Berlabuh atau Berlayar Jauh?

Padamu banyak kusampaikan tentang deretan kisah mengarungi lautan. Menjumpai berbagai daratan. Dengan seluruh kesan dan kenangan yang menggenapinya.

Jelas – jelas seluruhnya kuutarakan padamu. Bukan hanya tentang suka citanya, tetapi juga susah payahnya. Namun, raut wajahmu tetap tak berubah. Kamu terlihat begitu tertarik mendengarkan ceritaku, seolah ingin merasakan juga kisah milikku itu.

Dan untuk beberapa saat aku jadi diam tertegun. Ragu – ragu, hendak meneruskan ceritaku lebih jauh atau kututup saja kalimatku dengan huruf terakhirnya.

“Aku ingin berlayar denganmu.” ucapmu padaku begitu yakin.

Aku bisa melihat kesungguhan dari kedua tatap bola matamu saat itu. Di hadapanku, perempuan ini terang – terangan mengajakku. Padahal jangankan mengajak perempuan, mengajak oranglain untuk ikut dalam jalan ceritaku saja aku tak pernah.

Bukannya berlagak tangguh sendirian, namun nyatanya, sungguh aku merasa khawatir jika semuanya berakhir kecewa. Mengecewakan diri sendiri? Aku sudah biasa. Namun membuat oranglain kecewa, aku benar – benar tak mau. Karenanya ketika dia berkata begitu, aku tak bisa menjawabnya. Aku justru memilih pulang dengan membawa sejuta jawaban dan pemikiran yang kusimpan sendiri.


Aku melihatmu duduk di tepian pantai itu pada setiap sore. Memandangi senja yang lambat laut hilang menghitam. Tak jauh darimu, dalam kegelapan aku selalu siap untuk berlayar. Berlayar yang untuk bekerja, pemenuhan seluruh tanggung jawabku, dan juga caraku untuk dapat bertahan hidup.

Paling tidak untuk hari berikutnya, berulang kali seperti itu. Sama sekali tidak tergambar rencana besar nan jauh di sana. Gambaran hidupku hanya sebatas hari kemarin, hari ini, dan hari yang esok. Masing – masing sebuah, sepotong, sehari. Tidak banyak – banyak, karena ruang pikirku sangatlah kerdil.

Selalu ku sapa dirimu di setiap keberangkatan, dan kamu selalu saja menyemangatiku dengan senyummu itu. Senyum yang pada akhirnya menggetarkan jangkar hatiku dari tepian ketakutan.

Siang itu aku menemuimu. Menyampaikan ajakan untuk berlayar berdua, bersama dirimu. Jawaban yang keluar dari bibir tipismu kala itu, jadi penanda mula kisah perjalanan. Sama seperti dirimu yang menyukai segala kisah pertualangan, aku juga sedang senang. Karena dari sekian panjang perjalananku, barulah kali ini aku memulainya dengan tak lagi sendirian.

Kamu dan aku sama – sama memiliki tujuan. Meski berbeda, itu sama sekali tak jadi perdebatan. Meski kemudi dan naungan hanyalah satu, kita tetap bisa berlayar kemanapun tujuannya. Memilih rute perjalanan menjadi hal yang mengasyikan. Adakalanya tujuan kita saling bertolak belakang, dan kita sungguh tak pernah berkeberatan untuk berlayar ulang. Kita saling membagi tujuan dalam wadah kebersamaan.

Katamu, ini semua telah dimulai dari keinginan kita berlayar berdua, maka jika kita hendak berdebat hanya karena perbedaan tujuan, seharusnya sedari awal kita berlayar sendiri – sendiri. Kita bukan sedang di angkutan umum yang bisa berhenti sembarangan di tepian jalan. Aku tersenyum mendengar penjelasanmu sembari menahan geli. Kucubit pelan pipimu yang sedang serius – seriusnya menjelaskan.

“Bang kiri bang ha ha…” ujarku yang dibalas tepukan di bahu kananku. Kamu juga tertawa meski tadi sempat terlihat kesal.


