Sampai Bertemu Kembali

8 Desember 2015 lalu, aku bertemu denganmu. Dan bagiku rasanya menarik, bagaimana kita dapat dipertemukan pada tulisanmu yang berjudul “Perihal Pertemuan” itu.

Sebuah pertemuan sederhana yang menjadi awal pembuka cerita – cerita berikutnya.


Ini bukanlah tulisan pertamaku untukmu. Setelah tulisan “Tentang Kita” ada banyak tulisan – tulisan lain yang sebenarnya kutujukan untukmu dengan alih – alih sebuah bentuk cerita pendek. Tapi jika aku boleh jujur, tulisan tentang kita-ku itu adalah tulisan yang ku tulis dengan sepenuh hati dan terang – terangan untukmu.

Tetapi kemana gerangan tulisanku itu? Jika dicari pada blogku kini, rasanya tidak akan mungkin kalian temukan lagi. Ada yang berubah, meskipun tetaplah pada tempat yang sama.

Oh iya, aku pun ingat sepotong adegan pada film yang pernah kita tonton bersama.


“Does Leta Lestrange like to read?”

“Who”

“The girl whose picture you carry—”

“I don’t really know what Leta likes these days because people change.”

“Yes.”

“I’ve changed. I think. Maybe a little.”

J.K. Rowling. “Fantastic Beasts and Where to Find Them


Ada yang berubah, meskipun kita tetaplah orang yang sama. Hingga akhirnya aku mencoba untuk pergi, hendak menjadi orang yang asing. Pilihan yang biasa dilakukan oleh para pecundang dengan hatinya yang kecil.

Aku berusaha terlihat asing, namun pada akhirnya tetap saja gagal. Kamu justru dengan mudah kembali mengenaliku. Tanpa perlu kuberitahu terlebih dahulu.

Dahulu kamu pernah memintaku untuk membuat sebuah janji. Sebuah janji untuk tidak menuliskan lagi apapun segala cerita tentangmu. Aku menyanggupinya, meski di saat yang bersamaan ada rasa sesak dalam dada karena  harus menahan segala luapan rasa. Namun sekali lagi janji tetaplah janji.

Menulis bagiku, serupa cara membagi rasa. Ada perasaan senang di sana ketika aku berhasil menuangkan semuanya dalam sebuah bentuk tulisan. Untuk kubaca kembali, ataupun dibaca oranglain.

Mungkin aku salah satu dari sekian banyak orang yang begitu ramah dengan kenangan. Dan tulisan selalu bisa menjadi jembatan menuju kenangan itu. Menuju momen dan rasa di kala itu, sebuah cerita dariNya yang mungkin takkan pernah lagi dapat terulang.

Karenanya, menahan diriku untuk tidak menulis tentang perasaanku seperti membunuh diriku yang sedang ingin menulis. Mati. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku tulis. Seperti ada yang hilang, entah itu apa. Hingga aku pada akhirnya memutuskan untuk sama sekali berhenti untuk menulis kala itu.

Berhenti menulis sebagai seorang rakun kecil.


Aku berpikir, jika aku memang tidak boleh menulis sebagai seorang rakun kecil, mungkin aku bisa menulis sebagai seorang pakanira. Tanpa perlu dibatasi, tanpa perlu segala janji. Karena aku hanya ingin membagi cerita milikku, itu saja.

Pakanira sendiri berarti:

pakanira (klhor engkau; Anda | KBBI

Yang mana bagiku ia memiliki arti kurang lebih seperti ini:

Bagaimanapun aku menceritakan diriku (segala tulisanku), “Aku adalah kamu.” (cerita ku pun cerita milik kamu, milik kalian juga), dari segala sudut pandang dirimu (entah bagaimana engkau menilaiku nanti, itu hakmu)

Di sana aku mencoba menulis satu, dua tulisan – tulisan pendek. Tetapi tetap saja ada yang hilang.

Sampai satu waktu kamu pun berujar kepadaku, kamu memintaku untuk menulis lagi, bahkan aku boleh menulis tentangmu. Aku senang mendengarnya, rasanya bagian yang mengikatku itu telah dilepas bebas. Aku mulai menulis tentangmu. Tetapi tak jua kunjung ku terbitkan di blog itu. 

Lagi – lagi rasanya ada yang hilang. Aku seperti tidak menulis sebagai diriku, aku justru seperti menulismu sebagai orang yang lain, dan aku sama sekali tidak ingin seperti itu.


Agustus 2017

Maka jika aku ingin memiliki kembali blog dengan nama rakunkecil.com ini aku harus menunggu hingga bulan ke delapan. Karena dahulu aku membeli domainnya setahun hingga bulan tersebut. Oleh karena itu sejak awal agustus aku ini sibuk memasukan nama domain rakunkecil ini ke kolom pengecekan perubahan alamat domain, andai – andai dia sudah tersedia dan bisa kubeli kembali.

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah mengizinkanku untuk kembali memiliki domain ini. Aku kembali diizinkan menulis sebagai seorang rakunkecil, dan kamu pun telah mengizinkanku untuk menulis sebuah cerita tentangmu lagi.

Beginilah ceritanya,


2015-2016

Setelah sekian lama berkenalan, aku sudah merasa begitu dekat denganmu. Namun di antara kita tak pernah ada satu ikatan, apapun itu.

Aku begitu senang bersamamu.

