Simpul Pertama

Juni lalu alhamdulillah akhirnya aku mendapat restu dari keluarga. Dari Ayah dan Ibu, begitu juga dari Nenek ku tersayang. Mereka telah mengizinkanku untuk menikah, bersama dengan seorang perempuan, kelak. Insya Allah, jika Allah mengizinkan jalan cerita ini pasti indah, aku percaya.


Jalan ceritanya unik, dimulai dari percakapan singkat di beberapa waktu yang lalu antara aku dan teman – teman. Kala itu aku banyak bertanya perihal perempuan, tentang bagaimana berkenalan hingga pada tahapan bagaimana hati memutuskan untuk melamarnya. Pertanyaan yang nampaknya mengejutkan mereka, karena tidak menduga aku tiba – tiba bertanya hal yang demikian.

“Kalau kamu kenalan sama cewe, jangan langsung bilang kamu PNS, apalagi pegawai pajak Nir…” ujar salah seorang temanku yang disertai anggukan teman – teman.

“Lho, kenapa emangnya? Aku bilangnya apa dong?” tanyaku heran.

“Ya janganlah, diem – diem aja, liat dulu orangnya gimana.” jawabnya lagi sambil cengengesan sok keren.

“Hmm, gitu yaa?” aku menjawabnya dengan ragu – ragu, tapi ikut ketawa juga.

Ketika pulang kerja, aku pun berpikir. Jikalau nanti seorang gadis bertanya kepada aku tentang mata pencaharian aku, aku harus mengaku apa ya? Hmm.

Tiba – tiba aku teringat dengan istilah pekerjaanku. Acap kali dalam beberapa kesempatan, orang menyebut aku sebagai orang yang “menjahit data” (bagaimana aku mengolah data – data angka menjadi sebuah informasi runut yang dapat dimanfaatkan rekan – rekan lain). Oh iya, kalau begitu aku akan mengaku sebagai penjahit saja! Nah, kalau begitu aku kan tidak berbohong, he he  (sembari senyum – senyum sendiri menatap langit).

Dan pada waktunya, aku pun bertemu dengan dirinya, Audya.


Kepadanya aku hendak mengaku sebagai seorang penjahit.

Tapi ternyata semuanya justru berbalik dengan lucu.

Ternyata Ia justru seorang gadis yang begitu pandai merajut. Bahkan dahulu di tengah kesibukannya kuliah ia membagi waktunya untuk menciptakan usaha sendiri, ia berjualan hijab buah hasil tangannya sendiri, dan ternyata hasilnya pun membuat aku semakin berdecak kagum padanya. Ia dapat memenuhi sederet impian – impiannya dari jerih payah usahanya sendiri.

Dan ternyata, ia justru datang dari lingkungan yang serupa denganku. Sama – sama PNS, sama – sama kementrian keuangan, dan sama – sama pegawai DJP. Aku pun diam – diam tersenyum dalam hati.

Sejujurnya, aku telah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mendekati perempuan bila mana aku belum mendapat restu menikah. Karena aku khawatir aku belum mampu menyimpul tuntas rajutan cerita. Dan aku khawatir, jika harus melihat lagi orang lain yang harus menyimpulkannya di depan aku.

Karenanya beranjak dari kejujuran pula, aku berujar terus terang kepadanya. Perihal hati dan maksud rencana perasaan aku padanya.

Kurasa ia kaget mendengarku tiba – tiba berujar seperti itu kepadanya. Takut, bingung, khawatir dan sekelumit emosi serupa lainnya kurasa ada padanya saat itu. Aku pun mengerti, memberinya ruang tanpa merasa perlu mendesaknya. Aku telah menentukan pilihan, dan ia pun berhak dengan jawab pilihannya sendiri.


Hadiah kecil yang takkan terlupa

#1

Pada kesempatan lalu aku mengetahui keadaannya yang kurang sehat. Melihatnya begitu entah mengapa membuat rasa khawatir di dalam dada. Ada rasa perhatian yang ingin aku berikan kepadanya. Waktu itu aku hendak dinas berangkat ke luar kota, ada penerbangan di sore hari. Dan aku belum packing barang – barang bawaan sepenuhnya hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah dahulu.