Takkan pernah ada habisnya jika kutuliskan satu persatu cerita perjalananku dengannya dalam lembaran. Kepalaku merekam semua momen yang terjadi mulai dari hari itu. Dari gerak tubuhnya, pakaiannya, hingga tiap detil ekspresi kecil yang muncul di wajahnya. Sumringah senyumnya, hingga cemberutnya. Dan kurasa ia pun begitu, tahu betul apa – apa yang sedang kurasakan. Meski diam – diam kusembunyikan.

Seberapapun usaha kami menyimpan sendiri masalah, pada akhirnya akan saling merasakan juga. Mau bagaimanapun perahu kita satu, bukan?

Panjangnya perjalanan membuatku mengerti sesuatu. Hidupku tak sebatas hari kemarin, hari ini, ataupun hari esoknya. Dia panjang ke depan. Atau bisa saja berhenti tiba – tiba. Ada hal – hal yang tak terpikirkan oleh ku selama ini. Sesungguhnya sedari awal aku tak pernah sendirian. Aku mulai ingat, hidupku, perjalananku bukan hanya tentangku seorang diri. Juga tentangnya, juga tentang anakku nanti. Oh, kalau begitu bukankah aku juga anak dari sepasang orangtuanya? Lantas bagaimana orangtuaku, apakah perjalanannya sudah membahagiakan? Kapan sudah terakhir kali aku berbagi cerita kepada mereka?

Perlahan – lahan rasa rindu itu mengikat kuat di hati. Semakin lama semakin kuat, hingga menyesakkan hati. Ada yang perlu aku lepaskan. Aku rindu Ayah, Ibuku, Adikku, keluargaku. Aku ingin pulang. Ke daratan tempah kelahiranku, tempatku bertolak kali pertama.

Ku sampaikan padamu bahwa aku hendak pulang dahulu, dan kamu pun mengiyakan. Sebab ternyata kamu juga sudah lama ingin bertemu dengan keluargaku. Hari itu aku seperti telah melakukan perjalanan terjauhnya, karena di hadapanku daratan “pulang” kini jadi titik perjalananku.


Ayahku memintaku untuk memanggilmu, mengajakmu untuk bertemu dengan Ibuku. Perempuan penuh cinta yang mengajariku untuk berlaku lembut dan penyayang kepadamu. Kamu terlihat senang meski malu – malu. Ketika tinggal berdua kamu berulang kali mengulang cerita perasaanmu padaku, jantungmu tak berhenti berdegup kencang katamu.

“Kamu senang ketemu keluargaku?” tanyaku penasaran.

Kamu menjawabnya dengan anggukan kuat. “Senang!” jawabmu dengan mata berbinar – binar, khasmu ketika sedang menyukai sesuatu.

Selama ini aku berdoa agar kita dizinkan untuk selalu bersama. Namun, kini rasanya aku merasa doa itu terlalu kecil. Aku pun berdoa agar kami semua dapat menjadi satu keluarga yang bahagia. Bukan hanya tentang aku dan kamu, tetapi juga keluarga kita. Bukan lagi cerita perahu layar kecil tapi kini sebuah bahtera besar. Aku berdoa padaNya, berulangkali, kusebutkan namamu di sana, berharap dengan begitu doaku tercatat dengan sempurna pada skenario baikNya.


Kepulangan, berikutnya juga jadi pelajaran untukku. Bahwa tak selamanya kita akan melakukan perjalanan, dan tak semua urusan ada di lautan. Ada hal – hal lainnya yang hanya ada di daratan. Juga harus ingat, ini bukan hanya tentang suka citanya tapi juga susah payahnya.

Kamu ingin kembali berlayar segera, sedangkan saat itu aku harus menuntaskan urusanku di daratan. Keluargaku memerlukan bantuanku. Sebenarnya bukan bantuan, tapi sudah seharusnya baktiku pada mereka.

Ayahku berulang kali mengucap maaf padaku, meminta maaf jika kiranya semua hal ini menjadi beban perjalanan hidupku. Di saat itu aku merasa sedih, malu, juga merasa menjadi anak yang durhaka. Sudah sedemikian rupanya kah diriku hingga seorang ayah bahkan harus meminta maaf ketika mengutarakan pinta pada anaknya. Ayah, sungguh engkau tak perlu yang demikian, bagaimanapun diriku jugalah hasil panjang perjuangan perjalananmu dahulu. Seluruh budiku ada untukmu Ayah.