Setelah postingan “Perihal Pertemuan” itu aku mengikuti segala tulisan milikmu. Mendengarkan segala lantunan merdu irama suara dan petikan alat musikmu. Aku menyukainya, sungguh.

Hingga pada satu waktu kita saling berbicara dan kamu mengatakan suatu hal kepadaku. Bagimu, aku adalah suatu ide, sesuatu yang maya, hal yang tak pernah nyata. Jika aku tidak bisa memenuhi beberapa kriteria “nyata” baginya. Salah satu kriterianya adalah jika kita berdua saling bertemu.

Ada begitu banyak rencana pertemuan dengannya yang aku buat, namun rasanya semesta belum merestui pilihan hariku. Sampai akhirnya pada satu kesempatan, aku sedang berdinas tak jauh dari tempatnya tinggal. Tak jauh, jika kubandingkan dengan tempat biasanya aku merantau. Aku mengatakan keinginanku bertemu dengan dirinya, itupun jika ia berkenan. Ia pun mengiyakan pertemuan kita. Tak perlu kalian tanya, tentu saja aku merasa senang setelah sekian panjang membuat rencana, akhirnya Allah meridhai harap dan inginku juga.


November 2016

Siang itu penutupan acara, kami akan segera check out dari hotel. Beberapa dari peserta hendak pulang ke rumahnya, ataupun segera kembali ke kota tempat kantornya berasal. Ada juga yang mempunyai rencana lain, termasuk diriku.

“Lo langsung kemana tor? Pulang ke Jakarta” tanya teman sekamarku yang bernama Shofi. Dia laki – laki kok.

“Hehe nggak shof, aku mau ke X (aku menyebutkan satu nama kota di jawa tengah) dulu…” jawabku pendek.

“Mau ngapain lo? Tumben ? ha ha” ujarnya sembari meledekku.

“Mau ketemu temen shof, he he.” jawabku lagi sambil cengengesan.

“Ha ha semuanya juga bermula dari temen tor…” katanya.

Aku tersenyum mendengar kalimatnya ini ada lirih siratan doa yang hendak ku aminkan diam – diam. Usai mengemas segala barang aku segera bertolak menuju sebuah stasiun kereta api terdekat. Tempat dimana aku telah memesan sebuah rute perjalanan yang telah terlebih dahulu dibantu ia pilihkan (kamu-red).


Ini pun pertama kalinya lagi aku menaiki kereta api, selain KRL dan Kereta Api di waktu kecilku dulu. Jadi aku sedikit bingung di stasiun, tidak tahu cara membaca rambu ataupun petunjuk. Beruntung ada teman – temanku yang kebetulan searah atau satu kereta denganku, meskipun kami semua berbeda tujuan akhir.

Aku memesan kursi di dekat sebuah jendela. Dengan harapan sepanjang perjalananan nanti aku bisa menikmati pemandangan sekitar sembari mendengarkan musik. Betapa kagetnya ketika kudapati kursiku itu ternyata sudah di tempati oranglain. Orangnya memang tidak ada, tapi ada tas ranselnya di sana. Mumpung belum ada orangnya, aku pindahkan tasnya itu ke kabin bagasi bagian atas, dan kuletakkan tas milikku pada kursi di tepi jendela. Lalu aku pun meninggalkan kursiku untuk menuju lorong kantin, menyusul teman – teman yang sudah terlebih dahulu berada di sana.

Setelah menyantap beberapa makanan pengisi perut, akhirnya kami kembali ke kursi masing – masing. Pun aku juga melangkah kembali menuju nomor kursi sesuai pada nomor yang tertera pada tiket di genggaman tanganku.

Ada perasaan sedikit geram ketika kudapati tasku justru bergeser ke kursi yang berada di tengah jalan (aislee) padahal seingatku tadi tasku sudah kuletakkan di kursi pinggir jendela. Aku ingin meminta tukar kembali, batinku dari kejauhan. Namun semuanya buyar, ketika kudapati seseorang yang duduk menempati kursiku seharusnya adalah seorang perempuan. Baiklah, aku mengalah saja gumamku dalam hati. Kami saling berbalas senyum, kemudian aku pun duduk manis begitu saja. Padahal tadi sudah ingin misuh – misuh sendiri.

Sepanjang perjalanan aku hanya menonton video dan mendengarkan lagi dari alat pemutar musik milikku. Sampai akhirnya perempuan ini menegurku terlebih dahulu. Kami pun saling berkenalan.

Ada hal yang mengejutkan. Kamu tahu tidak? Ia ternyata memiliki nama yang sama denganmu. Bahkan kota tujuan akhir perjalanannya pun daerah tempatmu tinggal, daerah yang akupun hendak tuju. Aku sempat terdiam beberapa saat ketika ia berkata demikian. Apa jangan – jangan ini kamu? Tapi mana mungkin, wajah kalian berbeda. 

Aku segera mengirimkan pesan singkat kepadamu, dan kamu pun membalasnya. Jelas sudah, kalian orang yang berbeda, buktinya saat kamu membalas pesanku, perempuan di sampingku asyik bercerita dan sama sekali tidak memegang hpnya. Aku tertawa kecil sendiri dalam hati. 

Tetapi bagaimana jika ternyata dia itu kamu? Bukankah itu akan jadi satu cerita menyenangkan lainnya? Hayalku terlalu jauh ya?  he he.