Di tengah perjalanan, aku kembali mengingat keadaan dirinya. Ada baiknya aku mampir dahulu ke Apotek terdekat. Sebelumnya aku telah bertanya padanya, ia biasa minum obat yang bagaimana, karena aku sendiri jujur tak begitu paham tentang kesehatan. Berbekal sedikit informasi, aku membelokan kendaraan ke arah sebuah apotek di tengah hujan yang cukup deras. Aku masuk dengan keadaan sedikit basah, mba – mba penjaga apoteknya pun melihatku dengan sedikit kaget. Karena pakaiannya rapih tapi kok basah – basahan, he he.

Ku ambil beberapa obat dan vitamin, kemudian menuju ke kasir. Setelah melakukan pembayaran, seperti biasanya, mbanya mengucapkan kalimat penutup;

“Terima Kasih, semoga lekas sembuh…” katanya sembari tersenyum.

Aku pun menjawabnya cepat,

“He he bukan saya yang sakit sih mba, tapi doain orangnya cepet sembuh ya mbaa…” jawabku malu.

“Ha ha iya mas, semoga lekas sembuh untuk yang sakit yaa” jawab mba kasirnya sembari tertawa kecil.

Lalu aku pun bergegas untuk menuju kantornya.

Sesampainya di sana, aku memberikan obat itu diam – diam. Rasanya malu ketika tiba – tiba datang harus berkata, “Ini obat untukmu, lekas sembuh yaa…” di depan teman – temannya. Jadi aku memilih mendekatinya pelan, dan ketika sudah berdua, ku sodorkan padanya, “Ini diminum yaa…” ujarku lirih, sembari menahan degup jantung yang berdetak tak karuan.

Ia pun mengucapkan terima kasih, dan meminumnya di depanku. Manis sekali melihatnya. Rasanya senang sekali saat itu, melihat seseorang yang kita perhatikan dapat menerima perhatian kita. Tak sampai lama aku pun berpamit kepadanya, untuk kembali menuju rumah, melanjut packing dan segera terbang, jauh mencipta rindu lagi.

Sesampai di tempat dinas ternyata aku justru malah merasa tidak enak badan juga. Kepalaku berat dan terasa pusing, mungkin karena hujan – hujanan tadi. Beruntung aku pun telah membeli obatnya lebih, sehingga aku pun pada akhirnya meminum obat yang sama dengan yang diminumnya tadi. Dan ternyata mba – mba kasir itu benar, kalimat semoga lekas sembuhnya itu pada akhirnya untuk dia dan aku juga he he. Semoga kamu pun lekas sembuh ya di sana…


#2

Di lain waktu, pada hari yang begitu padat aku lagi – lagi tak sempat serapan. Setelah meminum segelas teh hangat biasanya aku langsung berangkat ke tempat kerja. Dan pada hari itu aku langsung siap mengerjakan tugas, bolak – balik lantai satu-dua-tiga karena berulang kali dicari. Hingga setelah menaruh tas di meja kerja tadi, aku belum sempat sekalipun kembali ke meja kerja.

Pikiran dan benakku melayang – layang pada bayang tugas yang menyusul di kota seberang, lagi. Setelah usai menyelesaikan tugas di lantai lainnya dan selesai membahas materi dengan para atasan, akupun kembali ke meja kerjaku di satu lantai ke bawah. Betapa terkejutnya aku ketika ku dapati di meja kerjaku sebuah titipan makanan kecil dengan sebuah pesan di atasnya.

Aih, rupanya ia telah baik hati memperhatikanku. Aku pun tersenyum – senyum sendiri di meja kerjaku. Rasanya begitu bahagia mendapati seseorang memberikan perhatiannya kepadamu.

Aku pun berpamit padanya;

“Makasih yaa, ini nanti ku bawa ke Balikpapan :3” ujarku.

“Aku mau ikut juga ke Balikpapaan, ajak akunya dong…” rayunya manja.

“He he iya kapan – kapan yaa, atau mau masuk koperku kayak Yuri?” tanyaku bercanda, karena waktu lalu ia mengirimi video keponakannya yang tidur di koper miliknya. Kami pun tertawa bersama.

Sesampainya di kota tempat bertugas, dan singgah di hotel. Akupun langsung membuka titipan makanan darinya. Baru pertama kali aku mencoba makan itu. Dan baru pertama kali pula, aku dibawakan bekal saat bertugas he he. Senang rasanya. Aku merasa hangat, bukan hanya lantaran makanan itu kuseduh dengan air hangat, namun juga karena aku kembali diliputi rasa hangatnya perhatian.


