Tenanglah duhai mata kaki, kamu nggak akan sampai bintitan atau ditindak – tindak juga kok!

Aku pergi bersama seorang rekan yang kemudian berpamit pulang dahulu saat menjelang waktu maghrib tiba. Antrian namaku dipanggil, tak lama kemudian aku memasuki ruangan praktik. Seperti dugaanku, Ibu dokter ini pun menyarankan untuk segera dilakukan penindakan. Apapun yang terbaik untuk kita, aku percaya sepenuhnya padamu, Bu…, Lakukan! Lakukan! Aku ikhlas… (okay ini lebay)

Aku pun menyetujuinya.

Tubuhku dibaringkan di atas ranjang. Mata kiriku dibuka, pembiusan dilakukan. Biar kuberitahu padamu apa yang aku rasakan. Sakit. Entah mataku diapain, disuntik ataupun ditetes pokoknya sakit. Betapapun rasanya, aku mencoba bertahan tak sampai mengerang, hanya menahan perih dalam diam. Sambil melakukan itu, sang Ibu Dokter banyak bertanya – tanya tentangku. Ia tahu aku bukan penduduk asli sini alias pendatang. Lebih – lebih begitu Ibu Dokter tahu aku pegawai pajak, ia justru semakin getol bertanya dan konsultasi sana – sini. Padahal akunya udah lemes banget.

Setelah beberapa menit yang menyiksa berlalu, bu Dokter menjauh dari tempat ku tidur. Aku menggumam dalam hati, “Alhamdulillah udah selesai ya Allah…”

Baru juga seneng barang sedetik, tiba – tiba beliau berbicara,

“Ditunggu sebentar ya mas Toro, biar biusnya meresap dahulu.”

Apaaa?! Ini baru pembiusan, lah aku kira udah selesai?! Astaga gimana rasanya ditindak nanti? Aku sempet shok, mau ngibarin bendera putih tapi nggak ada.

Oh iya, bukannya emang begitu? Habis dibius nanti kan baru gak terasa sama sekali? Pikirku menghibur diri dalam hati, hehe.

Setelah kurang lebih 5 hingga 10 menit adonan bisa diangkat, eh salah maksudnya operasi pun dimulai. Aku tidak tahu pasti apa dan bagaimana  yang Bu Dokter lakukan terhadap mata kiriku. Pokoknya pikiranku saat itu hanya ingin memejam, menahan kuat – kuat perih sayatan atau apapun itu. Lagi – lagi, si Ibu Dokter ini kembali mengajakku ngobrol, mungkin maksudnya agar rileks. Tapi aku justru tak terlalu menyukainya. Ampun dah Bu, ini aku aja udah lemes banget, pake diajak ngobrol, gantian posisi aja deh kita!

Alih – alih setelah dibius terus jadi mati rasa, ternyata nggak demikian. Terasa perihnya, entah di sayat atau ditekan – tekan, aku ngebayanginnya aja serem. Mata kan empuk gitu ya? Terus gimana nasib mata ini?

Proses tindakan selesai, kemudian Bu Dokter kembali memeriksa mataku. Tiba – tiba ibunya kaget. Lho jangan ditanya, aku  ya lebih kaget, kok bisa – bisanya si ibu kaget. Apa jangan – jangan Bu Dokter nemuin harta karun di mata saya? Apa ibu melihat jodoh saya di sana? Ada apa bu? Ada apa?!

Tapi aku udah lemes banget, jadi cuma bisa merem melek tanpa bisa bertanya. Itupun cuma sebelah, mata kirinya masih dipegangin Bu Dokter.

“Wah ini ada lagi di dalam mata ade…(beliau memanggil aku Ade, asyik dapat kakak dokter batinku salah fokus)”

Aku nggak tau harus merespon apa, harus bilang hore apa gimana. Jadi lebih memilih pasrah.

“Kamu ada tiga kelenjar yang bengkak, satu di luar (ini yang terlihat di kasat mata) dua lagi ada di dalam (tertutup kelopak mata).”

