Hujan Di Seratus Meter

Malam sudah semakin larut. Dalam gelap yang hening, sayup – sayup ku dengar suara gemuruh datang perlahan dari kejauhan. Aku memutuskan untuk keluar kamar. Kamarku berada di lantai tiga, bagian teratas dari rumahku. Ada area cukup luas yang biasanya digunakan untuk menjemur pakaian di lantai atas. Aku berdiri di sana. Memandangi langit sekitar dari ketinggian. Rupanya, langit malam nampak sudah menyatu dengan si awan kelabu.

Suara jatuhnya air hujan terdengar begitu keras meski jaraknya sekitar seratus meter dari rumahku. Langit – langit di atas kepalaku pun sudah gelap, tetapi air hujan itu belum sampai jatuh di tempatku berdiri.



Seratus meter lagi,

Entah bagaimana seharusnya aku memahaminya.

Haruskah aku merasa senang lantaran masih ada seratus meter lagi sebelum hujan?

Atau, aku seharusnya merasa senang lantaran seratus meter lagi aku segera diguyur hujan?

Belum sampai ku jawab pertanyaan itu, suara pelan itu menegurku.

“Mas, kenapa nggak masuk ke kamar?” tanyanya padaku dari muka pintu.

Aku menoleh ke arahnya, setelah sempurna membalikkan badanku ke hadapannya. Hanya ku jawab dengan senyuman dan gelengan pelan.

“Sebentar lagi hujan datang…” jawabku lirih, sembari kembali memunggunginya untuk kembali menatap hujan di seratus meter.

Ia tak banyak bertanya tentang apa dan mengapa sebab alasanku tetap berdiri di sana. Tetapi aku tahu ia pun tak lagi berdiri di depan pintu itu lagi.


Tidaklah sampai lima belas menit, akhirnya hujan pun sampai juga di tempatku berdiri. Tak perlu menunggu waktu selama yang kupikirkan sebelumnya ternyata. Singkat sekali. Hujan deras itu datang tiba – tiba, jatuhnya seluruhnya. Tidak pernah setengah – setengah.

Badanku basah sepenuhnya, berangsur hawa dingin di malam hari pun semakin jadi dibuatnya. Tetapi aku menikmatinya. Aku senang, karena aku sendiri yang menyambutnya dengan segala penerimaan. Akhirnya hujan itu datang juga. Ku pandangi langit – langit, seolah entah ada siapa di atas sana.


Langit hitam gelap itu berubah menjadi merah. Air hujan itu seperti berenti, ia tak lagi jatuh di wajahku. Belum sempat aku bertanya, ada hangat yang menyelimuti pundak dan badanku. Sebuah selimut jatuh lembut di atas bahuku, tangan mungil itu memastikan seluruh badanku tertutupi sedang tangan lainnya menggenggam sebuah payung merah. Aku menoleh ke arahnya, ia tersenyum hangat sekali.

“Masuk yuk, mas?” ajaknya lembut.

Aku yang sedang dirundung hawa dingin entah mengapa tiba – tiba saja merasa hangat. Ada perhatian yang tulus di sana.

Aku mengangguk pelan, pun kemudian menggenggam erat tangan hangatnya yang sedang memegangi payung. Kami masuk perlahan, menuju ruangan tengah dengan sofa yang di sampingnya ada meja kecil dan dua cangkir minuman hangat. Ku tahu hangat, karena aku bisa melihat kepulan hawa panas putih di atasnya.

“Di minum mas tehnya, biar badanmu hangat.” tawarnya lembut sembari mengangkat cangkir dan piring kecilnya ke arahku.

“Makasih ya de…” aku menatapnya sayang dan haru. Aku akui, aku sungguh terlalu mudah jatuh di hadapannya, di depan semua perhatian dan kebaikan tulus cintanya.

Ia pun turut minum dan duduk menemani di sampingku. Tangan kananku menggenggam pelan tangan mungil di atas pangkuannya. Aku memandangi wajahnya yang masih meminum pelan teh hangat miliknya.

Terima kasih sekali lagi, De


Entah apa yang ada di pikiranku di beberapa waktu lalu, mengapa aku justru begitu ingin menikmati datangnya dingin hujan?

Mengapa pikiranku hanya habis pada hitung – hitungan jarak dan waktu datangnya sebuah hujan?

Bahkan akupun sampai sempat mengabaikan sebuah hangatnya perhatian?

Pada akhirnya, aku pun kembali berpulang pada ia yang begitu tulus menyambut hangat. Aku jatuh pada segala selimut – selimut perhatianmu.

Aku tak lagi peduli seratus meter, seratus hari, seratus bulan, seratus tahun atau pun seratus purnama, aku sungguh tidak peduli lagi.

Bagiku inilah bahagiaku sekarang, meski hanya secangkir hangat perhatian yang akan segera habis ku tegup.



Sumber gambar : Whatsappstatusbest.com

21 pemikiran pada “Hujan Di Seratus Meter

  1. Iseng-iseng buka wordpress tengah malem, senyum yang 4bulan ini hilang (entahlah mungkin lebih) tiba-tiba datang. Entah kenapa bahagia aja, si raskal yg selama ini hilang kemana kok muncul tiba-tiba lagi.
    Ini serius loh, hampir stress ubek ubek wordpress buat nyari si raskal selip dimana.
    Welcome back raskal

    Disukai oleh 1 orang

  2. It’s you… Real you… Jujur saya lebih suka nama rakun kecil dibanding pakanira… Maafkan kejadian pas lebaran itu ya mas… Langsung saya block gitu aja… Semoga emak2 judes ini dimaafkan…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s