Kesalahan Terbesar

“Lagi? Ini udah yang keberapa kalinya?” tanyamu padaku. Pertanyaan yang terasa begitu menyudutkan.

“Hmm, mungkin sudah untuk yang ketiga kalinya.” Jawabku sambil menyeringai kecil.

“Siapa?” lanjutmu.

Pemilihan kata tanya yang aneh. Biasanya di saat seperti ini, orang – orang justru menggunakan kata “kenapa” bukannya “siapa” untuk bertanya. Ah, tapi itu untuk orang – orang yang biasa. Memang tak berlaku untukmu yang telah begitu mengenalku.

Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala pelan.

“Ya udah, tanpa kamu cerita aku udah tahu alasannya kok.” kamu memandangku dengan senyuman.

Aku pun dengan sendirinya ikut menarik garis lengkung itu di wajah, karenamu.


“Kamu lho yang selalu bilang, jangan pernah berhenti menulis. Lantas kenapa kamu justru malah ingin berhenti?”

“Aku nggak berhenti menulis kok. Nanti bulan Juni aku nulis lagi.” sanggahku pendek.

“Klise. Kamu selalu menyebut tenggat waktu sebagai alasan pelarian. Aku tahu, kamu bukan butuh waktu untuk “bisa” menulis. Tapi kamu butuh waktu untuk hati kamu…”

Kali ini pernyataannya tak bisa kubantah, jadi akupun lebih memilih diam. Mendengarkan kalimat lanjutan darinya.

“Aku ngerti, kamu selalu berusaha menulis pakai hati. Nulis yang manis – manis, ataupun yang sedih – sedih. Ya itu emang khas-nya tulisan – tulisan kamu…”

“Namun, nampaknya justru kamunya sendiri yang belum mengerti…”

Aku memandang wajahnya heran. Menyimaknya dengan rasa penasaran pada tiap kata yang meluncur dari bibir mungilnya.

“Kamu belum ngerti. Ketika kamu bersedia untuk jatuh cinta–menulis sepenuh hati, kamu pun juga harus bersedia patah hati karenanya (menulis-red).”

Aku tertegun.

“Mungkin aku bisa bilang, keputusanmu untuk menghapus semua tulisanmu itu kesalahan besar. Tapi pada akhirnya, kesalahan terbesarmu ialah ketika kamu justru berpikir untuk ingin berhenti menulis karena tulisanmu sendiri.”

Kamu mengusap pelan punggung tangan kiriku di atas meja. Lagi, kalimat terakhirmu itu ditutup dengan sebuah simpul senyuman. Tatap matamu begitu lekat dan hangat. Maksud hatimu telah sampai padaku dengan segala pengertiannya.


“Oke kalau gitu, kenalin aku Nira.” ujarku sembari menjulurkan tangan seolah mengajakknya berkenalan untuk pertama kalinya.

Seolah aku hendak memulai sesuatu dari awalnya.

“Apaan sih? Ha ha.” kamu tertawa.

 


Sumber Foto: Youtube.com

5 pemikiran pada “Kesalahan Terbesar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s