Jangan ditanya lagi, aku makin lemes mendengarnya. Iya dah bu, iyaa, pokoknya sikat aja semuanyaaah.

“Kita tindak sekalian aja ya.” ujar Bu Dokter mengajak saya.

“Hayuk atuh Bu, mangga pisang jambu.” Jawabku dalam hati sembari mengangguk pelan.

Ronde kedua pun dimulai. Jujur saja, karena sakitnya teramat sangat, akupun mengejang kuat. Tangan – tangan ini menggenggam erat sprey ranjang tidur. Bu dokter pun berkata katanya aku kuat, kalau kebanyakan orang biasanya udah nangis jerit – jerit. Ini aku kok malah diam aja. Lah iya dok, aku diem aja pun soalnya sakit banget, saking sakitnya nggak ada tenaga lagi bahkan untuk sekadar teriak.

Dalam sakit yang demikian aku berulang kali menyebut nama Allah, mengingat orangtua, adik, dan keluarga di kejauhan. Meminta pertolongan dalam hati.

Alhamdulillah operasi pun selesai juga akhirnya, tanpa ada lagi ronde – ronde tambahan. Mata kiriku di tutup dengan perban. Resmi sudah jadi bajak laut, hehe.

Kali ini giliran aku yang banyak tanya. Aku mulai banyak tanya tentang apa dan bagaimana perihal kejadian mataku ini. Sampai beliau menjelaskan dengan nama – nama biologis yang membuat kepalaku semakin pusing karena mendengar penjelasan ibunya dengan sebelah mata (eh dengernya pake telinga, maksudnya ngeliatin ibunya cuap – cuap pake sebelah mata gitu). Di saat yang bersamaan aku juga membayar biaya operasi pada dokternya langsung. Beliau bilang untuk tebusan obatnya baru di loket bawah. “Oke.” jawab saya sambil berkedip nakal di sebelah kiri, tapi untungnya nggak kelihatan karena lagi ditutup perban.

Keluar ruangan, akupun langsung turun ke lantai bawah menuju loket, dalam keadaan mata diperban sendirian. Sepanjang ruang operasi hingga menuruni anak tangga ke lantai bawah, aku dilihatin orang – orang. Mereka kaget rupanya, aku keluar kok tiba – tiba jadi bajak laut. Juga kudengar ada bisikan kecil, “Ma, aku mau dong kayak gitu keren!”. Duh dek, jangan.

Sesampainya di lantai bawah rasanya efek obat bius perlahan mulai menghilang. Aku jadi tidak bisa melihat lantaran jika mata kanan membuka mata kiri terasa sakit karena  terbiasa ikut membuka bersamaan. Karenanya akupun lebih banyak merem, ngeliatnya ngintip – ngintip dikit.

Di depan meja kasir, aku menyerahkan resep dokter tadi dengan susah payah, takut salah keliru ngasih kertas resep dokter atau bon laundry kiloanku. Mbanya bilang aku duduk aja dahulu. Akupun menuju kursi terdekat dengan susah payah lagi. Tanganku menjulur – julur ke depan, karena sudah tak bisa lagi melihat. Salah – salah nanti duduk dipangkuan mba – mba cantik, nanti jadi enak? Eh.

Setelah duduk, dalam keadaan yang demikian aku berusaha untuk sedikit membuka mata. Mengabarkan Ayah, Ibu, dan Adik di rumah bahwa operasi telah berjalan lancar dan Insya Allah tinggal menunggu waktu penyembuhan 5 hingga 6 hari. Tak lupa mengabari rekanku yang pulang lebih dahulu tadi untuk minta tolong di jemput pulang, mengingat kami satu kostan. Temanku pun memberi balasan akan segera datang, sembari saya menunggu obatnya selesai disiapkan.

