Mematahkan Sendiri

Sepertinya aku sudah mematahkan lengan kiriku sendiri.


Hari ini Sabtu, aku sudah berencana menyelesaikan sebuah tulisan dari beberapa coretan. Namun sedari pagi hingga malam ini, tulisan – tulisan itu justru tak kunjung jua ku sentuh satu huruf pun.

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Katanya. Tetapi tetap saja bagian terpentingnya ya usaha. Kalau tidak kita sendiri yang melakukan bagaimana bisa mencapainya kan? Karenanya paling tidak pada malam ini juga aku pun ingin membuat sebuah tulisan. Untuk membayar janjiku pada diri sendiri di hari lalu.


Pagi ini seseorang memberi kabar bahwa dirinya mengalami kecelakan kendaraan bermotor bersama dengan seorang temannya. Ada beberapa luka di kakinya, ia mengirimkan beberapa gambarnya padaku. Bersamaan dengan beberapa emote sedih di sana. Aku tau dia sedang terluka, dan berusaha mengabariku. Entah aku yang sudah mati rasa atau terlalu dingin, jawabku hanya datar. Sebuah ucapan lekas sembuh untuknya, dan doa yang kukirimkan pelan dari kejauhan.

Perasaan peduli itu rasanya sudah berubah menjadi seadanya. Sewajarnya.

Berikutnya hari Sabtu ini kuhabiskan dengan banyak beristirahat. Aku dan teman – teman tidak ada urgensi untuk mendatangi kantor di akhir pekan seperti biasanya. Hanya ada sebuah lembar isian elektronik yang perlu diselesaikan sesuai instruksi atasan di grup pesan kantor. Sepertinya akan cukup banyak waktu istirahat untukku hari ini, batinku. Malam nanti aku bisa menulis.

Nyatanya, sepanjang siang aku justru tak beristirahat. Pada lantai tiga kostku justru begitu bising, Bapak pemilik kost dan beberapa pekerjanya sedang sibuk memasang genset baru di lantai tempat kamarku ini. Awalnya genset itu letaknya di lantai bawah, namun sejak ada audit dari pihak maskapai kemarin, akhirnya genset itu harus dipindah lokasinya. Oh iya, sebelumnya aku perlu bercerita, pemilik kost ku ini juga membuka usaha catering yang cukup besar, dan salah satunya sebagai supplier catering maskapai burung unggas bersayap biru itu.

Jadi setiap pagi, siang, dan malam, menu makanan kami ya menu makanan para pilot, pramugari, dan penumpang pesawat itu. Terkadang Bapak dan Ibu kost juga mengambil orderan dari maskapai lain ataupun pesanan dari pihak lainnya. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kali ini. Akibat hasil audit itu, maka areal catering harus dibuat se-steril mungkin, sehingga peralatan diluar keperluan masak – memasak harus sebisa mungkin dipisahkan. Termasuk genset tadi.

Begitu bising suaranya, mulai dari mesin las, hingga berulang kali bunyi mesin genset meraung karena harus dicoba nyalakan. Akupun tidak bisa tidur, dan memutuskan menutup telinga dengan headphone sembari membaca buku, hingga sore  hari.

Malam harinya, ada agenda yang lain. Aku berencana untuk menulis, namun rupanya teman – temanku ingin nonton film bersama di kamarku. Lantas aku pun mengiyakan mereka, ketika mereka sedang makan malam di lantai satu, aku sibuk sendiri mempersiapkan kamarku. Setelah sebelumnya keluar sebentar untuk membeli sedikit cemilan bersama, aku pun bergegas kembali ke kost. Mengatur beberapa tata letak ruang agar teman – temanku nyaman di sana. Musibah itu pun terjadi.


Ketika hendak mencuci perkakas di lantai tiga, aku melangkah melalui lorong. Sembari membawa piring dan lainnya di tangan kananku, serta sebotol sabun cuci cair di tangan kiriku. Aku melangkah agak cepat di lorong yang agak gelap itu. Agak cepat sehingga aku tidak bisa melihat permukaan jalanan di lorong itu, juga karena pandang langkah kakiku tertutup piring yang ku bawa tadi. Tanpa sadar ketika melangkah, kaki kananku memijak sebuah penampang datar dan aku terpelanting kuat.

