Setangkup Roti Tawar

Sekitar pukul setengah tujuh pagi WITA, aku tengah  bersiap – siap untuk berangkat kantor. Dan pagi itu seperti biasa aku sedang mempersiapkan bekal sendiri untuk dibawa nanti ke kantor.

“Kok lo belum berangkat Tor? tanya teman sekost yang melihat dari luar pintu kamarku.

“He he, iya nih buat roti dulu…” jawabku sembari tertawa kecil sembari menyiapkan bekal roti tawarku.

Meskipun kostku menyediakan sarapan pagi beserta makan siang dan malamnya, aku seringkali tetap membawa bekal sendiri. Ya walaupun kadang sarapan pagi dari kostnya pun aku bawa juga, hitung – hitung sebagai tambahan bekalku, kurus – kurus gini nyemilku banyak he he. Di kantor pun begitu, aku juga sering menyempatkan sarapan pagi di kantin belakang, walaupun aku sudah membawa bekal.

Lantas untuk apa bekal roti yang sudah kubawa sedari tadi kalau begitu? Tentu saja untuk kusantap di tengah hari, atau kalau ketika tiba – tiba aku merasa lapar. Bisa juga ketika sedang penat – penatnya dengan pekerjaan, menyemil makanan ikut membantu mengurangi rasa stress di kepala akibat dibawa mikir hingga kusut tak karuan.

Tetapi di luar itu semua, aku punya ceritaku sendiri tentang setangkup roti tawar. Hal alasan dibalik semua persiapanku di setiap hari. Bagaimana setangkup roti tawar menjadi spesial untukku.


Di waktu kecil, aku jarang sekali bisa menyantap roti. Bahkan jajan sepotong roti terbilang hal yang “wow” bagiku saat itu. Terutama ketika Ibuku membelikan sebuah roti rasa Pizza buatan salah satu merek pabrikan roti yang cukup menjamur di masyarakat, karena rengekanku di depan toko makanan.

“Ma… mau roti pizza ma…” rengekku pada Ibu.

Ibuku pun membelikannya untukku, jika memang ada uang berlebih tentunya. Sebab jajan hal yang demikian saja jadi pengeluaran yang perlu diperhitungkan bagi keluargaku yang berada dalam keterbatasan. Adapun daripada mengeluarkan sekian rupiah untuk sepotong roti, mungkin uang tersebut dapat dikumpulkan untuk dibelikan beras sekian liter untuk keluarga nantinya. Pikiran Ibuku luas, bukan lagi pikiran seorang anak kecil sepertiku yang masih ingin enaknya saja.

Begitupun untuk sarapan pagi setiap hari, orangtuaku bagaimapun juga selalu mengusahakan agar kedua anaknya selalu bisa sarapan. Apapun itu menunya, ditemani segelas susu ataupun teh manis hangat. Hal yang bagiku kala itu biasa – biasa saja, namun sat ini jadi hal yang paling dirindukan.

Seringkali saat aku bangun tidur dan selesai solat, aku masih tidur – tiduran di atas sofa ataupun duduk dengan mata masih memejam. Mencuri – curi waktu tidur sebisanya. Lalu Ibuku lantas menegurku agar segera bergegas sarapan dan bersiap – siap diri. Begitu terus setiap hari hingga aku memasuki bangku perkuliahan. Meski beberapa kali aku memilih ingin sarapan di tempat kedatangan nanti, tetap saja Ibuku selalu menyiapkan sarapan seadanya untukku.

Tak peduli seberapa lelah Ibuku di hari lalu, pagi ini Ibu pasti selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan lainnya untuk Ayah, aku, dan adikku. Selalu ada cinta dan kasih sayang kedua tangannya di mula hari kami.

Namun, di tengah segala hal bahagia itu aku seringkali masih dengan segala pintanya. Meski tak pernah meminta langsung kepada orangtuaku karena enggan memberatkan mereka, tetapi dalam hatiku aku mengucap pintanya diam diam. Ingin sekali pada sarapan pagiku aku menyicipi setangkup roti tawar.


Hal sederhana yang bagiku saat itu terasa begitu istimewa. Sebab jarang sekali aku bisa menyantap sekadar setangkup roti tawar. Padahal seringkali aku melihat teman – temanku membawa bekal makan siangnya dengan roti tawar di kala sekolah dulu. Diam – diam aku ingin, tetapi tak pernah sampai hati aku mengajukan pinta. Sebab kedua orangtuaku telah sedemikian rupa mengajarkan kepada kedua anaknya rupa pengertian dan kesabaran.

Sedari kecil kami mulai dikenalkan, bahwa dalam hidup terkadang tak semua hal yang kita inginkan dapat diperoleh. Ada hal – hal yang perlu diikhlaskan, atau bahkan direlakan dengan penuh kesabaran. Agar belajar tentang keterbatasan dalam hidup, pelajaran yang nantinya memberikanku pengertian lebih tentang bagaimana menghargai setiap hal yang ada dalam hidupku kelak.

