Mengeja Bahagia

Sekitar pukul 15.00 WIB siang menjelang sore hari, seorang anak lelaki kecil berjalan mengendap – ngendap. Dia sedikit berjinjit supaya bisa celingukan dari pinggiran meja di dekat dapur rumahnya. Maklum, tingginya bahkan belum sampai sepinggang orang dewasa. Mata kecil cokelatnya menoleh kanan – kiri, mengawasi suasana sekitar.

 “Aman…, nggak ada orang.” gumamnya dalam hati.

Langkah kecilnya mengarah pada sebuah lemari tempat di mana semua makanan ringan tersimpan. Perlahan ia menarik laci paling teratas. Tangannya berusaha menggapai sembarang isi laci, mencoba meraba sesuatu. Setelah dirasa cocok dengan apa yang ia cari, segera diambilnya sebungkus makanan itu. Menutup cepat laci tadi, kemudian bergegas lari ke arah kamarnya.

Ia senang bukan main. Sebungkus permen jelly bermerk Yupi telah berada digenggaman kedua tangannya. Dibukanya bungkus permen itu, lalu satu persatu permen kenyal itu ia lumat dengan bibir dan gigitan gigi mungilnya. Tiba – tiba ia teringat adik perempuannya. Ia pun segera menuju kamar adiknya. Di dekatinya sang adik yang sedang bermain dengan boneka – boneka barbienya. Disodorkannya sebungkus permen jelly manis tadi ke arah adiknya. Maksudnya agar si adik mengambil sendiri permen yang dimau. Semburat wajah senang pun juga muncul dari wajah adiknya. Ia pun membantu membukakan bungkus permennya agar si adik dapat makan permennya. Mereka makan berdua, senang bersama – sama.

Sore itu, mungkin tak ada pemandangan yang lebih manis selain melihat kedua anak kecil bergumul makan permen jelly berdua.

Hingga beberapa saat berlalu, situasi gembira tadi pun berubah. Ibunya, masuk ke dalam kamar. Mendapati ia masih menggenggam dan mengunyah permen yang ia ambil diam – diam. Kaget. Jantungnya berdegup kencang.

“Mati… aku ketahuan!” serunya dalam hati.

Beberapa saat kemudian ia pun dimarahi Ibunya karena “mencuri”. Mengambil barang yang bukan peruntukkannya. Permen tadi adalah milik Mba Remy, kakak sepupunya. Adiknya tak tahu apa – apa, masih saja mengunyah permen yang ada di mulutnya. Tetapi lain halnya dengan dirinya. Lelaki kecil ini berdiri menunduk, menatap aluran pada lantai keramik rumahnya yang ia pijak. Genggaman tangan pada bungkus permen itu mengulai. Ia letakkan pelan sebungkus permen itu di dekat kakinya, sembari tetap menunduk mendengar Ibunya yang menegurnya keras. Setitik, dua titik air mata jatuh di pipi mungilnya. Jatuhnya hingga ke lantai, membuat bulatan – bulatan air kecil di sekitar kakinya.

“Ngga usah nangis, ayo sekarang kamu kembaliin permennya. Nanti minta maaf sama mba Remy kamu udah ngambil permennya. Lain kali nggak boleh ya ambil barang kepunyaan orang lain…” kata Ibunya.

Sambil sesenggukan ia melangkah pelan kembali menuju laci meja tempat asal mula permennya tadi. Dikembalikannya apa yang memang bukan miliknya, meski dalam hati ia masih ingin menikmatinya. Belum selesai sampai di sana. Langkahnya masih berlanjut di lorong rumah menuju kamar sepupunya, Mba Remy. Diketuknya pelan pintu kamar sepupunya itu. Suaranya parau memanggil nama kakak sepupunya.

“Mba… mbaa re…my..” panggilnya.

“Iyaaa, kenapa Niraaa? Tunggu sebentar yaa.” Sahut Mba Remy dari dalam kamar.

Tidak lama, pintu kamar terbuka dan Mba Remy bingung mendapati sepupu kecilnya menangis sesenggukan.

“Lho kenapa kamu nangiis?” tanya-nya lembut.

“Mmm… Mbaa Remy… maafin Nira yaa… hik..hik..” sedih bukan main rasa di dadanya kala itu.

“Maaf kenapaa niraa?” Mba Remy kebingungan.