Ibuku mengucap pesan padaku, agar jika hendak kembali pergi–janganlah berlayar jauh – jauh. Ibu tak kuasa menahan rindu, tuturnya. Aku sungguh ingin selalu membersamaimu Ibu. Bahkan jika dapat ku memilih aku ingin mengajakmu untuk terus bersamaku. Agar dirimu beristirahat, tak perlu bersusah payah bekerja lagi tiap harinya. Engkau selalu saja dengan wajah teduhmu meski sedang dirundung beban nan pilu, Bu. Aku juga ingin memenuhi pinta dan pesan darimu, bagaimanapun usahanya.

Itu kisah dari daratanku yang tak pernah kuutarakan padamu. Aku takut dirimu terbebani karenanya. Karena aku yakin kamupun punya kisah dari daratanmu sendiri. Tak pernah ingin ini semua jadi batasanmu untuk berlayar jauh.

Kita semua sedang kehabisan waktu, angin darat – angin laut tetap terus berhembus bergantian. Kita tak lagi sedang mengulang masa lalu, kamu yang menunggu senja, atau aku yang diam – diam berangkat di kegelapan. Lagi – lagi yang harus ada adalah kepastian, kemauan, dan kenyataan.

Siang itu aku kembali menemuimu, tapi bukan untuk mengajakmu pergi ke pelayaran. Aku justru melepas ikatanmu. Segala yang ada padaku saat ini hanya akan menjadi jangkar pada perahumu. Sedangkan aku begitu tahu, kamu ingin berlayar jauh. Dan orang – orang sepertiku hanya membuatmu berhenti di tepian, berlabuh tanpa batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Aku tak mau yang begitu. Karena kita pun sama – sama telah mengenal angin. Ada jenis angin yang berhembus semabarangan, tanpa arah dan tujuan. Dan ada angin yang berhembus pada waktunya, dengan arah dan tujuannya yang tetap pada saatnya. Aku ingin jadi yang kedua, angin yang membawa mu untuk tetap berlayar jauh, tetapi aku juga takkan pernah jadi kedua – duanya. Angin darat atau angin laut aku harus menentukan pilihannya.

Daratan memerlukan ku sebagai angin laut, agar segera pulang berlabuh. Sedang dirimu memerlukan angin darat agar dirimu dapat segera berlayar jauh.

Ini hal yang tak menyenangkan, bukan untukmu juga bukan untukku.

Malam itu kamu pun datang padaku, membawa semua cerita perjalanan kita sedari awal. Mengajakku untuk mengingat kembali segalanya dari permulaan. Mengingatkanku agar aku tak pernah lupa. Tetapi kamu salah, aku memang tak pernah lupa, takkan pernah lupa. Bagaimana bisa aku lupa seluruh panjang cerita yang menjadi pengiringku hingga ke saat ini. Meski harusnya menyenangkan, namun entah kenapa seluruh kisah ceritanya dari awal justru membuatku semakin sakit dan tak ingin menyiksanya dengan ikatan yang lebih lama.

“Seberapapun jauh perjalanan, pasti kita akan bertemu dengan dirinya nanti. Kepulangan.” ujarku menutup perjumpaan. Penanda akhir kisah perjalanan.


Meski tak lagi berlayar bersama, seringkali setiap sore kamu berbagi cerita denganku. Perihal apa saja, tentang nyanyian burung camar, tentang kerang yang terbawa ombak, atau deruan hembus angin yang memanggil – manggil untuk ikut berlayar jauh. Aku mendengarkannya selalu, itu menyenangkan, mengetahui harimu bahagia dengan segala hal – hal yang ada padanya.

Sampai pada satu sore kamu tak pernah lagi berbagi cerita. Aku tak tahu kemana harus bertanya cerita. Berkirim surat pada botol hanya akan diombang – ambing ombak lautan. Bertanya – tanya dalam hati hanya itu yang kulakukan di sepanjang hari. Aku hanya tahu, aku harus menyegerakan sesuatu, batinku kuat – kuat.