Ketika satu pagi secara tiba – tiba Ibu menyiapkan sarapan setangkup roti tawar, aku senang bukan kepalang. Memang bukan senang yang hingga berteriak kegirangan, senangku terlihat dari lahapnya menyantap roti tawar itu. Bahkan jika diperbolehkan, aku ingin menyantapnya lebih dari setangkup pada pagi itu. Ya, kalau boleh, sebab jatah roti tawar itu harus ku bagi dengan adikku, dan itu pun pasti sudah diperhitungkan oleh Ibu untuk sarapan satu atau dua hari berikutnya.

Dari setangkup roti itu, aku belajar sesuatu. Tentang bahagia memang datangnya dari pemenuhan harapan, dan darinya pula aku mengenal kecukupan. Mudah saja aku menginginkan hal yang lebih, hanya karena tak bisa mengontrol diri. Tapi bagaimana dengan haris esoknya? Adakah aku bersenang – senang  hari ini namun berkesukaran di hari esok?

Aku belajar untuk menahan diri, justru dari setangkup roti tawar. Berulang kali aku mengucap syukur karena pagi itu aku bisa menikmati roti tawarku. Dan tahukah kalian, ketika seringkali roti tawar berpasang dengan lembaran keju, meses, ataupun selai, roti tawarku justru berbeda. Isiannya hanya butiran – butiran gula pasir. Kembali, bahagia dalam segala keterbatasannya.

Aku tak banyak meminta, bagiku menggigit roti tawar dengan taburan gulanya menjadi sensasi khas tersendiri. Bagaimana butir – butir kecil itu bisa jadi penambah manis bahagiaku di pagi hari.


Kiranya aku hampir selesai mempersiapkan bekal cemilan siangku di kantor nanti. Kali ini aku membawa dua tangkup roti tawar dengan isinya yang bukan lagi gula pasir. Ku susun rapi dalam sebuah kotak makan kecil berwarna biru. Lalu ku masukkan dalam ransel kerjaku.

Siang nanti aku pasti akan ingat untuk menyantap bekalku ini.

Bekal yang bukan hanya sekadar mengisi kekosongan perutku. Tetapi juga sebagai pengingat diri dalam bekal perjalanan panjang hidupku. Tentang hidup yang harus selalu bahagia dengan segala keterbatasannya.

Karena bahagia pun juga sesederhana sebuah tangkupan tangan dalam penuh kesyukuran.


Sumber gambar: Google.com

25 pemikiran pada “Setangkup Roti Tawar

  1. manis banget tulisannya aku sukaaaAaaAa.

    jadi, kalau setangkup roti tawar itu gulanya 1-3 gram, lalu diisi gula pasir, ada berapa gram gula yang dimakan dalam sekali makan ya

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ibuku jg. Roti dgn mentega dan gula pasir. Kadang dikukus, kadang dibakar, atau dibiarkan sebagaimana rasa aslinya. Minumnya segelas susu cokelat atau teh manis.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Yang pertama kepikiran setelah baca pos ini adalah.. “Keren ya kosnya! Pasti elit pakai menyediakan makan tiga kali sehari wkwk ada jasa laundrynya juga ga tuh kak?”

    Anyway, bawa bekal emng jd suatu hal teristimewa sendiri kok.. Apalagi kalau makannya bareng teman teman😁😁

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hehe iyaa zaah, fyi bapak kostnya itu supplier cateringnya garuda airlines, jd mamnya ya menu2 di pesawat terbang 💁💁

      Laundrynya nyuci sendirii, dijual terpisah wkwk

      Apalagi kalau nanti dibekelin istri zah :”) #kodekeanginlalu

      Suka

  4. Saya sekarang lebih suka roti gandum. Roti tawar bikin gendut#hahak
    Dipanggang lebih enak mas… Pakai teflon aja kalau ada…

    Eh iya… Sekarang saya nggak ngekos di wordpress lagi ya. Balik ke kos2an lama di Kompasiana. Blog baru kemarin udah nggak ada. Eit… Nggak boleh nangis. 😜😜

    Disukai oleh 1 orang

  5. Udah lama nggak main ke lapak, eh, blognya Toro, langsung disambut roti tawar 😁

    Sesederhana apapun menu, cintanya Ibu itu bikin makanan paling ‘plain’ sekalipun bisa berubah jadi kenangan yang membekas manis ya 😉

    Karena roti tawarnya dikasih bumbu paling dahsyat bernama ‘DOA IBU’

    Roti tawar mentega gula dulu juga jadi paporiiit. Minumnya dicelup ke teh slurp!

    TFS ceritanya!

    Disukai oleh 1 orang

  6. Kalo dulu umi kebiasaan ngebagi sebutir telur jadi dua bagian, sampai sekarang pun masih, mau goreng atau rebus pasti dibagi jadi dua
    Jadi tiap di luar beli makan lauknya telur, suka seneng sendiri bisa makan sebutir telur sendiri :3

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s