Kami banyak bertukar cerita tentangnya, pun juga banyak kutanya padanya tentang daerah kotanya, kotamu juga. Kota yang dalam hitungan jam akan segera kusinggahi. Ia bertanya kepadaku, aku menginap di mana, ku sebutkan nama sebuah hotel pilihanmu, kemudian ia memprotesnya dengan sebuah kalimat penyayangan yang serupa dengan pikiranku tatkala pertama kali mendengar rekomendasimu. Tapi aku percaya pilihanmu, aku tahu ada sesuatu yang aku nggak tahu. Dan ternyata benar saja, ada hal kecil di sana yang nampaknya jadi bentuk perhatianmu, entah kamu sengaja ataupun tidak.

Sesampainya di stasiun kota tujuan, aku dan ia berpisah. Dia di jemput keluarganya, sedang aku sudah kamu tunggu di lorong kedatangan ujung yang lain. Aku menarik koperku menuju pintu itu, dan dari tempatku aku melihatmu berdiri di sana. Seorang perempuan yang perlu waktu hampir satu tahun untuk akhirnya dapat bertemu wajah.

Jika dikatakan rindu, entah apakah tepat? Aku baru bertama kali bertemu dengannya, tapi bertemu dengannya rasanya seperti menahan luapan lama ingin jumpa yang tak tahu bagaimana menunjukkannya. Tapi kami sama – sama baru pertama kali berjumpa, akan aneh rasanya jika aku menunjukkan rasa senang yang berlebihan. Jadi aku bersikap senang sewajar – wajarnya.

Kamu mengantarkanku untuk segera menunaikan ibadah sholat, untuk kemudian kami melanjutkan perjalanan. Aku kira malam ini kamu hanya mengantarkanku ke hotel tempatku singgah, rupanya aku diajak ke sebuah tempat makan, dan kita makan malam berdua di sana.


Aku suka tempatnya, terlebih konsep ruangannya. Dengan pilihan tema tiap ruangan yang berbeda, aku pun jadi mengerti perihal apa kesukaanmu kala itu. Di sana kamu mengambil duduk tepat di depanku. Dengan jarak tak sampai satu meter. Aku masih tidak menyangka, perempuan ini, yang ku kenal dari sekian panjang perjalanan akhirnya tepat berada di depanku. Malu, senang, gugup semuanya  menjadi satu.

Kita banyak memulai percakapan, entah tentang apa. Yang penting  aku ingin dengar kamu bicara. Kamu pun bertanya, apakah aku senang berjumpa denganmu? Aku menjawabnya dengan angguk senyuman. Senang, aku senang sekali. He he meskipun aku agak kesulitan menahan rasa nyeri saat aku duduk, kamu pun sempat meledek ku, wajahku cemberut karena nyeri tapi kamu menangkapnya aku ngambek karena diledek, padahal mah nggak, eh tapi kesel juga sedikit he he.

Belum lama kita menikmati makanan, tiba – tiba kita sama – sama dikejutkan dengan suara yang memanggil namamu. Oh! Ternyata ada kakakmu, Mba Anggi bersama suaminya Mas Egi dan anaknya (keponakanmu) Lexa. Mereka terkejut bisa saling bertemu di tempat ini, tanpa disengaja. Sedang aku jangan ditanya, aku deg – degan setengah mati. Astaga ini nggak ada break dulu apa? Setelah seharian perjalanan aku yakin, penampilanku sedang kumal bin kucel sedunia, malu aja rasanya ha ha.

Aku pun berkenalan dengan mereka, plus mendapat pelukan si kecil Lexa, duh senang sekali. Mereka begitu ramah padaku yang asing. Seolah ingin memberi ruang, mereka pun memilih tempat yang berbeda dengan kami. Kami pun kembali melanjutkan makan malam berdua hingga kami pulang terlebih dahulu, dan aku diantarkan olehnya ke hotel tempatku menginap.

Kami berpisah untuk pertemuan di malam pertama. Lalu ia menawarkan untuk menjemputku di pagi esok hari, dan akupun mengiyakan ajakannya.


Pagi hari  sudah tiba, aku pun sudah bersiap menunggu di lobby hotel lebih awal. Masih teringat rasanya deg – degan semalam, kini ditambah lagi aku dijemput ke rumahnya. Kok ya nggak hilang – hilang ini debaran di dada. Duh.

Di tengah upaya menenangkan diri, kamu pun datang. Aku bergegas menuju kendaraanmu, dan kita melaju ke arah rumahmu yang tak begitu jauh dari tempatku menginap tadi. Sepanjang perjalanan aku mencoba menghapal betul arah dan jalan sekitar, agar ingat ketika suatu hari nanti berkunjung kembali batinku. Rasanya kini aku masih hapal, sedikit – sedikit he he.

Setelah sampai di rumahmu, kamu pun mengajakku masuk. Di sana sudah ada Mba Anggi dengan si Lexa yang sedang sarapan, ada Ibumu, juga Ayahmu yang akhirnya keluar belakangan. Aku kembali berkenalan lagi. Dan lagi – lagi, keluargamu begitu ramah. Atau perlu ku bilang sangatlah ramah. Aku benar – benar merasa nyaman dan tidak terlalu canggung. Padahal ini kali pertama pertemuan, heranku. Beda jauh dengan gambaranku, di mana aku membayangkan akan gugup setengah mati selama pertemuan.

Ayahmu sosok lelaki dewasa yang sudah sedikit ku kenal dari tulisan mu tentang ayah, pun juga Ibumu dengan kegemarannya yang juga telah kamu ceritakan beberapa hal sebelumnya.

