Ambisi



“Ini semua soal ambisi. Bukan. Ini semua soal batasan. Dan kamu seharusnya tahu, batasan kamu di mana.”

“Jangan khawatir. Saya orangnya cukup masuk akal. Sama kayak kamu, saya juga punya ambisi. Tapi di dunia kita ini, kita harus maju langkah demi langkah. Dan kamu, seharusnya masih jauh di bawah sana untuk bisa ketemu saya sekarang, di sini.”

Kalimat itu terngiang – ngiang di dalam kepalaku, sampai saat ini.


Akhirnya aku dapat bertemu dengan beliau. Sosok yang kuharapkan dapat di percaya.

“Kamu hubungi saya?”

“Paka.” aku memperkenalkan diriku kepada beliau.

“Saya tau siapa kamu.”

“Atasan saya bilang, saya bisa percaya Bapak.”

“Atasan kamu gak salah.”

“Pak Mathius, silahkan keluar.” beliau meminta Pak Mathius yang ikut mendampingiku masuk sedari tadi agar segera keluar ruangan. Aku pun bingung dan kikuk dibuatnya. Takut. Cemas.

“Gak apa – apa. Kamu santai aja. Duduk, duduk.”

“Percaya sama saya. Hari ini kamu ditemani dia, esok hari dia bisa menikam kamu.”

“Dengan begini dia nggak bisa cerita apa – apa tentang kamu, tentang kita.”

“Kita?”

“Unit saya tugasnya untuk melacak bangsat – bangsat yang korupsi seperti ini. Dan saya pengen kamu membantu saya untuk melacak yang lebih banyak lagi. Divisi kita memang kecil. Tapi ada alasannya kenapa kecil. Kepercayaan.”

“Kepercayaan pak? Tapi kita punya bukti. Kita bisa maju ke sidang, saya bisa jadi saksi.”

“Kamu cuma butiran debu, yang bisa disapu gitu aja sebelum kamu sempat ngapa – ngapain. Saya udah hapal yang beginian, dan akhirnya kita cuma dapetin cecunguk – cecunguk kayak nama yang kamu kasih ini.”

“Nah, kalau kita ingin membersihkan unit besar ini sampai bersih, kita harus tangkap mereka. Nama – nama yang penting.”

“Kamu suka gak suka sama peristiwa hari ini, mereka udah punya nama kamu. Mereka udah nandain nama kamu, kamu bakal diincar sampai tuntas, kalau perlu karirmu dijegal supaya gak sampai ke atas.”

“Kalau kita tidak cepat bertindak. Kamu bakal hilang. Keluargamu juga. Tapi gak harus seperti itu. Kalau kita diam – diam aja. Kalau kamu gak buka mulut, sampai subuh besok ini bisa dibersihkan, saya bisa lindungin kamu.”

“Peristiwa hari ini, kamu nggak pernah ada. Kamu tidak pernah ada di tempat. Bagi mereka kamu cuma anak ingusan. Mereka juga tidak akan sadar kalau satu nama hilang dari laporan.”



“Jadi mau Bapak bagaimana?”
tanyaku, hendak mengerti apa maksud beliau.

“Saya mau kamu gabung sama unit saya. Kamu bakal dilatih ulang sampai punya kemampuan yang lebih baik. Untuk membela kepentingan yang benar. Bagaimana?”

“Maaf pak, saya tidak tertarik.”

“Coba kamu ulang?”

“Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya bawa nama – nama ini untuk ditahan. Supaya mereka di tindak hukum.”

“Dan mereka kita singkirin supaya kamu yang tetap di sini! Di dunia ini gak ada perang bersih. Buka mata kamu!”

“Sudah cukup banyak yang bikin mata saya terbuka, Pak!”

“Yah, mungkin tujuan kita memang sama, tapi saya gak mau ngikutin cara Bapak untuk ke sana.”


Pada satu tempat, dan ruang yang cukup tertutup. Di waktu yang lain. Saya berdiri di sana. Di antaranya. Mereka yang sedang bercakap – cakap.

“Maaf. Ada apa lagi ya? Itu duitnya udah saya taroh di amplop.”

“Masih kurang.”

“Kurang? Gua hitung sendiri. Udah pas.”