Rupanya di lorong itu tadi ada sebuah nampan berisi piring, gelas kecil dan sebuah wadah minuman jus dingin sisa kerja bapak – bapak siang tadi. Dan karena dingin, maka ada bulir – bulir embun airnya di sana. Itu yang membuat permukaan nampan menjadi begitu licin, dan menjadikanku terpelanting begitu kuat. Piring dan gelas di nampan itu terpental kemana – mana, sedang tangan kiriku masih menggenggam sebotol sabun itu dan tangan kananku masih tetap memegangi piring yang ku pegang tadi.

Sepersekian detik aku melayang di udara, pikiranku berputar cepat. Aku tak boleh jatuh di tulang ekorku, maka aku segera memiringkan badanku ke kiri karena sangat tidak mungkin aku membanting ke arah kanan sebag bagian tangan kananku masih memegangi piring. Badanku sempurna menghantam keras lantai dengan posisi siku kiri menumpu berat badan seluruhnya.

Setelahnya otakku berhenti. Benar – benar berhenti. Aku ngeblank. Seolah hendak memproses apa yang sudah terjadi. Apa penyebab aku bisa terpelanting dan sebagainya. Memikirkan ada benda pecah belah apa, ada puing beling di mana, dan bagian tubuhku mana yang merasakan sakit. Suara gaduh barang pecah belah membuat riuh kostku, hingga ke lantai bawah. Hingga ke lantai satu tempat teman – temanku yang sedang makan.


Dalam keadaan masih bertumpu dengan tangan kiri, aku mencoba bangkit. Masih saja memegangi barang – barang yang ku pegang tadi. Mataku melihat ke sekitar, sudah berantakan semuanya di lorong itu. Aku sudah tak peduli lagi ada cairan apa dan warna apa di sana, bagian terpentingnya aku harus segera menyingkir dari tempat itu. Tak lama teman – temanku berdatangan ke lantai atas karena mendengar suara gaduh tadi, dan mengkhawatirkanku yang mereka tahu hanya ada seseorang di lantai tiga saat itu.

Mereka membantuku untuk menyingkir dan membersihkan kekacauan di lorong itu. Ada rasa nyeri memang, tapi entah kenapa aku merasa lucu juga. Kok bisa ya aku terjatuh? Dan kenapa ada nampan di sana? Kenapa kakiku secara kebetulan mengijak kuat dan cepat di sana? Menciptakan daya dan momentum yang cukup kuat hingga membuatku benar – benar terpelanting ke udara. Menghamburkan semua yang ada di lorong itu, termasuk menghamburkan rencanaku di malam ini?

Ah tidak. Aku tak ingin segala persiapanku tadi sia – sia. Kepada teman – temanku, aku bilang tetap saja diteruskan rencana kami malam ini. Untuk tetap menonton film bersama – sama. Dengan beberapa persiapan kecil setelahnya kami pun melanjutkan rencana. Seorang rekanku membantu mengambilkan  obat – obatan untukku. Sembari berbaring aku ikut menonton bersama – sama temanku.

Kebersamaan itu serasa obat penahan rasa sakit untukku. Meski lengan kiriku sempurna merasa nyeri dan kubiarkan terbaring lurus, aku tetap bisa tertawa dan bercanda bersama – sama teman seolah semuanya tidak pernah terjadi. Memang ada beberapa kebiasaan menggerakan tangan kiriku secara spontan yang terkadang menciptakan nyeri (seperti hendak mengambil barang, atau membetulkan posisi kacamataku, termasuk berkirim pesan) tapi itu hanya sesekali.

Hingga tengah malam ini nyatanya rencana kami berjalan sebagaimana mestinya.