Seorang sahabat pulang dari perjalanannya, membawa kisah dan kabar petualangannya. Katanya ia punya kisah khusus untukku, jadi aku diminta datang pada malam perayaan kepulangannya. Setelah bercerita di keramaian, ia mendekatiku, mengajakku berbicara berdua di sebuah meja bundar putih dengan sepasang kursinya. Ia bertemu denganmu di lautan, katanya perahumu begitu indah meski ia berulang kali menyebutkan kapalku juga tak kalah megah. Ia juga tak lupa bilang, bahwa kamu tak sedang menahkodakan kapal sendirian. Aku mengerti arah jalan ceritanya. Di akhir ia hanya bertanya padaku, kapan aku hendak kembali berlayar?

Untuk pertama kalinya aku tak bisa menjawab jelas. Meski kepalaku berputar – putar mencari jawaban, bibirku tetap terkunci diam. Lidahku hanya menurut saja, karena hatiku memerintah demikian. Jantungku mulai berdenyut pelan dari sebelumnya yang berdegup kencang ketika namamu disebut. Di penghujung waktu aku pamit pulang.

Pulang ke rumah, namun seperti pulang yang tanpa tujuan.

Kepalaku menerawang jauh, ke depan dan ke belakang dalam pikirannya. Menimbang ini dan itu, sebab ini dan karena itu, yang semuanya tak berarti apa – apa karena hanya berakhir di kepala ku. Ternyata begini ya jalan cerita ku. Aku mencoba membandingkannya dengan kisah oranglain, kisahmu juga.

Ada perasaan tak beraturan di sana, pertama aku sungguh merasa menyesal. Mengapa aku memilih jalan yang demikian, atau mengapa dalam jalan cerita hidupku pilihannya harus demikian? Mengapa jalan ceritaku tak bisa seindah gambaran kisah oranglainnya? Perlahan aku mulai mengutuki diriku sendiri, seolah takdirku adalah takdir manusia yang paling buruk rupanya.

Di sudut jendela kamar, aku melirik ke arah perahuku yang sudah lama bersandar. Sudah berapa lama aku tak melakukan perjalanan? Sudah sampai di mana kah aku sekarang? Pertanyaan itu membawaku pada pemikiran yang kedua. Bahwa saat aku merasa tak kemana – mana, ternyata aku juga sedang melakukan perjalanan. Bukan di lautan, tetapi perjalanan di daratan. Ada banyak kisah dan pelajaran yang kutemui di sini, dengan ataupun tanpa ucapan syukur hal itu tak pernah mengurangi betapa banyak karunia lainNya yang telah Ia berikan padaku.

Aku mulai mengerti setiap pilihan perjalanan akan berujung pada kisahnya. Lagipula aku sendiri dulu pernah bilang, bukankah tidak pernah bermasalah jika harus melakukan perjalanan lebih jauh dengan berlayar ulang ataupun lainnya, jika memang itu membawa kita pada tujuan yang dinanti bukan?

Diam – diam mulai hari itu aku mempersiapkan diriku untuk kembali berlayar.


Takkan pernah ada yang bisa menduga takdir. Ia hadir tak terduga dengan segala persilangan garis cerita hidupnya. Hingga saat itu kita kembali bertemu di lautan. Kamu yang tengah berlayar dan aku yang sedang memula kisah awal pelayaran barunya.

Aku telah bersiap dengan kapal terbaikku, dan di tengah samudera yang luas entah mengapa kita bertemu lagi. Namun pertemuan kita pada saat yang tidak menyenangkan. Aku melihat kapalmu hendak tenggelam bersamanya. Tak tahu apakah ada oranglain di dekatmu saat itu atau tidak, tapi kamu justru melambai ke arahku. Perahuku mendekat ke arahmu, dan kali ini dengan begitu jelas aku melihat kapal indah milikmu yang sahabatku puji waktu lalu. Benar – benar indah rupanya, hiasan dua orang ini batinku dalam hati. Aku kagum pada mereka, dan sangat menyayangkan jika kapal seindah ini harus karam di tengah lautan.

Kepada mereka kuberikan tumpangan, sembari mereka memindahkan barang – barang yang bisa di selamatkan. Saat itu aku melihat mereka, walau sedang dirundung musibah, namun sebenarnya mereka tetap berusaha bersama – sama. Seharusnya aku sedih menjadi orang yang tiba – tiba datang di tengah – tengah mereka dengan segala harapannya. Tetapi sekali lagi aku justru senang membantu mereka. Aku merasa lagi – lagi ini takdir kisah dariNya yang membuatku berada di lautan ini.