“A…aku tadi ngambil permennya Mbaa, ngga bilang – bilang… Aku makan juga kubagi sama Erna…” ia pun takut juga dimarahi untuk kedua kalinya. Sedari tadi ia masih menunduk, sembari mengusap sendiri butiran air di sudut pelupuk matanya.

“Eeeh… ya udah nggak usah nangis gitu.. nggak apa kok. Mba maafin, cup – cuuup.”

Kedua tangan mungilnya diraih kakak sepupunya itu. Ditangkupkan kedua tangan mungilnya itu pada telapak tangannnya yang lembut. Diusap pelan air mata yang membasahi wajah lelaki kecil itu. Sembari diujarkannya pelan,

“Mba seneng Nira udah berani jujur ngga bohong – bohong, besok kalau mau kakak beliin ya permennya, senyum doong…”

“Beneran mbaaa?? Makasih ya mbaaa…”

“Mmm, beneraan… Nanti mba beliin dua, buat kamu sama Erna yaa.” Jawab Mba Remy sembari menggangguk dengan senyuman.

“Waaa… Mba Remy baik banget, makasih mbaaa….”

Senyum lepasnya mengembang manis dari wajah kecilnya. Dipeluknya erat kakak sepupunya yang tengah duduk rendah di hadapannya. Hati lelaki kecil ini tiba – tiba diselimuti rasa hangat. Ia senang tidak dimarahi mbaknya, lebih – lebih ia pun senang karena justru akan dibelikan permen untuk ia dan adiknya.


Sepenggal kisah tadi jadi pembuka jendela pemahaman diriku tentang bagaimana mengeja bahagia. Seperti pada dasar suku katanya, BAHAGIA, ia terdiri tadi kumpulan huruf yang pada akhirnya memberi makna sebagai ungkapan rasa kegembiraan di dalam hati. Satu kata singkat yang justru begitu sulit untuk ditemukan oleh banyak orang di dalam hidup ini. Dan lelaki tadi telah beruntung menemukan potong ejaan bahagianya sedari kecil, yang masih ia rapal dengan terbata – bata hingga dewasa kini.


Bahagia itu punya cara baiknya.

Setiap orang punya ingin bahagianya masing – masing. Punya harapan dan impian untuk dirinya sendiri. Aku ingin A, ingin B, C, dan seterusnya. Dan jalan menuju A, B, dan seterusnya tadi begitu banyak pula terhampar di hadapan kita. Lelaki kecil tadi memutuskan untuk mencuri diam – diam ketimbang meminta terus terang pada si pemilik permennya. Ia juga tak punya cukup uang untuk membelinya sendiri.

Ada keterbatasan juga ada batasan yang ia ciptakan sendiri. Mungkin, sekali uang jajannya memang tak akan cukup untuk dibelikan sebungkus besar permen kala itu. Ia bisa saja menabung untuk memperoleh sebungkus permennya sendiri, tapi ia tidak sampai akal atau justru memang enggan berpikir ke sana. Dalam benaknya hanya tersirat jalan pintas peroleh kebahagiaannya, lupa kalau jalan yang buruk akan menjejakannya pada tempat tujuan yang buruk pula.

Ia memang memperoleh sebungkus permen yang diinginkannya. Merasakan manis beberapa bungkus kecil permen dari kunyahnya. Tapi itu singkat. Sedang balasan tindak buruknya hadir berturut – turut setelahnya. Ia ditegur ibunya, harus mengakui kesalahannya pada oranglain yakni kakak sepupunya. Ia telah melabeli dirinya sendiri dengan sebutan pencuri, hanya karena sebungkus bahagia yang dia peroleh dengan cara yang keliru. Hasilnya ia tidak dapat apa – apa. Karena apa yang dimilikinya, ia peroleh dengan cara – cara yang tidak pantas pula.

Tetapi meski begitu, jejak kaki yang buruk tak selamanya tenggelam di sana. Ia masih bisa mengangkat kedua kakinya, menguatkan dan memberanikan hati berganti arah. Menjejak ke arah baik yang seharusnya. Jujur dan berterus terang apa adanya memang terasa seperti menelanjangi diri sendiri ketika sudah berjibaku dengan segala kotoran. Tetapi justru di sana intinya, karena jujur seluruh noda buruk hati kita tertanggal karenanya, luruh perlahan karena hati kita juga inginkan hal tulus yang baik. Dan hati yang baik akan menemukan jalannya sendiri.

