Musim Dingin

Bagi mereka yang tidak begitu mengenalku, aku dianggapnya sebagai satu  hal indah. Hal yang hadirnya kadang sudah dinanti – nanti. Ataupun sebagai hal yang hadirnya hanya dalam perandaian dunianya saja. Tanpa mengecualikan mereka yang justru datang dengan sendirinya menemui diriku, musim dingin.


Aku takkan pernah bertanya langsung pada mereka, tentang apa sebab hadirku disambutnya dengan begitu suka cita. Mungkin akunya saja yang terlalu malu bertanya, atau memang diriku yang enggan mengetahuinya–lantaran dengan membiarkan mereka bermain – main dengan kesenangannya juga telah membahagiakanku tanpa alasan?

Memang tak pernah kudengar langsung, tapi aku selalu dapat kuketahui cerita – cerita mereka pada temannya di musim lainnya, teman – temanku.

Katanya aku putih yang menyenangkan. Putih yang disangka lembut menyejukkan. Putih yang senang diajak bermain – main seharian, kalau bisa selamanya. Putih yang hadirnya istimewa, karena jarang – jarang hadir dalam waktu hidupnya. Putih yang diharap datang dengan baik dan segala hal indahnya.

Dingin yang datang di antara panas musim lainnya.

Tak perlu bohong, aku senang mendengarnya. Mengetahui sedikit kiranya hadirku  ternyata dapat membawa kesenangan bagi mereka. Namun, ada sedikit senyum getir khawatir di sana. Kalian tak pernah tahu aku siapa, mengapa, bagaimana dan rentetan tanya lainnya tentangku.

Tanpa pernah tahu bahwa aku sendiri takut. Jikalau sebenarnya yang aku selama ini selalu kubawa adalah kematian.


Kedatangan yang diam – diam mematikan. Merubah hangat menjadi dingin membeku. Menjadikan apa yang sudah terbiasa mengalir jadi terhenti mati. Membatasi kebebasan karena aku begitu membahayakan. Begitu buruk dan menakutkan.

Itu semua yang ada di pikiranku. Dan itu pula sebabnya aku tak pernah hadir di awal tahun tanpa membuatmu sempat bersiap lebih dulu. Karena aku begitu takut menjadi penghancur segara harap impian baikmu. Datangku lambat, kalau bukan karena di desak sang angin mungkin aku tak pernah berangkat.

Kamu bisa bermain – main denganku, membersamaiku, namun kurasa takkan pernah selamanya. Karena yang selamanya perlahan justru akan mematikan. Itu yang sudah kupercaya sedari dulu.

Buktinya, mereka yang tak mampu menyesuaikan diri kelak mati sembari merengkuh dirinya sendiri. Tak perlu kuceritakan juga bagi mereka yang lantas pergi ke belahan dunia lain karena mencari hangatnya musim lain.

Padahal hadirku juga tak pernah selamanya.


Selimut tebal putihku lambat laun juga akan menghilang pada waktunya. Sinar matahari yang hangat itu akan menghapusku pelan – pelan, tanpa perlu kau minta. Seperti awal rajukmu tentang kapan hadirku dan akhir rengekmu tentang kapan ini semua akan berakhir.

Aku hanya datang pada waktuku, dan aku takkan pernah pula mengambil waktumu.


Sumber gambar: Google.com

16 pemikiran pada “Musim Dingin

  1. Jadi bilanglah pada si musim dingin itu; walau emang dia spesial, jangan terlalu edgy dan ngerasa jadi special snowflakes, deh. Temen-temen nya pun dalam kebahagiaan yang diciptakan dalam masanya masing-masing, juga memiliki sisi kejam yang disimpan rapat-rapat, diam-diam. Tentu juga ada yang lebih menunggu temannya ketimbang si dingin.

    Jadi pada dasarnya ya sama aja, si dingin nggak seberapa kelam seperti yang dia pikirkan, semoga pada akhirnya dia ngga jadi ss lagi dan lebih mencintai dirinya sendiri ya.

    Nice post anw. 😉

    Disukai oleh 1 orang

      1. Krn dia ngerasa kelam bener, ngerasa ditungguin, paling beda, ss ga dalam artian dia jd ngerasa superior ketimbang temen-temennya. Lebih ke ‘we jangan suka ak! ak rese lo boring lo sukanya nyakitin orang lo’ intinya ngerasa beda ga dalam artian optimistik. Ahahahahahaha gw ngmg apa coba.

        Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s