Perlahan aku membawa mereka ke tepian tanpa sekalipun berniat ingin merubah arah tujuan mereka. Aku yang justru merubah arah tujuan mula ku, menjadi arah tujuan milik mereka. Mereka yang lebih utama. Sepanjang perjalanan kamu banyak bercerita tentangnya, tentang perjalanan kalian. Aku mendengarkannya baik – baik, kisahnya kisah yang berbeda dari pertualangan denganku sebelumnya. Kamu juga berkata sangat senang berlayar dengan dirinya dan tak ingin hari ini jadi hari terakhir pelayarannya. Dan entah sengaja ataupun tidak kamu juga berkata padaku, jika bukan karena waktu yang lalu, kamu pasti sedang berlayar denganku kemanapun hingga saat ini.

Mendengar kalimat yang begitu seakan jadi pengobat rindu dan segala tanyaku selama ini. Tetapi bagaimanapun aku telah banyak mengerti. Aku justru menutupnya dengan kalimat,

“Perjalananmu dengannya indah sekali, sebagai pendengarnya saja aku begitu senang. Aku yakin pasti kalian akan bisa berlayar terus. Bersabarlah. Sebentar lagi kalian sampai dan pasti akan memulai kembali pelayaran bersama. Jangan menyerah ya!”


Entah aku bodoh atau bagaimana, sesampainya di daratan aku tak segera bertolak lagi. Aku justru ikut menetap bersama mereka. Membantu mereka untuk kembali merakit perahunya mereka berdua.

Tak perlu lah aku berbohong jika aku sama sekali tak merasa sedih. Namun luasnya laut dan daratan rupanya juga memberikan hatiku pelajaran. Agar aku bisa berbesar hati menjadi pribadi baik yang juga tulus dalam ikhlasnya. Seberapapun berat dan jauhnya perjalanan pasti akan bisa dilewati, aku memang tak bisa membersamainya untuk berlayar jauh kemanapun, tetapi kini Tuhan justru memberikan kembali kesempatan padaku untuk membersamainya, dengan membantu mereka membangun kembali semuanya dari awal.

Menjadi bagian dari panjang kisah perjalananmu adalah hal terbaik bagiku, karenanya aku pun berusaha sebaik mungkin. Membuat kapal untuk kalian yang bahkan lebih bagus dari kapal milikku sendiri. Hingga meski berat, aku harus menggangkat sauhmu agar dapat kembali berlayar bersamanya.

Dari kejauhan kamu melambai ke arahku. Memberi isyarat perpisahan dari sebuah perjalanan. Lambat – laun kamu pun menghilang dari pandangku. Berlayar menuju daratan impianmu. Diam – diam aku menangis bahagia. Bagaimana bisa aku mendapat takdir yang begini indahnya?


Aku yang kembali tertinggal di daratan ini hanya bisa terdiam. Rasanya aku seperti kembali pada diriku di awal cerita. Seseorang yang hadir dengan rentetan kisah ceritanya. Dan lagi – lagi sekarang aku berada pada titik yang sama. Titik di mana aku sendiri bingung dan takut harus berbuat apa berikutnya.

Di tepian sebuah daratan ini aku kembali ragu – ragu. Apakah aku siap dengan segala kisah berikutnya. Jujur ketika kamu bertanya padaku, dengan segala takut dan khawatirku, aku hanya bisa membalas pertanyaanmu dengan sebuah pertanyaan,

Haruskah aku berlabuh atau kembali hendak berlayar jauh? Tapi kemana?

21 pemikiran pada “Berlabuh atau Berlayar Jauh?