Tulus hati seseorang dapat terpancar dari tutur kata dan tindak tanduknya. Kejujuran lelaki kecil tadi yang meluluhkan hati sepupunya, yang bisa saja marah karena barang miliknya diambil tanpa sepengetahuannya. Nyata tidak, niat dan keyakinan baik itu justru disambut dengan baik pula oleh sepupunya. Bahkan ia mendapatkan kebahagiaan lebih. Dibelikan dua bungkus permen, untuk dirinya dan juga adiknya. Ia bahagia karena cara baiknya berbahagia.


Bahagia itu milik diri sendiri

Seseorang menjadi bahagia karena ia bisa memiliki suatu kesenangannya. Kita tidak bisa bahagia karena kepunyaaan oranglain. Ini hal yang berbeda dengan rasa ketika kita bahagia jika oranglain bahagia. Kita tidak bisa merasakan senangnya menaiki mobil jika tak pernah punya mobil, ataupun menumpang naik di dalam mobil. Bagaimanapun kita harus merasakan dan memiliki rasa bahagianya itu sendiri.

Lelaki kecil tadi takkan pernah merasakan manisnya permen jelly tadi jika tidak mengunyahnya sendiri. Karena itu padanya timbul perasaan ingin memiliki. Namun sayangnya perasaan ini lebih sering membuat kita buta, seolah lupa bahwa juga ada kenyataan bahagia itu mungkin adalah milik oranglain. Yang ada dibenak lelaki kecil tadi hanya keinginan memiliki permen itu, meskipun ia tahu itu bukan miliknya. Ia buta dan menjadi sakit karenanya.

Pada akhirnya ia tidak memiliki apa – apa. Ia kembalikan permen tadi pada tempatnya, karena memang itu bukan miliknya. Sedih bukan main karena ia melepas bahagianya, padahal bahagianya itu milik oranglain. Tetapi hal yang berikutnya membuat semuanya menjadi berbeda. Dari kebaikannya ia dijanjikan akan diberikan sebungkus permen untuk dirinya. Ia senang bukan main, mendengar kata – kata dibelikan permen untuknya. Padahal itu masih dalam bentuk kata – kata, tetapi itulah kebahagiaan, perasaan gembira dalam hati karena telah memiliki kepunyaan sendiri. Berbeda, tak pernah sama rasanya dengan bahagia karena mengambil hak milik oranglain. Ia bahagia karena bersyukur atas karunia, dan usaha miliknya sendiri.


Bahagia itu menjaga kebaikanya.

Hal yang baik adalah hal yang terjaga bentuk dan nilainya. Ketika kita menginginkan suatu hal sudah pasti kita menginginkan hal tersebut dalam keadaan terbaiknya. Tak mungkin orang yang menginginkan rumah yang indah merasa bahagia jika mendapati rumah keinginannya runtuh menjadi kepingan puing – puing. Karena di sana ada yang hilang, ada yang tak terjaga, bentuk dan nilainya.

Begitu juga kebahagiaan, ia dapat hilang karena kita tidak menjaganya dengan baik. Masih ingat betapa bahagianya lelaki kecil tadi menikmati permen manisnya bersama sang adik? Bahagia sekali rasanya saat itu, tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama. Ia bahagia karena merasa bisa berbagi dengan adiknya. Namun sayang, itu tidak berlangsung lama. Karena kebaikannya tercoreng sebab ulah perolehannya yang kurang baik. Kebahagiaan itupun harus hilang, harus ia kembalikan permen “curiannya” itu, sebab ulah dirinya yang tidak bisa menjaga kebaikan perbuatannya.

Berikutnya ia mengikuti pesan baik dari Ibunya, untuk mengembalikan dan berkata jujur mengakui kesalahan perbuatannya. Memilih untuk menjaga kebaikan dirinya, hingga pada akhirnya dari kebaikan yang ia usaha jaga itulah lahir buah manis kebahagiaan. Oranglain dapat pula melihat dirinya berusaha menjaga kebaikan, lantas padanya timbul pula rasa ingin melestarikan kebaikan itu dengan berbagi kebahagiaan lewat kebaikan. Diberikannya dua buah bungkus permen sebagai hadiah manis untuk si lelaki kecil. Ia pun memperoleh bahagia karena telah menjaga kebaikan dirinya.


Bahagia itu serupa besaran keinginan.