Namaku dipanggil, mbanya menyerahkan obat sambil menyebutkan nominal uang yang harus aku bayarkan. Sayangnya mata ku udah tak bisa lagi dibuat melihat. Udah giveup saking sakitnya. Lantas aku pun berujar pada mbanya,

“Mbaa, maaf aku nggak bisa ngelihat nih, mba ambil aja ya uangnya di dompet saya.” Aku pun menyerahkan dompet beserta seisi-isinya ke Mbanya, memasrahkan semuanya, aku percaya kamu mba.

Mbanya pun dengan sigap mengambil dompetku. Perkara nanti dompet isinya dituker pake kertas resep pun aku pasrah. Aku mah percaya aja.

Tidak begitu lama HPku bergetar, aku angkat telfonnya, rupanya temanku bilang sudah ada di depan.

“Halo Toro? Aku udah di depan ya.”

“Eh mas tolong masuk dong, aku nggak bisa ngeliat sama sekali nih hehe” jawabku minta tolong.

Akhirnya temanku pun masuk lalu menuntunku pelan sampai ke kendaraan pulang menuju kostan.

Kamarku berada di lantai tiga, sehingga naiknya perlu perjuangan. Padahal biasanya kalau aku naik tangga, tangganya sering aku langkahin dua – dua sekaligus. Biar keren? Nggak biar cepet aja. Lagian naik tangga dua – dua aja kok pengen dibilang keren, aneh kamu (loh kok jadi nyalahin).

Pintu kamarku dibantu buka, mengingat ada banyak kunci yang menjadi satu dengan gantungan kunci ku. Ada kunci ruangan kantor, server, kunci T, kunci inggris, kunci TTS juga ada kalau mau.

Masuk ke kamar, aku langsung duduk di ranjang. Mengeluarkan semua obat – obatan yang tadi dibeli. Mencoba memisahkan mana obat yang harus aku minum malam ini, dan mana obat oles dan tetesnya. Kan nggak lucu kalau sampai keliru.

Mulai dari malam itu, aku resmi tak bisa apa – apa. Jangankan keluar kamar, berdiri dari ranjang untuk mengambil sesuatu aja aku tidak bisa sama sekali. Pandangan gelap, melihat dengan mata sebelah pun rasanya sukar. Selain sakit, mataku kan minus, ini gara – gara sebelah bajak laut jadinya aku nggak bisa pake kacamata. Jadi ini toh alasan bajak laut nggak ada yang make kacamata.

Aku cuma bisa berbaring dan berbaring, selama beberapa hari. Sebelumnya aku juga minta tolong dibelikan roti isi dan roti tawar oleh teman sekostku, agar mempermudah aku makan dan minum obat.

Perban di mata kiriku sendiri baru boleh dibuka minimal 1 x 24 jam, kalau 2 x 24 itu tamu lapor ke RT, jangan sampai keliru ya (#okesip). Dan mulai dari saat itu baru bisa diberi obat tetes dan olesnya. Kemudian dalam kurun waktu penyembuhan 5 sampai 6 hari, aku tidak diperbolehkan terkena air di bagian wajah. Terutama area mata sebelah kiri. Selama itu pula aku hanya mengelap muka saya dengan tisu basah untuk pembersihan, ataupun membasuh setengah wajah dengan perlahan.

Hari rabu dan kamis setelah operasi benar – benar aku habiskan dengan terbaring di atas ranjang. Teman – temanku banyak yang datang menjenguk, begitu juga para penghuni kostan. Aku beruntung berada dalam lingkungan orang – orang yang baik dan peduli. Mereka banyak membantuku selama tidak bisa apa – apa. Mereka bahkan meluangkan waktunya untuk membawakan sarapan dan makan siang ke kamar saya. Alhamdulillah, banyak orang yang menolong, terima kasih ya Allah semoga engkau memberikan rahmat dan ridhaMu selalu kepada orang – orang baik ini ya Allah.

Rabu siang, aku pun memberanikan diri melepas perbanku sendiri. Pelan – pelan sekali, takut ada selaput yang tertarik akibat luka yang belum mengering. Perbannya memerah darah. Setelah perban kiri sempurna terbuka, aku mulai mencoba membuka mata kiri. Gelap. Aku tak bisa melihat apa – apa, pandang mata kiriku serasa tidak berfungsi sama sekali.