Ada banyak cerita yang dibagi selama aku di sana, salah satunya adalah tentang bagaimana dunia ternyata begitu sempit, teman sekantorku ternyata adalah anak dari teman ayahmu. Banyak sekali cerita, nasihat, dan pelajaran di sana. Termasuk ketika aku memberanikan diri bertanya pada Ayahmu, tentang bagaimana beliau bertemu dengan Ibumu. Senang sekali mendengarnya, he he.

Pun ketika  Ayahmu menceritakan bagaimana Kakak – kakakmu bertemu dengan pasangan hidupnya. Ada hal yang menarik, ternyata garis Tuhan itu indah dan mebahagiakan sekali ya? Mendengar semua cerita bahagia pertemuan rasanya membuat hatiku tenang dan berulang kali mengucap syukur. Aku bersyukur bagaimana Tuhan pun mengizinkan aku mengenalmu, mengenal keluargamu dengan segala cerita dan alurnya.

Mungkin aku hampir menangis sendiri menahan segala rasa  haru di hati, tapi beruntung ada ulah si kecil Lexa yang bolak – balik dari meja makan ke arahku. Entah sekadar merajuk memeluk manja ataupun mengantarkan satu dua buah kue untukku. Manis sekali gadis kecil ini. Padahal aku orang yang asing baginya.

Di tengah suasana menyenangkan itu, aku melirik ke arahmu, yang duduk tak jauh di sebelah kiriku. Tanganmu menopang dagumu, kamu memperhatikanku singkat, hingga akhirnya kita bertemu pandang. Aku tersenyum, pun lekas kembali mengalihkan pandangan, karena malu dan gerogi.

Ayah dan Ibumu banyak berbagi cerita, salah satunya tentang kegemaran Ibu menanam/berkebun di halaman/pekaranan rumahmu. Dengan segala buah – buahan yang unik. Memang unik, karena buah – buahan yang ditanam di sana bukan buah yang mainstream.

Salah satunya adalah buat Miracle, yang kamu pun telah membuat sebuah tulisan tentangnya. Aku pun diizinkan mencobanya, katanya setelah makan buah itu, makanan apapun yang masuk ke dalam mulutku akan terasa manis. Apa iya? Aku mengunyah buah itu, lalu mencoba makan jeruk yang asam, dan aneh. Kok rasanya jadi manis ya? Aku pun berujar kepada mereka keheranan, kok bisa manis. Sambil tertawa kecil. Juga sembari kembali memandangimu yang juga tersenyum, manis.


Setelah agak siang, kami berdua pun pamit hendak pergi bersama keluar. Ada beberapa tempat yang kami kunjungi, salah satunya toko buku dan tempat pemutaran film. Aku membeli dua buku di sana, sedang kamu hanya menemaniku, oh iya kamu pun meminjamkan aku kartu member milikmu, aku ingat he he. Setelahnya kita menuju tempat pemutaran film itu. Kita membeli sepasang tiket untuk sebuah film berjudul “Fantastic Beasts and Where to Find Them”.

Ketika menunggu hingga jam penayangan kita saling duduk berdampingan. Tapi entah kenapa ada perasaan canggung di sana. Aku berulang kali mencoba mengajakmu bercanda atau berbicara tapi entah mengapa aku merasa kamu begitu datar. Padahal aku ingat sekali senyum manismu tadi pagi. Berulang kali aku memandangimu tanpa berkata, kepalaku hendak mencerna apa sebenarnya yang terjadi. Aku tidak mengerti sikapmu yang seolah ingin menahan diri dari sesuatu. Meski belakangan kamu pun akhirnya bercerita tentang alasanmu kala itu.

Aku hanya bingung, apa kamu tidak sesenang perasaanku? Atau aku yang justru terlampau begitu senang sampai tidak bisa mengontrol diri sendiri? Rasanya aku ingin juga cuek, karena pada dasarnya aku adalah sosok yang pendiam, tapi entah mengapa aku pun merasa sayang. Apa iya, aku ingin membuang waktu pertemuan yang mungkin entah kapan lagi bisa seperti ini hanya untuk bersikap datar dan biasa – biasa saja? Aku pun berujar,

“Senyum doong… nggak seneng ya?”

“Iya..!~ seneng kok Toro he he…” jawabnya singkat sambil tersenyum juga, tapi serasa dibuat – buat. Menurutku.

Setelah menyempatkan sholat, pintu teater kami pun akan segera dibuka, dan kami berdiri tepat di depan pintu bersama orang lainnya. Di sana aku merasa sedikit berubah, kamu mulai biasa lagi kita saling bercanda lepas satu sama lain. Tak terasa pintu dibuka dan kitapun masuk bersamaan.

Hal berikutnya adalah kita sama – sama menikmati film ini. Meski aku diam – diam lebih banyak mencuri pandang ke arahmu yang duduk di sebelah kiriku. Setiap mengambil pop corn dipelukan tanganmu aku pasti melihat wajahmu yang sedang fokus memperhatikan film. Rasanya aku tidak peduli kehilangan satu – dua scene, untuk bisa melihatmu dari dekat begini. Ketika aku terlalu lama melihatmu, pasti kamu menegurku dan aku buru kembali memperhatikan layar sambil ketawa kecil di dalam hati.


Dari keseluruhan film yang bagus ini, ada dua scene yang nampaknya membekas kuat diingatanku.