#3

Dini hari pada kamis yang lalu, aku kembali mendapati tugas ke luar kota. Aku dijadwalkan terbang pada waktu shubuh, sekitar jam 5 pagi harus sudah boarding ke pesawat. Malamnya aku sempat ada acara makan – makan dengan teman, dan masih menyelesaikan tugas yang belum selesai begitu sampai di rumah. Sehingga tidurku agak larut malam, aku pun lupa belum packing dan lupa pula menyetting alarm untuk bangun pagi siap – siap ke bandara. Alarmku biasanya pas di jam  5. Maka sudah bisa diduga aku akan terlambat bangun, ketinggalan pesawat, dan ketinggalan rapat di sana. Buyar semua.

Tapi nyatanya yang terjadi justru lain. Allah begitu baik merencanakan takdirnya. Pagi itu sekitar pukul 04.00 seorang perempuan menelfonku. Membangunkanku lembut dari tidurku yang lelap. Aku kaget dan bersyukur betul mendapati ia menelfonku. Terlebih ternyata ia menelfonku karena memang mengingat diriku yang akan berangkat di pagi ini. Alhamdulillah. Aku segera bergegas mempersiapkan diri dan barang bawaan. Aku tak jadi ketinggalan pesawat, semua rencana dan tugasku pun berjalan dengan lancar. Semua karena dirinya. Perhatian kecil darinya yang artinya begitu besar untukku.

Katanya; ketika aku menolong orang, Allah pasti kirimkan orang juga untuk menolong diriku, jadi jangan lelah untuk menolong orang. Alhamdulillah.

Pada hari itu aku berulang kali mengucap terima kasih padanya, sampai mungkin membuatnya terheran mengapa hanya karena hal yang demikian aku sebegitu terima kasihnya. Mungkin ia tak pernah tahu, bahwa dari sebuah telfon darinya aku pun dapat meneruskan sekian kebaikan berikutnya pada tugasku. Sungguh aku benar – benar merasa sebagai orang yang paling beruntung saat itu. Beruntung karena semuanya berjalan pada takdir baikNya, beruntung juga karena aku diperkenalkan dengan dirinya lewat segala cara dan rencana baikNya.


#4

Tanda pengenal pegawaiku hilang, mungkin tertinggal di salah satu hotel tempat ku menginap di waktu lalu. Aku pun bingung, karena nametag cadangan milikku pun kujadikan satu tempat dengan nametag utamaku yang baru, kesalahan besar karena belum sempat ku pisah. Bagaimana ini ketika aku harus menghadiri rapat para eselon yang pastinya tidak sopan jika aku berpakaian tidak lengkap (gumamku sendiri).

Melihatku yang bingung, uring – uringan ia pun menegurku.

“Ini nametagku  hilang, gimana ya besok?” aku bertanya karena bingung, bukan mencari jawaban.

“Pinjam aja nih punya ku..” ia menyodorkan tanda pengenal miliknya padaku.

“Eh yang bener?” aku shok tidak percaya. Ku terima nametag kalungnya sembari ku lepas tanda pengenal yang ada foto miliknya.

“Lho nggak usah dilepas, biarin aja jadi pemberat di kantungnya mas.” pungkasnya pendek.

“Eh, ngga apa emangnya aku bawa begini? Ha ha” aku tertawa juga, karena cowo kok nametagnya bergambar foto cewe cantik.

“Ha ha iyaa, ngga apa kook…” ia menganggung dengan senyuman manis.

Aku pun membawanya saat bertugas keluar kota. Sembari sesekali aku tersenyum melihat ke arah foto miliknya yang kusimpan pada kantung di dada. Terima kasih ya, ucapku lembut pada fotonya, seolah ucapan itu tersampaikan pada dirinya jauh di sana.

Semuanya berjalan lancar hingga akhirnya tiba waktu Dzuhur. Acara pun dihentikan sejenak dan kami menunaikan sholat berjamaah. Pada waktu itu aku sholat dengan posisi nametag masih terkalung di leher dan kartunya terselip pada kantung di dada. Hal mengejutkan itu pun datang.

Pada saat posisi rukuk, nametag yang kuselipkan tadi keluar dari kantung dada. Menggelayut di leher dengan posisi terputar – putar. Alhasil foto wajah cantik miliknya pun terlihat jelas. Setelah penutup salam, hal yang aku takutkan pun terjadi. Seorang bapak – bapak senior di kantor wilayah itu bertanya padaku.