Aku telah membuktikan sesuatu, manusia memang berencana tapi Tuhan yang menentukan. Dan kita tetap selalu bisa berusaha ,bukan?

Aku bisa saja memilih berbaring dengan pesakitan sendiri sepanjang malam. Tapi aku justru memilih mengabaikannya dan memilih turut bahagia bersama teman – temanku. Bagaimanapun keadaannya.

Ada hal – hal yang tak bisa kita rencanakan dan kita paksakan, bukan? Ketika kita berencana bukankah kita selalu bisa menerima segala kemungkinan yang terjadi? Jadi untuk hal yang tidak kita rencanakan sekalipun seharusnya berlaku hal yang sama bukan?

Rasa sakit yang datang takkan bisa kita hindarkan, dan rasanya itu adil mengingat kita pun takkan menghindar saat rasa senang itu datang. Karenanya ketika kita hendak mengeluh, bukankan lebih bijaksana ketika kita justru mencoba untuk merenungkannya terlebih dulu?

Segala kemungkinan itu datangnya begitu cepat dan tak terduga – duga. Tetapi kita selalu diberi kesempatan untuk bereaksi atasnya. Tuhan selalu adil. Bahkan pada momen sepersekian detik musibah itu menimpa diriku, aku masih diberikan kemampuan untuk memilih atas nasibku sendiri. Membanting badanku ke sisi kiri jadi pilihanku ketimbang terjatuh dengan posisi terduduk. Tidak tahu bagaimana ceritanya jika justru tulang ekorku yang patah bukan lengan kiriku.

Keduanya memang menyakitkan tapi semua adalah pilihan dari hadirnya sebuah kemungkinan. Lagipula bukankah hidup sendiri adalah bagian dari kumpulan pilihan dalam hidup kita?


Kuatlah. Bangkitlah sendiri.

Jatuh mungkin memang bukan inginmu, namun antara tetap berbaring dan beranjak berdiri itu adalah pilihanmu sendiri.

Berbaring bisa jadi menambah luka, meskipun berdiri juga bukan jaminan lekasnya kesembuhan. Tapi paling tidak itu menyegerakan langkahmu ke arah sana.

Dan oranglain pun akan lebih ringan membantumu, dibanding beratnya ketika dirimu justru memilih nyaman diam di pembaringan.

Selalu ada pilihan di sana, dan selalu ada berjuta kemungkinan lainnya setelahnya.

Karena ketika kamu telah menentukan pilihan, semesta pun menyertaimu dengan segala kehendakNya.

“Be patience and tough! someday this pain will useful to you.” – Ovid 


Scars we carry
Carry with memories, memories burned by the dark
Try to see clearly
Tears we bury
Bury in vain cause the pain got us falling apart
Try to see clearly

Now let the healing start
The fires out of guns
We keep it in our hearts
We’re like a thousand suns
Ooh, yeah, every day, step by step, we dare to love again
And if we lose our grip, meet you at the end 

Know they’re cutting you deep
Feel the scars in your sleep
What didn’t kill us made us stronger
Stories left on our skin
Wear them with everything
What didn’t kill us made us stronger 

Don’t feel lonely
Loneliness kills all the thrill from standing alone
Try to see clearly


Sumber gambar : Google.com

**personal note: Yeay, pencapaian yang lain! nulis dengan sebelah tangan XD

23 pemikiran pada “Mematahkan Sendiri

  1. Kadang kita merasa bisa melakukan banyak hal sendiri. Padahal kita punya kemampuan terbatas meski hanya untuk membawa beberapa barang ringan.

    Kadang kita juga merasa bahwa lebih penting tidak membuat barang yang kita bawa berantakan dengan membuat pilihan yang menurut kita benar. Padahal setiap pilihan mengandung resiko masing-masing.

    Tapi sebesar dan seberat apapun konsekwensi dari sebuah pilihan, Tuhan sudah membuat rencana terindah di balik semuanya. Dan hanya orang-orang tertentu yang punya kesempatan untuk membuat pilihan

    Get well soon Mas… Didoakan dari jauh…

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s