Pertama, tentang bagaimana ingatan Jacob Kowalski dihapus di bawah rintikan air hujan, termasuk memorinya bersama Queeni Goldstein. Sedih sekali rasanya, bagaimana suatu ingatan yang membekas kuat termasuk perasaan, dibuat lenyap begitu saja. Apalagi ketika melihat ekspresi Queeni yang harus merelakan, rasanya aku nggak kuat, aku ingin menangis. Padahal ini bukan film romance, tapi aku sedih sekali rasanya.

Aku membayangkan bagaimana aku harus merelakan semua momen bersama kamu saat itu hilang begitu saja pada waktu – waktu berikutnya, entah karena kita tak pernah lagi bertemu atau saling mengasing. Momen ini juga yang menginspirasiku untuk menuliskan sebuah tulisan berjudul Hujan di Seratus Meter”.

Kedua, bagian di mana Newt Scamander (Newt) harus berpamitan dengan Porpentina Goldstein (Tina) di pelabuhan. Lagi – lagi momen menyesakkan ini membuat rasa haru menyeruak di dada. Aku kembali membayangkan bagaimana dalam hitungan jam aku akan segera berpisah denganmu yang kini begitu dekat denganku. Rasanya aku ingin kembali, berulang kali kembali, atau bahkan tidak pernah pergi. Mataku berair aku tidak kuat lagi, tapi aku memandangimu di dalam gelap, hingga kamu pun tak tahu kalau aku sedang begitu. Aku nggak ingin pergi.

Film itu pun berakhir, tapi rasa sesak di dadaku tak hilang juga. Saat hendak pulang ternyata hujan mengguyur deras kota daerahmu. Aku jadi tertawa kecil dalam hati, ha ha terima kasih Tuhan aku merasa Engkau mengerti bahwa aku sedang tak ingin pulang dan berlama – lama dengannya. Kamu nampak bingung dan khawatir hujan terlalu lama, sedang aku justru kegirangan diam – diam.

Pada akhirnya jemputanmu datang, kita pun kembali pulang, lalu kamu kembali menawarkanku untuk di jemput makan malam bersama di rumahmu. Aku menolaknya. Bukan, bukan menolak makan malam bersama, tapi menolak untuk dijemput. Aku bisa pergi sendiri ke sana, sungguh tak ingin merepotkanmu.


Ketika berbicara makan malam ku kira, itu akan terjadi pada sekitar pukul 19.00 ke atas, ternyata tidak. Katamu makannya sudah di siapkan, jadi sehabis maghrib langsung ke rumahmu saja. Aku pun mengiyakan dan segera bergegas ke rumahmu kembali setelah bebersih singkat.

Sesampainya di rumahmu, aku kembali bertemu dengan Ayahmu sejenak dan Ibumu. Juga dengan Mba Anggi, Mas Egi dan Lexa yang hendak pergi keluar. Ayahmu sudah makan nampaknya, jadi tinggal kita bertiga, aku, kamu dan Ibumu. Selama makan aku banyak mendengar cerita tentangmu dari Ibu. Lucu rasanya mendegarkan cerita dirimu. 

Oh iya, ada yang berbeda dengan pertemuan tadi pagi. Ketika tadi pagi semuanya berpakaian cukup formal menurutku, sedang malam ini hanya mengenakan pakaian harian biasa. Aku seperti bagian di keluarga ini yang sudah biasa bersama. Bahkan aku bisa melihatmu dengan rambut yang diikat ponytail itu, cantik dan lucu ha ha.

Setelah usai makan dan banyak bercerita, kamu menawarkanku untuk menikmati minuman greentea yang kamu beli. Karena kamu juga tahu aku suka itu. Ibumu sedikit heran tentang apa enaknya minuman itu, dan aku hanya bisa senyum tertawa kecil. Dan setelah kamu buatkan minum, ternyata Ayahmu memberitahumu agar mengajakku ke gazebo di pekarangan rumahmu. 

Ah iya! Aku belum duduk di sana, aku mau banget gumamku dalam hati. Aku sudah melihatnya di postinganmu, tapi belum pernah merasakan sendiri nyamannya di sana. Jadi tentu saja aku mengiyakan ajakan Ayahmu, untuk segera ke sana.


Ayah dan Ibumu tetap di dalam rumah, lagi – lagi seolah memberi ruang untuk kita berdua di gazebo itu. Ditemani gemericik air kolam dan kecipak ikan suasana dingin malam rasanya menenangkan. Awalnya kita duduk berdua, sembari menikmati minuman green tea itu perlahan. Bercerita sedikit, lalu saling pandang dan awkward sendiri. Malu – malu gitu, entah aku ataupun kamu selalu buang pandang ketika saling bertatapan cukup lama. Sampai akhirnya aku pun memintamu,

“Nyanyi sambil main alat musik langsung dong, aku mau denger dan liat kamu…” pintaku

“Nggak mau ah, malu.. he he” jawabmu malu – malu.

“Yaah, ayoo dong…” manjaku mulai keluar ketika bersamamu.

Kamu pun akhirnya mengalah, mengiyakan dan mengambil alat musik berwarna merah mudamu itu. Setelah kembali kamu bertanya padaku hendak memilih nyanyi lagu apa, yang kujawab apa aja, asal aku bisa melihatmu bernyanyi. Aku hanya ingin itu.