Ada orang yang terbiasa atau membiasakan rasa inginnya yang kecil, sehingga ia akan merasa bahagia dan cukup pada hal yang kecil – kecil. Adapula yang pada dirinya terbiasa hidup gelora keinginan yang besar, harapan yang tinggi, oleh karena dari hal yang besar itu pula ia baru merasa bahagia. Tiap orang punya rasa inginnya masing – masing, dan bahagia darinya dengan tingkatannya masing – masing pula.

Yang bahagia dengan pencapaian besar merasa bahagia karena dari inginnya yang besar pastilah ia telah berusaha sekian besar juga hingga berhasil meraih kebahagiaannya itu. Yang bahagia dengan hal kecil, bukan berarti tak berupaya besar, justru ia terbiasa membesarkan hatinya untuk hidup penuh dengar rasa syukur pada tiap hal yang hadir di hidupnya. Ada yang bahagia ketika bisa berwisata keliling dunia, ada pula yang merasa begitu bahagia hanya dengan pulang bertemu orang – orang tersayangnya di rumah. Mereka punya bahagia dan inginnya masing – masing, mereka berbeda, tetapi tetap memiliki hal yang sama. Keduanya memiliki satu tuju yang diinginkan hatinya.

Lelaki kecil tadi merasa bahagia hanya sekadar ingin menikmati permen jelly yang manis. Inginnya nampak begitu kecil jika kita melihatnya sebagai seorang dewasa, bayangkan ia hanya ingin makan manisan permen. Tetapi baginya permen itu adalah bahagianya, sesederhana itu.

Berangkat dari rasa inginnya itu, ia meniatkan dirinya mengendap – ngendap. Meski lemari itu lebih tinggi darinya, ia masih saja berusaha menggapai – gapai isi di dalam laci. Semua karena inginnya. Pun setelah beroleh apa yang diinginkannya, padanya timbul rasa ingin yang lain. Ia beranjak menuju kamar adiknya, ingin berbagi padanya jua. Karena baginya berbagi, menikmati bersama adik tersayangnya juga bahagia tersendiri baginya.

Sampai ketika Ibunya datang menegurnya, ia merasa sedih. Menangis dibuatnya. Bukan lantaran ia tak bisa lagi makan permen – permennya. Ia bisa saja tetap makan permennya meski Ibunya terus mengomel. Tetapi ia malah sedih, tertunduk meratap lantai. Sebab ia malu dan sedih, karena ia ingin menjadi anak  yang baik tetapi mengapa begini jadinya. Karena ia ingin ibunya tak marah padanya, ia tentu saja lebih senang ketika Ibunya sayang padanya. Dan karena rasa ingin lainnya yang lebih besar itu, ia pun mengikuti nasihat Ibunya. Baginya sayang dan lemah lembut dari Ibu adalah bahagia ternyaman dalam hidupnya.

Seberapapun rasa inginnya melahap manisan permen itu akhirnya disurutkan juga. Dikembalikannya permen itu pada tempatnya. Juga mengaku atas kesalahannya. Padahal di awal tadi kita tahu ia begitu ingin makan permen itu, kenapa sebab? Sebab ia punya ingin lain yang lebih besar tadi. Dalam hatinya ia begitu ingin Ibunya tak marah dan kecewa, karena dari besarnya rasa ingin itu–ia tahu, tak ada yang lebih bahagia selain dalam manisnya naungan cinta ibunda tercinta. Ia bahagia dalam besaran rasa inginnya, dan karena dirinya memang telah bertemu keinginan untuk bahagia.


Bahagia itu berlipat sebab “dari” dan untuk oranglain.

Awalnya pikiran bahagia pasti selalu terpusat pada pencapaian diri sendiri. Merasa senang ketika diri merasa bisa mendapatkan atau memperoleh sesuatu. Seringkali lupa pencapaiannya itupun pasti ada campur tangan oranglain di perjalanannya. Baik orang yang membantu, memperoleh hadiah darinya, atau bahkan karena orang yang dikalahkannya sebab dari orang yang kalah ia pun merasakan bahagia kemenangan bukan?

Lelaki kecil tadi begitu bahagia ketika berhasil mendapatkan permen idamannya. Bahagia yang sesungguhnya tak baik karena hasil mencuri tapi ini juga membuktikan ia bahagia karena oranglain—perolehan dari barang yang oranglain sediakan. Jika tak ada apa – apa, atau  terlebih tak ada siapa – siapa lantas apa yang hendak kita kejar/cari untuk jadi sebuah bahagia? Bahagia itu dari. Dari, kata yang memiliki makna pemberian. Atas yang punya, atas yang memiliki. Karena bahagia itu diperoleh. Sekalipun datangnya dari diri sendiri, karena dirinya sendirilah yang mengizinkan hatinya untuk memperoleh rasa bahagia.