Di saat itu, entah mengapa rasanya aku  ingin menangis. Sedih sejadi – jadinya. Tidak pernah terbayangkan hal yang demikian terjadi pada hidup saya. Tetapi aku pun mengingat pesan bu Dokter, jangan sampai mata ini terkena air, maka jangan pula terkena air mata. Aku mendongak mencoba menahan sesak di dada.

Berulang kali aku mengucap istigfar, memohon ampun dan pertolongan kepadaNya.

Aku memejamkan lagi kedua mata. Kemudian mencoba kembali membuka mata bersamaan. Hasilnya ternyata sama saja. Mata ini hanya bisa melihat sebelah.

Aku pun takut, apa yang demikian akan terjadi pada sepanjang hidupku?

Aku mulai khawatir dengan jalan hidupku. Bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan kamu? Bagaimana dengan pekerjaaanku? Apa aku masih dapat diterima dengan keadaan yang demikian? Dan, bagaimana denganku, apa aku dapat ikhlas dengan semua ini?

Sambil mengatur nafas, aku mencoba berpikir tenang, jangan panik setidaknya aku bisa melamar jadi pemeran bajak laut. Positive thinking mah tetep, men.


Dalam keadaan yang demikian aku banyak mengambil pembelajaran dari perenungan.

Ternyata begitu banyak hal sia – sia yang aku lakukan ketika aku sedang sempurna. Bahkan aku selalu meminta banyak hal lainnya yang kuanggap dapat menyempurnakan hidupku. Padahal kenyataannya tidak. Aku, kamu, kita semua sejatinya sudah sempurna sedari lahir, dengan segala hal karuniaNya pada hidup kita.

Kita sempurna dengan segala pemberianNya, dengan apa yang telah kita miliki sekarang. Dan apabila yang demikian telah hilang barulah kita merasa tidak  sempurna. Tersadar dan baru meratapi apa – apa yang menjadikan kita merasa kehilangan.

Kita lebih sering lupa mensyukuri apa yang kita miliki, padahal di luar sana banyak orang yang terlahir kekurangan dibandingkan kita.

Kita yang normal adalah bagian yang paling sempurna bagi mereka.

Karenanya aku mengucap syukur berulang kali. Meski kini aku menjadi salah satu dari mereka. Aku bersyukur sempat sempurna dengan segala hal pemberianNya. Dan kini aku justru semakin sempurna dengan pembelajaran dan pengertian dariNya.

Aku bersyukur karena memiliki segalanya. Hal – hal yang ada dalam seluruh hidup ini. Semuanya begitu sempurna.

Aku punya orang yang peduli dan sayang kepadaku. Mereka orang – orang baik yang  hadirnya menyempurnakan hidupku.

Allah memberikan aku ujian dan pembelajaran besar di waktu yang bersamaan. Pengertian dengan syukur yang sesungguhnya.

Menutup syukur, aku mencoba kembali membuka mata. Perlahan – lahan mata kiriku mulai dapat melihat sedikit. Aku kembali bisa melihat cahaya di sebelah pandang kiriku. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Mata kiriku mulai membuka, dan mencoba melihat normal. Namun, ada semacam selaput tipis yang menyeliputi permukaan matanya. Aku tak berani langsung memaksanya. Pelan – pelan aku mencoba menyentuh dan membersihkannya dengan tisu basah.


Alhamdulillah, alhamdulillah.

Beberapa hari berlalu dalam masa penyembuhan. Hari – hari dengan segala keterbatasan telah terlewati. Aku berangsur – angsur mulai kembali bisa melihat, badanku sudah tak lemas lagi. Aku mulai bisa berdiri dan beranjak mandiri keluar kamar. Hingga kini, penglihatanku telah kembali normal. Alhamdulillah.

