Genggaman Kasih Sayang

Dari sebuah momen dalam rentetan cerita panjang perjalanan hidup ini, aku kembali belajar beberapa hal. Mungkin lebih tepatnya, aku seolah ditunjukkan kembali apa – apa yang mungkin sempat luput dari pandang hidup singkatku ini.

Alur ceritanya tak selamanya manis. Pahit dan sakit, jika aku boleh berkata jujur.


Aku adalah orang yang gemar menulis segala cerita dan momen di satu buku catatan kecil. Bukan diary, karena pada buku itu juga tertulis segala hal runtutan pekerjaan sehari – hari ku. Selain pekerjaan, aku banyak menulis macam – macam. Apa saja, entah itu draft cerpen, coret – coretan puisi, pertanyaan yang muncul tiba – tiba, ataupun sekadar luapan emosi yang terkadang hadir menyelinap hangat di tengah sanubari.

Salah satunya adalah draft dari tulisanku sebelum ini, “Hujan Di Seratus Meter. Bentuknya hanya berupa poin – poin singkat. Rentetan alur ceritanya. Bagiku yang membacanya mudah saja melihatnya sebagai satu cerita utuh, tapi aku tidak tahu bagaimana jika orang asing lain yang membacanya.

Sampai pada satu waktu, aku meninggalkan buku ku ini pada salah satu meja kerja di front office kantor. Awalnya aku hanya ingin menitip karena hendak ke mesjid tanpa harus terlebih dahulu ke meja kerjaku. Dan, sekembaliinya dari Mesjid pun buku ku masih di sana, tersimpan rapih. Tidak ada yang aneh. Sampai ketika aku pulang ke rumah dan hendak membaca-menulis ceritaku, aku membalik lembaran terakhir dan menemukan sebuah tulisan pesan di sana;

IMG_20170811_095035

“Selalu ada pelangi setelah hujan turun :)”


Kalimatnya memang sederhana, tetapi aku pun tersenyum. Bukan hanya di bibir, namun hatiku pun juga demikian. Siapapun dia yang menulisnya, pasti dia sudah membaca tulisan tentang hujan di seratus meter, dan tulisan – tulisan sebelumnya.

Aku merebahkan badan di pembaringan, meletakkan buku biruku itu di dada dan menatap langit – langit. Sepertinya aku kembali belajar banyak hal, Alhamdulillah terima kasih Tuhan.


Pada satu waktu teman – temanku berkumpul, mengajakku makan siang bareng di luar kantor. Karena mungkin jarang sekali aku bisa ikut makan siang bersama, entah itu karena perbedaan tempat atau ada urusan yang lain. Tetapi kali itu teman – teman bersikeras mengajakku untuk ikut bersama mereka. Aku pun mengiyakan.

Singkat cerita, ternyata acara siang ini bukanlah sekadar makan siang bersama. Melainkan ada agenda terselubung, atau lebih tepatnya ada sesuatu yang mereka ingin sampaikan kepadaku. Bukan tentang mereka, bukan tentang kantor apalagi pekerjaan, tetapi justru tentang aku. Tentang perasaan hatiku saat itu.

Pelan dan hati – hati sekali mereka menyampaikan maksud baiknya kepadaku. Sehingga aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum saat mendengar cerita – cerita mereka. Pun sebenarnya aku telah mengetahui “cerita” ataupun “kisah” itu sendiri, tapi entah mengapa aku lebih membiarkan diri untuk dapat mendengar cerita – cerita itu dari temanku, dari sudut pandang orang ketiga.

Ada perasaan patah hati di sana, ketika mendapati cerita – cerita yang ku ketahui sebelumnya ternyata memang benar begitu adanya. Namun, ada perasaan bahagia juga mengetahui hal sebenarnya, terlebih mengetahui begitu perhatiannya teman – teman kepadaku.

Mereka berkata, tak ingin orang baik sepertiku diperlakukan seperti itu. Aku pantas dapat yang lebih baik, katanya. Mereka takut aku kecewa dengan perasaanku sendiri nantinya. Ah, temanku… sungguh aku tak sebaik yang kalian pikirkan, justru kalianlah orang – orang yang begitu baik memperhatikan aku yang hanya seorang asing ini.

Apapun ceritanya aku mengerti, pastilah semua ini untuk kebaikan. Aku percaya, Insya Allah.


Aku mengerti, salah satu bagian dari bentuk persahabatan terbaik–datangnya dari tulus hati yang mengingatkan.

