Pohon Memang Diam, Tapi Aku Tidak

Hari sudah terlalu siang untuk dikatakan masih pagi. Matahari sudah terlampau tinggi dari titik mula terbit fajarnya. Langit bersinar cerah, dan angin pun bertiup cukup kencang. Maka akan terlalu sayang jika waktu hari ini dihabiskan hanya untuk berbaring tidur, setidaknya itu yang ada dipikiran kedua anak lelaki ini. Paka dan Nira.

Kedua lelaki bersaudara ini memutuskan untuk bermain layang – layang pada sebuah tanah lapang di bukit tinggi. Tempatnya hijau dan lapang, batasnya hanya pada tepian jurang di sisi terluar. Tetapi mereka tak perlu main hingga ke ujung sana. Berbahaya.

Paka, anak laki – laki yang lebih dewasa memegangi layangan. Sedangkan, Nira adik kecilnya bersiap sedia menarik tali benang untuk menerbangkan si layang – layang dari sisi yang berlawanan. Bersamaan dengan teriakan hitungan mundur terakhir kakaknya, Nira menarik kuat temali, membuat badan layang terpapar melawan hembusan kuat angin. Penampang luasannya yang kecil, membuatnya terdorong terbang ke langit, akibat tak sebanding dengan tiupan angin yang begitu kuat di luas udara lepas.

Layang – layang itu mengudara bebas.

Tunggu. Bebas katamu? Ia hanya akan berurusan pada kebebasan yang terikat atau barangkali sebuah keterikatan yang bebas. Ada temali yang menjaga jaraknya.

Nira girang bukan main, layang – layang miliknya membumbung tinggi di udara. Paka pun juga senang melihatnya, adiknya yang sedang bermain – main dengan bahagia.


Waktu pun berjalan.

Angin tak selamanya terbang sendirian. Padanya terdapat hal atau benda lain yang disadari ataupun tidak, turut terbang membersamainya. Dan kali ini tiupannya telah berbeda, layakya langit yang tak pernah sama, selamanya.

Kebetulan selalu dipenuhi kejutan bukan?

Untaian temali yang menjulang tinggi itu pun menjadi korbannya. Ia yang hanya serupa tipis benang di langitan luas terhantam benda asing dari sejuta kemungkinan. Putus.

Layang – layang itu terbang terbawa angin, kali ini bebas, sebebas – bebasnya tanpa ada lagi keterikatan jarak pembatas.

Kaak yaaah, layanganku lepaas gimana ini? tanya Nira sedih ke kakaknya.

Ayo kita kejar de, jangan diam di sini aja.” ajak Paka sembari menarik tangan kanan adiknya untuk segera bergegas berlari menuju arah layang – layang itu terbang.

Meskipun mereka tak pernah tahu apa layang – layang masih ingin diikuti mereka.
Meskipun mereka tak pernah tahu apa layang – layang masih sudi berbagi bahagia dengan mereka.

Tetapi mereka, Paka dan Nira, masih saja mengikuti kemana arah layang – layang itu limbung hilang kemudi.

Kemudian detik itu segera dimulai, detik dimana salah satu ranting pohon itu diam – diam mengambil alih menjaga temali layang – layang. Dari angin yang tak punya mata seperti selatan maupun utara.

Ia tersangkut pada pohon di tepian jurang.

“Gimana ini kak? Itu dia tersangkut di atas sana?” tanya Nira bingung.

“Hmm, tunggu sebentar ya dek…” jawab Paka sambil langsung mencoba menuruni sisi tebing perlahan dengan posisi kakinya yang mencoba mengapai – gapai sisi terbawah dan kedua tangannya memegang kuat pinggiran tebing. Belum sampai kakinya terpijak sempurna, bagian tanah yang ia pijak jatuh ke bawah jurang tiba – tiba.

“Kakaaaaak!” teriak Nira sambil memegangi kedua pergelangan milik kakaknya yang menegang kuat.


Paka mencengkram kuat tepian tebing. Ia berpikir, jika ia segera memegangi adiknya, maka sang adik juga akan terpelanting ke bawah, tertarik momentumnya.

“Nggak apa – apa dek, tenang aja…” ujarnya tak ingin membuat panik keadaan. Ujung jemari kakinya mencoba meraih sisi pijakan lain. Beruntung kakinya berhasil mendapati sesuatu yang cukup keras dipijak.

Perlahan ikut dimiringkannya badan miliknya ke sisi kiri. Di sana ia berpijak pada akar besar milik pohon di tepi jurang itu. Setelah dapat berdiri tegak sempurna ia mencoba memanjat naik ke atas, dengan bantuan genggam tangan adiknya.

“Yah… ikhlaskan aja ya de?” ujar Paka pada adiknya Nira sembari menghela napas.

“Heeh… iya kak! Di sini berbahaya. Aku ingat pesannya ibu, jangan dekat – dekat pada hal yang berbahaya, serem ih kak…” jawab Nira sambil mengangguk dan mendekat diri ke kakaknya.

Paka tersenyum, tangannya mengusap pelan rambut kepala adiknya yang ikal.

“Ayuk pulang…” ajaknya.