Kamu pun memulai lagu, dengan nyanyian dan petikan jemari mu itu. Merdu  seperti biasanya, seperti setiap nyanyian lagu yang kamu upload di media sosialmu. Tetapi ada yang berbeda di malam ini. Aku bisa melihatmu bernyanyi. Perempuan cantik yang selama ini paling hanya ku dengar suaranya. Suara yang juga digemari Ibuku, ketika aku memutarnya dan Ibuku diam – diam ikut mendengarkannya dibelakangku.

Aku memandangimu terus, bahkan tidak berhenti. Aku tak ingin menyianyiakan momen ini rasanya. Kamu yang mendapatiku terus memandangimu rasanya sedikit gerogi, lalu berulang kali setelah bertemu pandang dengan mataku kamu menatap ke arah atas, lalu mencoba tenang kembali.

Mungkin akhirnya kamu tak tahan juga sampai akhirnya berkata;

“Kamu kenapa ngelihatin aku terus sih?” 

“Ha ha aku seneng lagian, kapan lagi aku bisa ngelihat kamu nyanyi langsung begini…”

Kapan lagi aku bisa ketemu kamu…” sambungku dengan suara memelan, dadaku bergemetar pelan, mataku mulai basah. Aku sedih sendiri. Aku sedih di momen yang harusnya bahagia. Mungkin aku sedih karena mengerti waktuku bersamamu kelak tak panjang.

Setelah ku kira cukup larut, aku pun berpamit padamu dan keluargamu. Dini hari aku akan mengambil perjalanan kereta menuju Yogjakarta dan lanjut terbang kembali ke daerah perantauanku.

Kamu tahu betapa berat rasanya aku berpamitan denganmu malam itu?


Dini hari saat perpisahan itu pun tiba. Aku kembali mengingat satu adegan dalam film yang ku tonton bersamanya kala itu. Ketika Newt berpamit kepada Tina. Kamu memang tak ikut mengantar kepergianku, tapi kamu menemaniku melalui telepon. Bersama dengan bunyi sirine keberangkatan kereta aku pun berpamit kepadamu. Dan di saat yang bersamaan itu pula kamu mengutarakan apa yang ada di hatimu.

Mendengarkannya aku merasa begitu senang. Bagaimana sebuah perasaan itu hadirnya beririsan. Tapi entah mengapa lidahku justru menjadi kelu. Aku tak bisa membalasmu, pun juga tak bisa membalas pernyataanmu yang sama. Aku ingin, tetapi aku takut.

Lagi, aku takut jika semuanya yang hendak berjalan ini tak berakhir sebagaimana rencana. Aku seperti masih menyimpan sakit dan ketakutan waktu lalu.

Sedang di saat yang bersamaan, engkau begitu jujur dan terbuka padaku. Namun sayang aku justru terlalu pengecut, apa yang aku inginkan justru malah ku hindari. Kamu berujar tanpa meminta jawaban, hal yang membuat hatiku semakin terenyuh tidak karuan. 

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menahan sesak. Perasaan sesak yang tak tahu bagaimana menuntaskannya.


Penggalan Awal Tahun 2017

Kita tetap saling berhubungan baik satu sama lainnya. Dengan segala perasaannya masing – masing. Aku masih saja tidak berkata jujur tentang perasaanku. Sampai akhirnya pada satu waktu aku mendengarmu bercerita bahwa kamu diperkenalkan dengan seseorang oleh Kakakmu. Jangan ditanya, aku sedih mendengarnya. Tapi aku senang juga kalau itu memang yang terbaik untukmu. Aku mendengar setiap detil tentang dirinya darimu. Sosok yang luar biasa menurutku. Alhamdulillah.

Di tengah perasaan sedih itu, aku berkenalan dengan seorang perempuan. Perempuan yang hatinya begitu baik dan menghiburku saat itu. Kami pun saling bersama dan aku yakin kamu pun mengetahuinya.

Entah bagaimana aku menceritakannya, tapi pada akhirnya aku merasa sakit. Sakit karena mengetahui aku sebenarnya tidak pernah baik – baik saja. Aku justru berlindung dan begitu disayang oleh perempuan ini. Tetapi ada bagian hatiku yang belum tuntas, ada sesak di dalam hati yang makin lama makin memberatkan.

Setelah berdoa panjang pada akhirnya aku memutuskan untuk berterus terang kepada perempuan ini, aku tak bisa membersamainya. Karena akan menyakitkan, untuk dirinya, pun demikian denganku. Aku tahu aku orang yang paling jahat sedunia, tapi kalian tak pernah tahu bagaimana sesak dan sedihnya perasaanku saat itu.

Dan aku tak pernah ingin melukai cinta, perasaan yang begitu agung. Hanya dengan perasaan rendah seorang pesakitan.


Mungkin aku sedang berada di titik terendah. Hidupku seolah tidak karuan. Segala rencana dan harapku rasanya berujung gelap tak berujung. Seperti ada kabut tebal yang menutupi masa depan dan jalan berikut ku kemudian.

Aku hendak melangkah, tapi tidak pernah bisa. Ada yang masih mengikat di waktu lalu, dan aku ingin melepaskannya.

Pada satu waktu secara tiba – tiba aku menghubungimu. Mengajakmu untuk bertemu. Aku perlu mengakhiri semuanya dengan baik. Kita pun setuju untuk bertemu di satu tanggal. Dan aku sudah mempersiapkan sesuatu untuk kuberikan padamu kala itu. Kamu juga berkata padaku ada yang ingin dibicarakan tapi ditahan saja hingga pertemuan nanti.