“Oh, iya. Kalau bulan lalu sih emang pas, gak ada masalah. Tapi kalau ini, kamu masih kurang 50 juta.”

“Sorry, gimana maksudnya? Lu lagi bercanda, kan?”

“Selama ini kerjasama kita aman – aman aja. Tapi uang setoran yang ada di dalam amplop ini cuma cukup buat nutup usaha di depan lo ini. Nggak cukup untuk nutupin apa yang lu jual di belakang kita.”

“Ah, bukan itu? Itu cuma…”

“Lu gak perlu ngeles, kita udah tau semuanya. Berhubung kita udah tau tentang usaha sampingan lu, uang setoran lu baru aja naik. Lu cukup merogoh kocek sedikit lagi, dan kita nggak akan pernah ngungkit masalah ini lagi.”

“Tapi sekarang lu tolong bantuin gua isiin amplop ini, masih rada enteng soalnya.”



Beberapa malam berikutnya dia nampak kesal. Entah, kesalnya dengan alasan yang nampak dibuat – buat pula. Atau sebenarnya justru dia sedang kesal denganku?

“Gila yah! Udah kacau semuanya. Semuanya harus mulai lagi dari awal. Dari kita. Seperti dulu. Dulu kalau kita masuk ruangan semua orang pasti diam. Takut sama kita. Karena mereka tau kita bisa ngelakuin apa aja.”

“Zaman udah beda. Nggak mungkin mereka nggak takut lagi sama kita seperti dulu. Dan bukan berarti kita kehilangan kekuatannya. Kita udah tau cara ngendaliinnya, makanya (mereka) hormat sama kita. Dan kita nggak perlu lagi rasa takut, karena kita udah dapat rasa hormat. Itu yang paling penting.”

“Ya dulu itu penting. Dulu. Tapi sekarang udah nggak lagi.”

“Orang zaman sekarang udah gak peduli dulu seperti apa. Mereka Cuma liat sekarangnya gimana. Hormat? Udah nggak ada artinya lagi buat mereka.”

“Itu udah sering kejadian Mas Tio. Kita ngadapin bajingan – bajingan yang kepingin berdiri. Percaya sama saya, mereka nggak pernah tahan lama. Kalau giliran mas yang sudah pegang kekuasaan, mas bakal liat sendiri. Mereka jatuh sama seperti bapak mas lihat.”

“Mas punya kekuatan yang sama. Saya lihat sendiri saat mas kecil dulu. Jangan sampai hilang kekuatan itu. Tapi belajar cara ngendaliin. Kalau begitu pasti, bisa – bisa mas bisa sehebat bapak.”


Sudah cukup lama saya membersamai orang ini. Dan pada siang itu saya banjir keringat dingin. Apakah mungkin samaran saya sudah terbongkar semuanya?

“Saya sudah banyak liat orang – orang jatuh sebelum waktunya. Sebetulnya mereka bisa bertahan di atas kalau mereka tau kapan harus berhenti. Tapi mereka nggak tahu.”

“Ujung – ujungnya, mereka semua jatuh di tempat yang sama. Lubang yang sama. Di bawah sungai yang sama. Batu dalamnya, ini kenyataannya. Kalau mau ikut kita, ikut kita. Gampang. Mereka hilang begitu cepat, dan saya melihat ini ada di Tio.”

“Saya sudah coba berpaling, tapi nggak bisa. Bakat itu memang ada sama dia. Saya sudah banyak sekali kehialngan hal dalam hidup saya sebelum saya sadari bahwa itu berarti. Saya nggak kepengin ini terjadi sama dia.”

“Ga mungkin, pak. Selama di bawah arahan bapak, Tio sangat hormat dengan bapak.”

“Mudah – mudahan kamu benar. Tapi perasaan saya tidak pernah salah. Belakangan inikan kamu seperti bayang – bayangnya. Jadi kamu jaga dia yang benar. Kamu lihat ada hal yang aneh sedikit saja, kamu lapor sama saya. Kalau nggak, seperti yang saya bilang tadi. Jatuh di tempat yang sama, di bawahnya sungai yang sama. “

“Hmm. Mudah – mudahan kamu pinter berenang.”

-o-


***steganografi***