Rumah Kosong

Sore saat perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, pandangku tertuju pada sebuah rumah di sisi kiri jalan. Rumahnya tak begitu megah, namun juga tak berukuran terlalu kecil. Sedang saja. Bangunannya kokoh nampak terawat dengan warna dasar krem dominan. Aku selalu suka melihatnya, terlebih ketika memandangi bunga – bunga dan tanaman hias yang terpelihara di halamannya.

Namun tak kutemui tanda – tanda ada keluarga yang tinggal di sana.

Hanya seorang lelaki paruh baya yang kala itu terlihat sedang duduk di pelataran rumahnya. Sesekali terlihat berdiri menyirami bunga ataupun sibuk memilahi dedaunan kering dari batang tubuh tanaman hiasnya. Mungkin karena ia mendapati aku yang tengah memperhatikannya, ia pun memanggilku. Mengajak berkenalan dan menanyai di mana tempatku tinggal. Aku tetangganya, lebih tepatnya lima jejeran rumah setelahnya.

Diajaknya aku duduk di kursi teras rumahnya. Sebelum duduk, aku sempat mencuri – curi pandang ke arah dalam rumah lewat jendela yang nampak sedikit gelap. Terlihat tertata rapi. Tergambar olehku bagaimana keseharian si Bapak menjaga dan merawat rumahnya ini.


Duduk di teras rumah miliknya ini seperti pemandangan baru untukku. Jika selama ini aku memandanginya dari luar, kini aku justru sedang duduk memandangi sisi terluar.

Ketika di luar, aku memandang rumah ini sebagai tempat yang bernuansa teduh, nyaman sebagaimana seharusnya tempat persinggahan.

Sedang ketika di dalam, aku melihat sisi luar nampak begitu ramai. Suara hilir mudik kendaraan dan orang yang berlalu lalang, terlihat begitu semrawut.

Dan untuk beberapa saat, aku merasa sunyi. Hanya gemericik suara air di kolam kecil milik si Bapak terdengar memecah keheningan.

Bapak ini banyak bercerita, rupanya kini ia tinggal sendirian. Anak – anaknya sudah pergi merantau di pulang seberang. Pulau rantauan yang justru jadi tempatku berpulang. Berulang kali aku memuji beliau yang begitu telaten merawat rumah berserta isinya. Beliau hanya tersenyum kecil, seakan itu hal biasa – biasa saja, bukan suatu hal yang perlu dibangga – banggakan baginya. Beliau hanya menerusi kebiasaan Alm. Ibu, ujarnya.

Aku baru mengerti, mungkin ini alasannya mengapa aku selama ini mengira rumah ini tak berpenghuni.


Arah cerita sang bapak pelan – pelan kuat mengarah ke cerita tentang Alm. Ibu. Diceritakan padaku bagaimana Alm. Ibu gemar sekali merawat tanaman dan menjaga rumahnya inii agar selalu nyaman untuk dihuni. Bapak bercerita sembari tertawa kecil dan tersenyum pendek, seakan sambil bercerita, sosok Alm. Ibu terbayang sedang di depan sana, menatap dirinya yang tengah bercerita.

“November.” kata si Bapak.

November nanti beliau harus pindah dari rumahnya ini, karena ikut dengan anaknya di Surabaya. Bila ku hitung, berarti tak tersisa sampai lima bulan kalau begitu. Mendengarkan kok aku mendadak merasa sedih. Merasakan bagaimana perasaan si Bapak harus meninggalkan semuanya.

Bodohnya aku pun masih saja bertanya padanya,

“Bapak nggak sayang rumahnya dijual?”

“Kalau dikatakan  sayang, bagaimanapun ya sayang dek… Namun sejak 2013 lalu, rasanya rumah ini sudah jadi rumah kosong tak berpenghuni.” Balasnya dengan suara memberat.

“Maksudnya bagaimana pak? Bapak nggak tinggal di sini sejak saat itu?”

“Bukan, Ibu meninggal empat tahun yang lalu, dan sejak saat itu rasanya rumah ini kosong dek.”

Dada ku menyesak. Perasaan seperti itu rasanya tak begitu asing di dadaku juga.


“Kenapa November pak?” aku kembali spontan bertanya begitu saja.

“Bapak dulu janji sama Ibu, 2010 silam. Ingin tinggal sama – sama Ibu- 6 tahun di sini.”  kemudian ia diam, tak ada tanda – tanda ada kalimat lanjutan.

Aku pun berpikir, enam tahun? Bukan harusnya tahun 2016 ya? gumamku dalam hati.

“Bukannya berarti tahun 2016 ya pak?” kusampaikan pertanyaanku.

“Iya. Bapak sudah tinggal sama Ibu tiga tahun di sini. Kemudian tiga tahun berikutnya tinggal sendiri di sini. Lantas apa itu berarti kamu bilang, bapak sudah tinggal enam tahun sama Ibu…?

… bapak masih mau tinggal sama Ibu.”  nada suaranya memelan, sehingga aku harus berusaha lebih untuk dapat mendengar kalimat terakhirnya ini.


Aku justru semakin bingung. Terdiam dan tak bisa menjawab pertanyaannya. Heran sendiri, menerka – nerka apa maksud kalimatnya. Agak lama aku melamun rupanya, hingga sayup – sayup terderang suara adzan berkumandang. Sudah waktunya berbuka rupanya.

“Alhamdulillah, sudah berbuka pak.” ujarku sambil tersenyum ke arahnya, hendak berpamit.

Beliau mengangguk, sembari menganggat tangan kanannya mempersilahkanku yang hendak beranjak pulang berbuka dan solat. Aku berpamit, karena juga tak ingin menganggu waktu berbuka miliknya. Berjalan pelan ke arah pagar, lalu menutupnya dari luar. Sebagai penutup, kulambaikan tangan kearahnya lagi, tanda berpamit dari kejauhan.

Baru beberapa langkah beranjak dari rumah itu, pundakku ditepuk dari belakang.


Mas Gani, ojek yang biasa mangkal di dekat rumahku rupanya.

“Darimana mas Nira? Ojek mas?”

“Oh makasih mas Gani. Aku baru dari rumah itu mas, tadi diajak masuk sama Bapaknya.” Ah, iya aku lupa menanyakan siapa nama bapaknya.

“Rumah yang itu?” ia  menunjuk tepat rumah yang tadi ku singgahi sejenak.

“Iya bener mas, barusan aja aku keluar.”

“Rumah Pak Willianto itu mas…” mas Gani memotong cepat.

“Ooh, namanya Pak Willianto ya mas…” ujarku mengingat nama si Bapak.

“Iya mas, Pak Willianto, tetapi setahuku beliau sudah meninggal setahun yang lalu mas. Dimakamkan anak – anaknya di Surabaya…”

“…”



Sumber gambar: gambar-rumah.com

8 pemikiran pada “Rumah Kosong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s