Ibuku

Seperti pada mula lahirku di dunia, Ibu, selalu jadi sosok yang pertama untukku dalam meniti langkah. Karenanya, tulisan pertamaku ini kutujukan padamu, Ibu.

Ibu usiamu tak lagi muda, beriringan dengan bertambahnya juga usiaku yang hendak menuju seperempat abad di tahun depan. Teman – temanku kini sudah banyak yang menjadi Ibu, begitu juga menjadi Ayah. Dari mereka, lahir buah hati yang begitu lucu dan manis. Wajahnya mirip benar dengan kedua orangtuanya. Mereka tak sungkan berbagi kebahagiaan titipanNya itu pada berbagai kesempatan. Aku pun tersenyum melihatnya Ibu…, karena aku jadi teringat dirimu.

Mungkin seperti itukah kali pertama dirimu melihatku terlahir dan bersandar di dalam dekap dadamu penuh haru. Melihatku merengek kali pertama, lalu engkau menenangkanku dengan belaian lembut di kepala. Tersenyum begitu bahagia melihat kelahiranku, seakan jadi penghapus perjuangan beratmu selama 9 bulan dan sekian waktu terakhir perjuangan hidup matimu sebagai awal mula untuk hidupku.


Ibu bahkan hingga sekarang dan ku tahu hingga nanti, kamu selalu menyayangiku. Memberikanku doa dan kasih sayang perhatianmu yang tak pernah terputus. Aku masih ingat, ketika engkau menyusuiku, memasakkan makanan dan menyuapiku, mencukur rambutku yang mulai panjang, memandikanku dengan air hangat yang telah kau siapkan sebelumnya, hingga memilihkan setiap helai pakaian yang kukenakan sehari – hari. Aku ingat, dan akan selalu ingat Ibu. Meski kini aku sudah bisa melakukan semuanya seorang diri. Begitu juga engkau pun masih saja, dan selalu, mengingatkanku lagi dan lagi akan semuanya.

Ibuku yang mengambil setiap rapor hasil belajarku selama masa pendidikan. Dari TK hingga lulus SMA. Ia orang pertama yang mendengar cerita langsung tentang perilaku dan prestasiku di bangku sekolahan. Juga orang pertama yang mengetahui segala kenakalan – kenakalanku waktu sekolah. Tapi engkau tak pernah sekalipun marah padaku, kamu hanya mengingatkanku lembut, mengulangi setiap kata pesan dari guruku tadi. Engkau mengajariku bahwa belajar itu banyak bentuknya, bukan hanya soal mata pelajaran, tetapi juga budi pekerti. Tentang tutur kata dan tindak – tanduk perilaku keseharianku. Ibu adalah guruku di sepanjang kelas hidupku.

Darimu aku belajar tentang arti bekerja keras, dalam baik dan tulusnya hati. Engkau selalu bangun paling awal di muka hari. Mempersiapkan segala sarapan untuk keluarga, juga bergegas melengkapi segala keperluan kerjamu. Engkau yang membangunkanku pelan ketika aku masih terlelap di atas kasur. Dengan suara lembutmu yang membuatku tenang memulai hari. Betapa rindu segala hadirmu di pagi hariku Ibu, kini di tanah rantau aku hanya bisa mendengar suaramu dari kejauhan lewat jaringan seluler. Tapi itu cukup membuatku semangat sepanjang hari bu…


Ada yang mengatakan, layaknya anak perempuan yang cenderung lebih dekat dengan Ayahnya, maka sebagai anak lelaki aku pun memiliki kecenderungan lebih dekat dengan Ibu. Ia selalu menjadi teman segala ceritaku, bahkan untuk hal – hal yang takut jika kuutarakan langsung ke Ayah. Terkadang Ibu lah yang jadi perantara diantara Ayah dan diriku. Begitu juga sebagai seorang istri, dan Ibu, ia tak pernah barang sekali mengeluh, atapun bertengkar dengan Ayahku.

Jika memang ada permasalahan, Ibuku lebih cenderung tenang  dan diam, tidak terlarut emosi, baru kemudian ketika air suasana tenang Ibuku mulai berkata, atau lebih seringnya kami yang dibuatnya tersadar pelan – pelan untuk menghentikan amarah dan kerasnya kepala. Ia tak pernah sekalipun terlihat mengotot akan suatu hal, baginya mendengarkan adalah cara terbaik untuk memulai penyampaian.

Ibu tak pernah mengeluh keluar rumah, jika ada sesuatu maka ia akan bercerita. Seringnya kepadaku, tidak ia sama sekali tidak pernah bercerita tentang berat hari – harinya ataupun masalah dengan Ayahku, ia hanya bercerita tentang pandang hidupnya. Bercerita yang lebih ke arah agar aku bisa mengerti mengapa hal yang demikian terjadi, pengertian tentang kehidupan dari hati seorang Ibu.

Memang terkadang ada juga hal – hal yang ia tak sampai hati untuk diutarakan kepada Ayah, karena Ibu tak ingin membebani Ayah, dari pikiran ataupun perasaan. Kali ini bergantian aku yang menjadi perantara diantara Ayah dan Ibuku. Demi Allah, aku belum pernah melihat sepasang suami istri yang begitu menjaga perasaan satu sama lainnya seperti kedua orangtuaku, Ayah dan Ibuku.

Ibu juga yang memberitahuku lembut, ketika Ayah sudah bertegas kepadaku. Adakalanya ego diriku yang masih muda tak sampai untuk memahami maksud baik dari Ayahku, namun Ibu selalu memiliki cara keibuannya untuk membuat anak – anaknya mengerti. Memahami maksud Ayahnya, melihat kasih sayang dari ketegasan seorang Ayah.