  1. Wah gila rumit amat jauh lbh rumit dr buku2 yang biasa kubaca. Jadi baca 2-3 kali an dulu. Nangis di sini masa iya nangis bahagia? Bukan nangis nestapa karena hati perih tak berperi wkwkwk

    Kalo perkara jalan atau diem, mending jalan dulu. Walau gatau harus gmn, walau gatau akhirnya gmn, jalan aja pelan2. Ga muluk2 dgn rencana tujuan akhir, toh apa yg direncanakan juga bisa aja gagal atau terhambat. Sambil jalan jadinya kepikiran besok perlu gmn, yg bs dipelajari dr kemarin apa. Nanti tujuan muncul (lagian kalau tujuan dah tercapai mesti harus ada tujuan baru kan kalau gamau membusuk?)

    Krn pada akhirnya, kebanyakan kontemplasi, kebanyakan diem, bikin segala sesuatu kerasa makin jauh, makin berat, makin menakutkan. Tapi ya ndak masalah kalau emang ingin diam2 aja, toh hidup ya pilihan juga.

    Ya semoga, takut-takut overthink nya itu bisa dihadapi dgn baik. Lalu mulai ambil langkah pelan2 ndak masuk dalam tempurung. Dalam perkara apapun. Ini doa sekalian buatku jg sih ahaha.

    Wah gila tumben banget aku komen sepanjang postingan blog.

    Disukai oleh 1 orang

    1. “Nangis di sini masa iya nangis bahagia?”
      Kalau udah sampai di titik rasa yang sama pasti ngerti kok kenapa bisa nangis yang begitu heheh

      Itu dia kak, masih ragu apa iya berjalan tanpa rencana apapun lebih baik daripada berdiam dulu :O

      hahah panjang bgt yah :p

      Suka

      1. I see i see. Paham sih, tp beneran ga ada sedih sedikitpun ya?

        Rencananya diambil sambil jalan. Bikin rencana pendek2 gt (ini kubilang sambil ingat tugas akhir yg tiap diam mau mikir hidupku makin kaco kkk ingetkan). Kalo mau diem dulu silahkan, ambil agak bbrp waktu, asal jgn kelamaan bgt nanti mau mulai lagi makin lama makin berat makin takut (ini jg berkaca dr diri & teman2 yg ilang lama dr kampus dan usaha mulai lg buat nyelesein) wkwkwkkwwk.

        Disukai oleh 1 orang

  2. Ping-balik: Coretan Kosong
  3. Kebangetan sampean ini Mar… Lama nggak nongol terus tetoba ngasih kerjaan suruh baca tulisan ini? Tagnya cerita pendek, tapi ini puanjaaaangng masbroooo#dankemudiandilemparlelegoreng

    Disukai oleh 1 orang

      1. Jujur, pas komen tadi belum baca 😀😀soalnya lihat puanjaaangng banget kayak jembatan suramadu hehe…

        Tapi gini lho… Berdasarkan pengalaman berlayar selama 13 tahun lamanya, kalau saya boleh kasih saran, ada baiknya tetep membuat rencana dalam hal apapun. Termasuk sebuah hubungan. Karena manusia itu menurut saya wajib punya mimpi dan wajib mewujudkan mimpinya. Perkara nanti gagal atau berhasil setidaknya sudah berusaha. Kalau baru mulai berlayar saja sudah takut gimana kalau nanti sudah satu kapal?

        Manusia itu ditakdirkan jadi pakar perencanaan tapiii… Tetep harus ingat bahwa Tuhan adalah penentu hasil akhir. Tapi Tuhan juga ga suka kalau kita cuma diem. Mikir wajib, tapi mikir tanpa bertindak sama juga bohong. Apalagi cowok itu calon Imam. Pengambil keputusan dalam rumah tangga. Lha kalau peragu akibat takut gagal terus piyeee?

        Tapi kan sekedar saran. Sepenuhnya tergantung yang menjalani. Masukan dari orang tua sebagai yang sudah makan asam garam dunia pelayaran wajib didengarkan.

        Yowislah… Sudah kayak postingan fiksimini. Gitu aja…

        Disukai oleh 2 orang

  4. Tbh aku paling males banget kalau harus baca cerpen di blog, maksimal tuh ya ff .. Selaim bosen juga bikin mata sakit, tiga kali scroll belum habus? Udah langsung back aja..

    Tp pas baca ini…. Berkali kali scroll ketagihan sampai muncuk kimentar “loh? Udah habis?” pdhl udh baca banyak bgt wkwk.

    Sukak! Bahasanya ngalir, alurnya menantang😀😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s