Nampak ekspresi heran di wajahnya. Beliau berulang kali menatap nametag dan mukaku. Mati nih, ketauan! Mukaku memerah seperti kepitin g rebus, jantungku berdebar – debar. Beliau pun membuka pertanyaan.

“Kok jilbaban mas?” tanyanya entah karena heran atau ingin meledekku.

“He he, nda pak ini nametagnya temen.” Jawabku sembari senyum – senyum.

Buru – buru aku masukkan kembali nametag berparas cantik itu. Kok bisa fotonya cantik, orangnya jantan.

Ia pun tertawa begitu hal ini ku ceritakan padanya. Senang sekali rasanya mengetahuinya tertawa karena ku. Ah, ini karena dirimu juga. Aku pun bisa berbagi kebahagiaan, karena dirimu telah mengizinkanku mendapati bahagia dari segala pemberian dan kebaikanmu, Audya.


Pendek cerita, hal di atas hanyalah cerita awal tentang bagaimana memulai rajutan.

Tentang bagaimana memasukan benang ke jarum, bagaimana hal – hal indah itu bermula masuk ke dalam hati.

Tentang bagaimana mengamankan benang yang telah masuk dengan sebuah simpul di awal, bagaimana hal indah yang hendak dimulai harus diawali dahulu dengan hal – hal sederhana. Sesederhana menyamakan pilihan dan keyakinan.

Masih terlalu panjang dan jauh ceritanya, jika aku memutuskan untuk bercerita rajutan benang cerita ini hendak menjadi sebuah pakaian indah ataupun penutup rambut yang cantik. Begitu banyak kemungkinan, dan begitu banyak rencana. Baik aku dan dirinya pun punya pilihannya masing – masing. Punya keyakinan dalam hatinya sendiri. Aku tak pernah tahu apa isi hatinya, pun begitu dirinya mungkin juga tak tahu apa yang ada dalam  hatiku. Bagian terpentingnya adalah kita sama – sama telah jujur pada diri sendiri dan satu sama lain.

Dan hal yang begitu lebih baik. Kita telah membuat simpul awal yang jelas, ketimbang membiarkan semuanya terurai begitu saja layaknya benang kusut yang tanpa pernah ada kejelasan.


Ia hanya berpesan kepadaku;

“Sedekat apapun kita sekarang, kalau ternyata memang bukan jodohnya begitulah. Sejauh apapun kita berpisah kalau memang jodoh, bakal Allah satuin kok…”

“Aku cuma pengen bikin mas senang, tapi aku nggak mau kalau pada akhirnya buat mas merasa sedih, aku nggak mau…”


Maka dari hal itu aku pun menulis ini untukmu, Audya.

Aku mencoba mengerti dan memahami maksud baik hatimu. Aku pun sama sekali takkan menaruh harapan yang mengikat kepadamu, jika memang itu belum waktunya. KepadaNya aku titipkan segala rasa pengharapanku.

Jujur saja ada perasaan berat ketika harus menahan rasa cinta dan rindu ini padamu, tapi sebisa mungkin akan aku simpan rapih sendiri di dalam hati. Masing – masing kita akan selalu berusaha menjadi pribadi yang baik satu sama lain. Karena wanita yang baik pasti akan bersama lelaki yang baik juga kan? He he.

Allah telah membuat simpul ketetapan takdirnya bersilangan kepada kita kini. Alih – alih saling kuat memaksa hendak hingga melepas jauh uraian simpul dengan saling menjauh, aku lebih senang ketika kita dapat memulainya dengan kebaikan pengertian.

Darinya akan kutemani segala bentuk jahitanmu, tak perlu terburu – buru aku takut jemari lembutmu terluka tusukan jarum. Pelan – pelan saja, ambil waktumu dengan segala ingin baikmu. Tak perlu risau hendak jadi apa jahitan kita. Karena apapun itu sebuah simpul terakhir pun harus juga diputuskan.

Karena kita hanya dariNya dan akan kembali pula kepadaNya.


Boy, I’m so happy
We have been heaven blessed
I can’t believe what God has done
Through us he’s given life to one
But isn’t she lovely made from love
Isn’t she lovely

9 pemikiran pada “Simpul Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s