Aku rasa kamu memilih begitu karena tak ingin membebani pikiranku yang kala itu hendak melakukan tes ujian lanjutan pendidikan. Aku paham betul ada sesuatu. Dan aku pun pada akhirnya berterus terang padanya. Rasa – rasanya aku justru memberatkan dirinya kalau begini. Apalagi dia sudah ada seseorang yang itu. Sudah sepatutnya aku menghargai hubungan seseorang dengan pasangannya.

Aku katakan padamu segala kegelisahanku, dan pegertianku bahwa kita tak harus bertemu jika memang lebih baik begitu. Aku tak ingin mengganggu kamu dengan dirinya, ujarku kala itu. Lantas kamu berujar bahwa dirimu sudah tak lagi bersama dirinya. Deg. Jantungku terdiam.

Ada perasaan bercampur saat itu. Senang, sedih, tidak karuan. Tapi sekali lagi setelah sekian panjang perjalanan aku belajar untuk tak menaruh pengharapan. Aku pun  berkata, entah kamu bersama dirinya ataupun nggak apa yang aku utarakan tetaplah akan sama. Tidak akan berpengaruh apa – apa. Aku hanya ingin jujur, padamu yang selalu jujur padaku.

Aku ceritakan padamu setiap perasaanku yang sebenarnya pada setiap tanggal dan waktu kebersamaanku denganmu. Benar – benar setiap tanggal secara detail dan berurutan. Karena aku selalu mengingat detailnya. Awal dan akhirnya.

Seluruh dan sepenuhnya perasaanku.


Ada beberapa bagian yang saat mengutarakankannya aku tak kuasa menahan tangis yang tumpah, dan aku sesenggukan, tapi memang itu perasaanku. Aku tak ingin lagi menahan segala perasaan dalam hatiku kuat – kuat, aku ingin kamu tahu juga apa yang sesungguhnya aku rasakan. Bagaimana segala perasaanku, suka duka, senang dan juga takutku.

Kamu adalah perempuan terdekat untukku. Kamu yang mengajarkanku untuk memulai sesuatu. Bahkan kamu yang mengajariku untuk berani menelfonmu. Aku yang jarang sekali menelfon oranglain terlebih wanita, pada pertama kali hanya bisa diam saat bertelfon kali pertama denganmu. Kamu sampai harus bertanya soal topik pekerjaanku seolah – olah meminta penjelasan padahal kamu hanya memancingku untuk tidak malu berbicara.

Kamu adalah perempuan terdekat untukku. Kita yang saling menemani di waktu yang lalu. Kamu yang bahkan selalu menemaniku meskipun aku bekerja hingga berlarut malam dan terkantuk – kantuk menyelesaikan tugas. Kamu pun sampai mendengar rengekan manjaku saat ngantuk yang tidak pernah sekalipun ku tunjukkan pada oranglain. Aku juga ingat saat – saat memprotes dirimu yang diperbolehkan tidur di waktu kerjamu lalu. Ah, enak sekali ya kamu!

Kamu adalah perempuan terdekat untukku. Yang bahkan begitu peduli dan memperhatikan diriku. Dari kesehatan dan pilihan hidupku. Kamu yang selalu sebal denganku yang begitu meremehkan obat dan kesehatan, pun sebal denganku yang sering kali membeli barang yang bagimu berlebihan. Aku memang tetap pada pilihanku, tapi aku selalu suka cara perhatianmu dalam setiap penjelasanmu selalu kutemukan alasan untuk mengerti kasih sayangmu.

Kamu adalah perempuan terdekat untukku. Kali pertama dimana aku dapat saling bertukar pikiran dan belajar menentukan rencana hidup. Aku ingat sekali bagaimana dahulu kamu sedang memilih hendak melanjut pendidikan atau pilihan  hidup yang lain. Bersama dengan segala pertimbangannya termasuk perihal jodoh dan pasangan hidupku karenanya. Aku yang tak tahu apa – apa hanya bisa menyemangatimu dengan segala pilihan – pilihan hidupmu. Kerjalah pendidikan dan tak perlu ragu soal jodoh dan pasanganmu, pasti perempuan yang baik untuk lelaki terbaik, yakinku padamu kala itu.

Seluruh detail cerita dan perasaaanku sudah kuutarakan semuanya, termasuk tentang cerita dirinya, perempuan baik itu.

Tak ada pengharapan apa – apa sama sekali.

Semuanya tulus kuutarakan karena aku hanya ingin ia tahu apa adanya. Kemudian ia pun berkata jujur tentang bagaimana semuanya, senang sekali mendengar seluruh cerita dan perasaannya. Ada perasaan tenang di sana. Entah ia sedang bersama dia atau siapapun di sana, bagian terpentingnya adalah aku telah mengutarakan padanya apa yang selama ini hinggap di dada.


Perlahan – lahan ia membuka cerita berikutnya.

Bahwa ia memang tak bersama lagi dengan sosok luar biasa yang waktu itu diceritakan, namun kini ia sedang bersama dengan seorang laki – laki yang lain. Sosok yang tak sepenuhnya baru, melainkan teman waktu sekolahnya dulu. Mereka bertemu kembali di tempatnya kini melanjutkan studi. Ah, benarkan? Sudah kubilang kamu tak perlu risau perkara yang satu itu he he, aku tersenyum dalam hati ketika masih mendengarkan ia bercerita. Pendek cerita pertemuan mereka belumlah lama, tetapi dari caranya bercerita aku merasakan sesuatu yang berbeda, ada ikatan yang kuat diantara mereka.