Jika dikatakan waktu begitu lambat, maka itu nampaknya hal itu hanya benar bagi orang – orang yang sibuk menghabiskan waktu dengan penantian. Karena setelah sekian lama Paka mengejar bahagianya, sekian cepat waktu pun sudah terlewati.

Ada hal yang silih datang berganti, ada bagian yang datang dan ada pula bagian yang pergi. Seperti adiknya, Nira, yang telah ketempat-Nya terlebih dahulu dibanding dirinya.

Delapan tahun kemudian, jika perhitunganku tak salah, Paka pulang ke kampung halaman tempat kelahirannya dulu. Menghadiri pemakaman adik satu – satunya, Nira. Ia tidak pernah menyangka tempat yang dahulu biasa dijadikan bermain bersama adiknya, kini justru menjadi tempat dimana adiknya dikebumikan. Tempat – tempat dimana ia memulai kenangan cerita masa kecil sebagai awal mula kehidupan, ternyata menjadi tempat dimana ia harus menutup segala kenangan tentang adik sebagai bagian hidupnya.

Hampir seluruh tempat bersama adiknya ia kunjungi, sekadar untuk mengenang dan melepas rindu. Termasuk tanah lapang di tepi jurang tempat ia dan adiknya bermain layang – layang di tempo dulu. Ia berdiri di tepian, di sana masih ada pohon itu rupanya.

Pohon yang dahulu menahan si layang – layang, milik adiknya. Pohon yang dahulu menahan segala harap senang bahagia yang tengah sedang menjuntai tinggi. Meski sekarang, entah berada di mana dan bagaimana kabar si layang – layang. Dipandanginya pohon itu, mencoba memutar kenangan waktunya dari tempo lalu.


“Harusnya aku yang pergi lebih dulu de… Andai saja kala itu tak ada kamu, pasti aku sudah menyerah untuk mencoba naik ke atas tebing.” protesnya lirih begitu saja. Tangannya mengepal kuat, ada tekad yang membulat bersamaan dengan langkah pulang kakinya.

Sesampainya di rumah, ia mengambil tali tambang dan sebuah benda tajam. Tidak lama ia kembali pergi keluar rumah. Langkah kakinya menggegas, seperti hendak ada yang ia kejar. Seperti ada yang hendak ia susul.

Ia kembali pergi ke tepian jurang. Pada tepian ia berdiri, memandangi temali dan juga benda tajam itu di kedua genggaman tangannya yang berbeda. Tekadnya sudah bulat. Ia telah menentukan pilihan jalan hidupnya.

Di carinya pohon tinggi yang lain di sekitar tepian tebing. Diikatkannya kuat, temali itu pada batang pohon terkokoh. Berturut kemudian ia melingkari simpul temali itu pada bagain tubuhnya. Lalu menjatuhkan tubuhnya kebawah, hingga temali itu meregang kuat. Sebuah simpulan mati.

Paka telah sampai di tempatnya, pada tujuan dan akhir pilihan tekad bulatnya. Ini keputusannya.Di tempat itu ia melangkahkan kakinya pelan, mendekati benda tegap yang menjulang tinggi di hadapannya. Dilihatnya genggaman tangan kanan, ada benda itu, benda tajam yang sudah ia persiapkan sedari tadi, jika ia “masih” sampai di sini.

Bersamaan dengan tarikan nafas ia menghujamkan benda tajam itu. Sekali, dua kali, berulang terus menerus. Hingga akhirnya apa yang masih berdiri itu jatuh roboh tersungkur.


“Dek Nira, sekarang sudah tak ada lagi penghalang di antara kita.” gumamnya sembari tersenyum kecil.

Pohon besar itu jatuh dari tepian ke dalam jurang. Ia telah sempurna di tebang habis dengan kampak tajam milik Paka.

Takkan pernah ada lagi cerita layang – layang tersangkut di pohon.

Juga,

takkan pernah ada lagi cerita tentang si pohon di tepi jurang.

Ia tak lagi ada dan tak perlu ada.

Pohon memang hanya diam sedari awal ia berdiri.

Jika yang demikian membuat layang – layang benci kepadanya karena menghalau ia yang harusnya terbang bebas, maka sudah seharusnya ia mati.

Jika yang demikian merenggut harapan akan suatu hilang kebahagiaan yang dikira akan kembali, maka sudah seharusnya ia yang pergi.

Pohon memang diam sebagaimanapun ia tumbuh dan menerima cerita.

Tetapi aku tidak, aku mengerti jika mau ceritanya begini. Biar aku yang menebang habis semuanya. Habis hingga jatuh tak bersisa. Tak ada lagi bekas cerita sebatang pohon dan layang – layang. Kalau perlu, bukan hanya pohon di tepian jurang, tetapi biar kutebang habis juga seluruh pohon yang masih ada di dunia.

Habis yang benar – benar habis.

Habis yang bahkan tak sempat berpamit.

*) Ditulis untuk seorang teman seperjalanan yang kini memilih berseberangan.


Sumber Foto: Thezooom.com

6 pemikiran pada “Pohon Memang Diam, Tapi Aku Tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s