Kemudian lelaki kecil tadi bertambah bahagia lagi ketika menikmatinya bersama sang adik. Ia bisa saja makan sendirian di dalam kamar, tapi baginya bahagia tidak begitu rasanya. Tidaklah bahagia jika sendirian. Menurut hitungan matematika, jelasnya ia merugi sebab misalnya harusnya ia dapat menikmati 5 permen, ia jadi hanya menikmati 2 permen sedang 3 lainnya ia berikan ke adiknya. Tapi dari pemberiannya tadi ia memperoleh rasa lain yang menyenangkan, bahagia tersendiri yang berbeda dengan rasa bahagia menikmati permen sendiri.

Melihat adiknya tertawa dan ikut lahap makan dengannya itu rasanya menyenangkan, sebab darinya ia merasa dapat menyayangi oranglain. Bahagianya baginya, telah berangkat dari sebuah kata “dari” dan telah ia tambah pula kebahagiannya dengan cara berbagi untuk oranglain. Yang mana “dari” berbaginya itu timbul lagi rasa bahagia melihat oranglain bahagia.


Bahagia itu belajar dalam hati untuk selalu mengejanya pada tiap bagian hidup.

Kini lelaki itu bisa makan berapapun permen manisan yang ia inginkan, dan harga permen itu kini tidak lah begitu mahal baginya. Justru kisahnya di waktu lalu lah yang telah menjadi bagian kebahagiaan hidup yang tak ternilai harganya. Sembilan belas tahun lamanya kisah tadi telah melekat dalam benak lelaki itu. Masih dan selalu menjadi pelajaran dan pengingat jalan hidupnya.

Satu bagian kisah tadi hanyalah seumpama huruf dari rangkaian kata bahagia di dalam hidup. Masih terlalu panjang dan terlalu sombong jika ku katakan ia telah lancar mengucap bahagia. Ejaannya masih terbata, masih sering kali keliru dan tergelincir tutur – tindaknya.

Layaknya anak lelaki yang baru belajar mengenal kata. Maka ia akan menghabiskan waktunya untuk mengeja, mengulangi huruf demi huruf, hingga dapat berujar lepas BAHAGIA.

Ia mungkin baru saja bisa mengeja BA, tetapi masih ada HA, dan adapula GIA di depan sana. Masih terlalu panjang perjalanan hidup untuk mengatakan dirinya telah bisa berkata BAHAGIA.

Tetapi dari belajar mengeja bahagia ini, ia telah belajar suatu bunyi.

Bunyi yang letaknya sungguh tak pernah jauh dari diri.

Ucapan syukur; Alhamdulillah, bahwa dari-Nya, hingga kini ia pun masih diberi kesempatan untuk dapat tetap mengeja dan mengenal kata bahagia.


 

” All I did was fail today
All I wanna be is whites in waves. “


Tulisan ini sebenarnya dibuat karena ingin berbagi kisah pada giveaway Mengeja Bahagia yang diadakan oleh Mas Slamet Parmanto dan Mba Riafa Roazah pada tanggal 12 Juni – 2 July 2017 lalu, namun baru sempat terpublish. Pada akhirnya tulisan ini hanyalah bentuk bagaimana saya ingin berbagi tentang kisah belajar mengeja bahagia dari sembilan belas tahun yang lalu.  #MengejaBahagia #MaknaBahagia #Obrolin


Sumber foto: Pinterest.com (happiness. by Ayan Villafuerte)

19 pemikiran pada “Mengeja Bahagia

  1. Another mengeja bahagia dari sudut pandang yang unik dan istimewa. Baca tulisannya sambil dengerin musiknya asyik banget kak Nira 😊
    Kisah masa kecil yang menurut orang biasa saja, bisa begitu berbekas dan bernilai untuk diri kita sendiri sampai dewasa ya kak 😳
    Mau dong dikasih permen yupi 😦

    Suka

    1. kejadian atau peristiwa itu tidak mempunyai arti apapun. dia punya arti ketika manusia mengartikannya dan itu adalah pilihannya…

      *sodorin yupi ke ziza

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s