Di sebuah bagian ia berkata, waktu itu lucu/sesuatu. Andai saja suatu hal datangnya lebih cepat mungkin yang terjadi kemudian akan berbeda. Aku mengiyakan setiap kalimat yang diutarakannya. Karena memang begitu adanya.

Dan pada bagian yang lain, ia pun berpesan untuk diriku dikemudian hari. Sebuah pesan pengingat pribadi yang akan aku jaga sepenuhnya.

Hingga kini kami masih berteman baik, sebagai seorang sahabat, seorang saudara ataupun keluarga yang dekat. Kami masih saling bertukar cerita satu sama lainnya. Pada cerita terakhir ia menyampaikan kabar bahagianya padaku, bahwa ia dan pasangannya akan segera menikah Insya Allah di bulan Januari tahun depan. Alhamdulillah. Itu akan jadi kado terbaik dalam bulan kelahiranku he he.

Sebagai penutup, ucapan terima kasih dan doa terbaikku untukmu, aku menuliskan cerita ini. Segala cerita dariku untuk pengantar cerita bahagia hidupku kemudian. Maafkan aku yang terlampau lama menunaikan janji untuk bisa menuliskan cerita tentangmu.

Ini lah tulisanku untukmu, tentang dirimu dan segalanya bagiku.

Izinkan aku sedikit mengutip tulisanmu (“Perihal Pertemuan”):

Didalam hidup banyak orang datang dan pergi. Sudah fitrah sebagai manusia,  bahwa pada setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan, merupakan awal bagi perjalanan lainnya. Tuhan telah menggariskan pertemuan orang-orang yang ditakdirkan bertemu.

Mereka pun datang silih berganti. Ada yang melintas dalam waktu yang sangat singkat, namun membekas di hati. Ada yang telah lama beiringan, tetapi tak disadari kehadirannya. Ada yang datang dan pergi begitu saja seolah tak pernah hadir. Saya yakin ada alasan dibalik pertemuan 2 orang. Yakinlah, semua orang yang kamu temui pasti membawa hikmah tersendiri dikehidupanmu.

Namun jangan khawatir, 1 perpisahan menghasilkan 1 pertemuan, karena akhir sebuah perjalanan merupakan awal bagi perjalanan lainnya. Sedih karena berpisah dengan orang yang telah lama ataupun baru kamu kenal, adalah hal yang normal. That’s totally fine. Tetapi tentunya jangan berlarut-larut. Yakinlah, apabila Allah menghendaki, kalian pasti akan bertemu kembali.

Yaa!~ Semuanya pasti terjadi karena takdir baikNya

Dan, jika Allah menghendaki, kita akan kembali bertemu pada acara pernikahanmu, Insya Allah.

Salam bahagia selalu. Sampai Bertemu Kembali.

dari sahabatmu,
Rakun Kecil.

5_6116064211534610477

*sebuah gambar karya Ydkzk (Kak Jeki) untuk kalian berdua, D & U


Sumber gambar pada judul : google.com

 

20 pemikiran pada “Sampai Bertemu Kembali

  1. Cerita ya bikin deg2 ser haduuuh knapa kok rasanya seneng dicampur sedih siiiihh 😂😂😂😣😣
    Setiap pertemuan dan perpisahan sudah ditetapkan berakhir bahagia atau malah berakhir sedih harus diterima dgn sabar dan ikhlas.
    Udah percaya aja sama Allah, pasti rencana Allah luar biasa untuk kita 😄😉
    Yuuukk smangat melangkah lagi bissmillah 😀

    Disukai oleh 2 orang

  2. Membaca tulisan Mas Toro selalu tersampaikan ke hati 🙂 Semangat, Mas Toro! Sembuhkan luka, peluk erat rasa sakit, buka hati, dan menulis lagi. Semoga Mas Toro segera menemukan sepotong hati yang baru.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ohok. Hai om! Inget aku kan? Ingeeeeet kan??? Wkwkwkwk walau blogku sudah dihapus karena alesan remeh. Jan lupa kita jua pernah bertemu maya/apasih/
    Benerkannnnn benerkaaaaaaan tebakkanku waktu itu, ah om toro ini :”) ini ini apa ini :”) kenapa berakhir seperti ini… Tapi ya sudah skenario terbaik pasti ini. Sabar ya om :”). Hebat banget deh
    Awal cerita, ceritanya persis seperti aku dan mas mas jas kuning (sensoooor). aku jadi takut ceritaku akan berakhir seperti ini. Hiks. Becanda. Dia. Tidak. Tahu. Saya. Hidup. Di. Dunia. Fana. Ini. Tapi lucu ya om belum pernah ketemu sekalinya ketemu kaya gitu ya… Jadi kesimpulannya, kapan kita meet up?
    Terus menulis om, aku selalu siap memahami… Jan hapus hapus lagi. Titik. Semangat!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Wkwkwk inget lah! panjang banget ya sonyaaa 😂😂

      Jgn pernah takut utk memulai cerita, yaa 😳

      Ayu kamu teh juga nulis lagiii, lepas ajaa nulisnyaaa 😊😊🙌🙌

      Kapan meetup sama si cerdas dr upi satu inii :3

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s