Ia yang mengingatkanmu semata – mata karena begitu memahami dan peduli padamu. Padamu ia menceritakan tentang segala pandang apa adanya. Pandang yang mungkin sedang bias di hadapanmu sekarang.

Layaknya buliran air yang mengalir dari hulu ke hilir, bagaimanapun ia selamanya akan tetap selalu mengalir pada alurnya. Akan lain cerita andaikata dan hanya jika seseorang ataupun hal luar coba membendung ataupun membelokkan arusnya.

Aliran air yang terlalu polos akan tetap pada jalur lintasannya. Meskipun itu nanti membawanya pada muara kekeringan. Tetapi sekali lagi, ia dapat dibendung sebelum sampai ke sana. Salah satunya dengan nasihat.

Sebuah nasihat baik yang tulus itu serupa eratnya genggaman tangan. Ia akan menggenggam kuat untuk menentang jika arusmu telah keliru. Dan ia akan kuat membersamaimu jika jalanmu telah lurus pada hal baiknya.

Jujur saja, berat akan begitu terasa di awal karena dirimu hendak melawan ratusan daya arus yang terlanjur keliru. Entah keliru karena tahu sanksi langkahmu salah, ataupun keliru karena kamu harus melawan rasa di hati. Tetapi jangan pernah menyerah, karena pada akhirnya kamu akan merasa ringan.

Karena sekali lagi, yang demikian adalah tanda dirimu masih dan selalu penuh dengan kasih sayang. Kasih sayang orang – orang di sekitarmu, yang begitu menyayangimu, yang begitu menginginkan hal – hal terbaik terjadi pada dirimu.


Terima kasih teman – teman, hati kecilku mungkin takkan pernah cukup untuk menerima kasih sayang kalian yang begitu besar, maka darinya izinkanlah aku meneruskan kebaikan kalian dengan membagi hal ini pada oranglainnya, pun juga dengan terus menjadi baik dengan saling berbagi kebaikan kepada kalian, kepada siapapun, termasuk kepada dirinya yang kupercaya hati dan niatnya baik selalu, Insya Allah.

Dan,

Terima kasih pula untukmu, aku sungguh percaya tak pernah ada orang jahat di hidup ini. Masing – masing dirinya selalu berusaha melakukan hal terbaik, untuk orang lain ataupun untuk dirinya. Hanya terkadang kita berselisih pada pemahaman dan pengertian dari hadirnya sebuah perlakuan.

Aku percaya dirimu baik, aku mengerti semua alasan – alasan di balik ceritamu meskipun oranglain tak pernah mengetahuinya. Ada beberapa hal untuk ku mengerti sendiri, pun juga ada beberapa hal yang harus kubagi juga padamu.

Karena sebagaimana mereka telah peduli padaku, aku pun peduli kepadamu.

Dan aku memilih untuk tetap di sini, tidak meninggalkan siapa – siapa, termasuk dirimu. Karena aku pun hanya ingin menjadi seperti mereka, orang – orang baik yang selalu hadir berikan genggaman kasih sayang terbaiknya.


Sumber foto: Dokumentasi penulis.

 

39 pemikiran pada “Genggaman Kasih Sayang

  1. Semangat, Racun Kecil! Percayalah, seberapa sulit dan menyakitkan, berdamailah dengannya. Ikhlas dan percayakan dengan semua takdir Allah. Yang terjadi adalah yang terbaik. Fighting! 😊💪

    Disukai oleh 3 orang

  2. “Dan aku memilih untuk tetap di sini, tidak meninggalkan siapa – siapa, termasuk dirimu. Karena aku pun hanya ingin menjadi seperti mereka, orang – orang baik yang selalu hadir berikan genggaman kasih sayang terbaiknya.”

    Kata terakhir bikin terharu… 😥
    Mas toro lagi galau yah?

    Disukai oleh 1 orang

      1. Hei kau mas Toro darimana ajaaaaa? Tetiba ngilang ih 😣😂

        Alhamdulillah lebih baik bagaimana dirimu?

        Siiiaappp yuk ah capcus kudu dipaksa sabar sama ikhlas biar ga manja #eh 😁😁😉😄

        Disukai oleh 1 orang

      1. Baik Rakun Kecil, alhamdulillah.. Kamu bagaimana? Sepertinya akan ada kabar membahagiakan tidak lama lagi yaa.. 🙂
        Always happy ya Toro, and keep writing. Waiting for it. ^^

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s