Sisi Lain (Bagian I)

“Sometimes the heart sees what is invisible to the eye.” H. Jackson Brown, Jr. 


Tidak dapat melihat, tentu saja menyedihkan dan tidak menyenangkan. Aku pun pernah merasakan hal itu, ya, buta mata yang tidak dapat melihat sama sekali.

Tetapi lebih dari itu, bagiku ada yang lebih menyedihkan.

Yaitu ketika hanya kita seorang diri yang dapat melihat dengan jelas segala hal apa yang ada, sedang oranglain justru tidak bisa melihat.

Atau oranglain hanya tak dapat melihat seperti apa yang kita lihat.


Ini bukan perkara debat sudut pandang atau perspektif.

Ini adalah tentang hal yang nyata, hal yang hadirnya dirasa.

Sebagian dari kita merasa telah melihat apa yang “ada” sebagai hal yang benar – benar ada.

Sebagian dari kita yang lain, ada juga yang dapat melihat namun bertingkah seolah – olah kedua matanya sedang tertutup, alias pura – pura buta.

Antara sedang menolak apa yang nyata atau sekadar berpura – pura tidak tahu.


Seseorang pun pernah mengingatkanku.

Tutup saja matamu, seolah – olah tidak tahu apa – apa. Tak mengerti apa – apa.

Aku memang bisa saja berpura – pura tidak melihat. Tetapi aku takkan pernah bisa berpura – pura tidak mengerti.

Tidak pernah.


Di depan mataku, aku pernah melihat hidup seseorang yang begitu megah dihancurkan begitu saja.

Dan orang yang telah menghancurkan hidup seseorang itu telah menodongkan pelatuknya ke arahku juga.

Aku tidak buta. Aku melihatnya.

Melihat hal yang tidak seharusnya di sana, juga melihat dengan penuh sadar kini bahaya itu telah berpindah membayangiku.

Aku bisa saja berpura – pura buta untuk menyelamatkan diri.

Bersembunyi dengan pelarian.

Atau aku bisa benar – benar buta dengan menerima mati selamanya.

Melawan untuk dihancurkan.

Bagiku akhirnya sama saja, jadi kenapa harus berpura – pura.

Bukankah sudah kubilang, bahwa aku pernah buta?


Aku hanya tak ingin oranglain merasa buta. Dalam pandang mata dan rasanya hatinya.

Selalu ada cahaya atas kegelapan, dan;

Selalu ada bahagia atas kesedihan.

Hadirnya berimbang meskipun memang saling berseberangan.

Memutuskan melangkah jauh bukan berarti bisa memisahkan bagian atas keduanya.

Tidakkah kamu lihat? punggungmu mungkin memang akan menjauh, tetapi bayangmu justru semakin mendekat dengan bayangnya.

Dan jika benar bumi itu bulat, maka langkah jauhmu itu bukankah justru akan memperdekat pertemuan berikutmu dengannya.

Jadi untuk apa?


Aku sudah banyak “melihat” kesedihan, juga “melihat” kebahagiaan.

Katanya, kebanyakan melihat bisa membuat ku buta. Tetapi toh aku belum buta selama – lamanya.

Dan jika memang pada akhirnya dari sekian banyak pasang mata di dunia seluruhnya telah membuta, setidaknya aku bersyukur tetap diberi kesempatan memiliki sepasang mataku yang masih dapat melihat.

Seberapapun kaburnya pandangku. Seberapapun matinya rasa hatiku.

Pun bila nanti tak ada lagi mata untuk melihat, aku masih punya hati untuk merasa.

Dua – duanya selalu sama, sebagai perantara jembatan cerita.

Awal dan mula. Suka dan duka. Hidup dan mati.


Ditulis saat merasa gelisah. Ketika sejatinya yang terjadi antara benar dan salah tak selamanya begitu hanya karena terbiasa atau dibiasakan. 

15 pemikiran pada “Sisi Lain (Bagian I)

  1. Ditulis saat merasa gelisah. Ketika sejatinya yang terjadi antara benar dan salah tak selamanya begitu hanya karena terbiasa atau dibiasakan.

    tapi satu hal yang harus disadari adalah, ada pemilik kebenaran sejati yaitu Allah. jika kita saat ini melihat sesuatu yang kita anggap benar atau pun salah, bisa jadi akan sebaliknya menurut pandangan Allah. kecuali, jika kita katakan benar dan salah berdasarkan kitab suci.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s