Januari 2017, rasanya menjadi satu potongan pengalaman dalam hidup yang tak terlupakan bagi diri saya.

Bagaimana kehilangan sebelah mata memberikan pembelajaran tentang rasa syukur yang begitu sempurna.

Bagaimana kehilangan mengajarkan saya untuk merasa memiliki. Memiliki apa – apa yang telah ada dalam hidup saya. Memiliki apa – apa yang sesungguhnya telah membuat hidup saya lengkap sempurna.

Dan aku pun juga kembali mengucap syukur, telah diberi kesempatan kedua, untuk dapat melihat kembali semuanya secara jelas. Alhamdulillah.

Salam bahagia, jangan pernah lupa untuk bersyukur ya!

Jakarta, 1 Februari 2017

Rakun Kecil.

 

Iklan

41 pemikiran pada “Kehilangan Sebelah Mata

  1. Sempet deg2an pas baca dari bagian tengah menuju akhir, Alhamdulillah happy ending.

    Bersyukur dengan semua keadaan yang sudah terjadi dan sedang terjadi memang diharuskan ya…

    Alhamdulillah mas Toro sudah bisa melihat indahnya dunia lagi 😉

  2. alhamdulillah…udah nggak jadi bajak laut.Jadi bisa bajak yang lain.

    hihi jaga kesehatan Toro…
    Januari saya juga berkaitan dengan dokter mata, bedanya ceritanya belum kelar sampe saat ini…

  3. Duh, ngeri-ngeri gimana gitu baca postingan ini. Alhamdulillah matanya sudah sembuh Mas Toro. Semoga selalu sehat. Pengalamannya jadi pengingat kita semua supaya selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita punya. 🙂

    1. Hahah maaf ya mba ratiih kalau buat jd ngeri2 gmn gitu.. Hehe,

      Alhamdulilah ingin berbagi pengalaman aja mbaa untuk kita semuaa, mba Ratih jangan lupa bahagia dan bersyukur yaa, jaga kesehatan jugaaa ~😊😊😊

  4. pertama, Cinta ingin ketawa dulu sebentar, tolong ijinkan ya Toro 😂😂😂.
    Agaknya ini baru di tulisan Toro, apa Cinta yg jarang baca ya? *ga tau jg, eh 😅. Cara Toro menulis kali ini terasa lucu, hingga spanjang membaca ga kerasa sedihnya, malah selalu “ha ha ha” trs ga lama berselang muncul “ha ha ha” selanjutnya. Tipikal jenis tulisan yg bgni ini yg unik. Selamat saya suka artikel anda! 👏👏👏❤❤❤.

    Kedua, semoga lekas sembuh ya Toro, aamiin.

    Ketiga, Cinta balikin lagi ucapan Toro,…Toro jg ya, jgn lupa bahagia 😊

    1. Hihi makasih banyak mba Cintaaa~

      Boleh kok ketawa hahah, memang sengaja kali ini nulisnya kayak gini, niatnya supaya gak terlalu serem untuk pembaca hehe, yah maafkan kalau banyak garing2nya yaa heheh

      Dulu tulisanku model begini semua cintaa, terus lama2 kangen juga ngga nulis yg model begini 😆😆😂😂
      Alhamdulillah semoga menghibur yaa hehe

      Aamiin aamiin bnyak sekali doanya mba Cintaa, doa baik yg sama untuk cinta juga yaa, semoga sehat dan bahagia selaluuu~😊😊😊

  5. Tough banget deh mas Toro. Kalo aku pasti udah jejeritan plus ngeluh ini itu yg memancing ortu ku datang *aku anaknya haus perhatian. Hihi. Semoga matanya sehat2 selalu. Jangan sering kedip2 manja genit makanya 😄

  6. Keren, kuat banget mas. Awalnya dikira bakal permanen (amit-amit) ternyata alhamdullilah udah normal lagi. Pelajaran banget ini pengalamannya, semoga sehat terus mas toro, tulisannya keren-keren ditunggu banget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s