Pelajaran ramah, kuperoleh dari melihatnya di sepanjang hari. Ibuku begitu ramah kepada oranglain. Tak pernah berpikir seribu kali untuk berbagi ke sesama. Maka jikaku berusaha baik kepada oranglain, tak lain karena aku mengikuti Ibuku. Dan dari setiap tindakanku itu, ku selipkan doa, semoga oranglain juga selalu berbuat baik kepada Ibuku.

Ibu, aku tahu di sepertiga malam – malammu kau tak jarang terjaga. Sesekali aku diam – diam memperhatikanmu berdoa dalam tengadah. Mendengar sayup – sayup kalimat doamu yang berisak. Kamu mendoakan Ayah, mendoakanku, mendoakan adikku, mendoakan untuk kebahagiaan bersama. Tapi tak sekalimatpun kudengar doa untuk kebahagianmu sendiri ibu…

Aku ingin menangis, dan memelukmu dari belakang bu…, tapi aku tak sampai hati mengganggu khusyuknya doamu.


Ibu, kini anakmu telah mandiri. Berkat segala usaha yang tak luput pinta doa restu darimu. Tetapi aku, sungguh tetaplah anak lelaki kecil bagi dirimu. Dan engkau tetaplah sebagai Ibu tersayang bagiku.

Dari doamu sepanjang malam, Alhamdulillah sedikit demi sedikit Allah memberikan kita kecukupan. Kita yang selalu hidup sederhana kau sanggup mengasuh hingga kami dewasa. Kini izinkan aku sedikit demi sedikit juga membahagiakanmu Ibu.

Bukan sekali dua kali aku ingin mengajakmu dan keluarga ketempat yang tidak biasa, ataupun sekadar ingin membelikan barang keinginanmu, tetapi kamu justru menolaknya lembut. Katamu tak perlu yang begitu, cukup bersama – sama aja Ibu sudah senang. Ah Ibu, aku mengerti engkau tak ingin memberatkanku, tapi yang begini justru membuatku berat. Berat karena rasa sayangku padamu yang kian bertambah.

Kado kecilku untuk Ibu dan Ayahku adalah sebuah nazar untuk memberangkatkan kedua orangtuaku naik haji. Syukur Alhamdulillah, Allah izinkan padaku untuk menjalankan niat baikku itu. Ucapan terima kasih dan ciuman sayang Ibu, sungguh menjadi kado terbaik sepanjang hidupku. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Pelan – pelan aku mulai dapat berbagi kebahagiaan untuk Ibu dan Ayahku, meski ku tahu itu takkan pernah bisa membalas kebaikan mereka sepanjang hidupku. Di usia yang mulai menua, aku ingin Ibu dan Ayahku tidak perlu lagi berlelah – lelah kerja. Dan perlahan pula Allah memberikan jalan untuk kami sekeluarga. Kami memang bahagia karena hidup sederhana, namun bukan sederhana yang tidak melakukan apa – apa. Aku pun senang sedikit dapat membantu, berbagi kebahagiaan yang ku peroleh dari mereka, untuk mereka.


Seakan mengerti maksud hatiku, Ibuku pun berpesan padaku. Setelah membantu Ibu dan Ayah membangun rumah persinggahan di tempat yang baru, aku juga harus memikirkan kebahagiaan untukku sendiri, katanya. Oh Ibu, sungguh darimu aku belajar ini semua, darimu yang selalu mementingkan kebahagiaan keluarga di atas segalanya.

Tetapi engkau justru menatapku lekat, mendekatkan tubuhmu padaku, berujar dengan nada tulus yang menenangkan. Engkau sampaikan padaku agar nanti setelahnya, aku segera menikah. Engkau doakan padaku, agar bertemu dengannya, perempuan yang baik. Sayang padaku, pada keluargaku begitu juga demikian aku padanya. Aku hanya bisa mengangguk, meminta doa dan restumu kembali Ibu.

Kelak nanti aku juga akan memiliki Ibu dari anak – anakku, dan aku berdoa semoga aku bertemu yang sepertimu Ibu. Yang sayangnya begitu tulus dan baik untuk keluarga. Yang doa – doanya begitu lirih dan tanpa pamrih. Yang bersamanya kami dapat saling membahagiakan kedua orang tua kami, engkau, Ibu dan Ayahku, juga Ibu dan Ayahnya. Yang darinya terlahir anak – anak baik ilmu dan budi pekertinya, yang menyayangi kedua orangtuanya, seperti telah yang Ibu ajarkan padaku sebelumnya.

Ibu, sungguh aku akan selalu berusaha terus membuatmu bahagia, wahai perempuan yang paling kusayang.


Oh, oh, oh, ibu,
ada yang ingin kutanyakan padamu
Hasil panenan kemarau ini
sesubur panen yang kita petik bersama

Oh, oh, oh, ibu,
apa kabar sawah kita sepetak?
Masih bisakah kita tanami?
atau terendam ditelan zaman?

 Setelah cucumu lahir aku lebih faham
betapa beratnya
membesarkan dan setia melindungi
semua anak-anakmu

Kita yang s’lalu hidup sederhana
kau sanggup mengasuh hingga kami dewasa
Dengarkanlah nyanyian yang aku peruntukkan
buatmu, Ibu



Sumberfoto : Kompasiana.com

7 pemikiran pada “Ibuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s