Hati Lelaki dan Dunianya

Aku tersenyum saat memandangi dirinya. Hingga perlahan ada rasa hangat yang menyelimuti dada.


 

Cukup lama aku memperhatikan dirinya, seorang laki – laki yang tumbuh dengan semua cerita kehidupannya. Sebagai seorang anak yang pembelajar juga seorang anak yang senang bermain seolah tak tahu kapan harus berhenti. Ia sama seperti anak laki – laki lainnya. Bermain hal yang sama, berkumpul dengan teman di lingkungannya yang juga sama. Tetapi ada sedikit yang berbeda, ia nampak lebih lembut dari sikap dan perilakunya dibanding teman – temannya yang lain.

Dia tak banyak bicara, namun ketika aku bertanya tentang hal – hal yang kutahu kesenangannya ia justru bercerita dengan begitu semangat. Ia benar – benar tahu bidangnya, kesenangannya, dan impiannya. Mulutnya yang sedari tadi hanya menggumam dan mengangguk, kini begitu fasih menuturkan secara panjang tentang hal yang disukainya. Menarik.

Seseorang pernah berkata padaku, alih – alih kita begitu pusing mencoba mencari topik untuk saling berbicara, mulailah dengan bertanya dan mengenal lawan bicara kita. Perihal hal – hal yang disukainya, hal yang menarik bagi dirinya. Bertanya saja, tanya yang seperti daratan pada langitan hujan. Jika memang langit berkenan maka rintik hujan pun akan jatuh dengan sendirinya, bukan?

Sesekali aku menimpali beberapa pernyataan, yang sebenarnya adalah pernyataan yang memancing seolah sebuah pertanyaan yang mau tidak mau ia harus jawab. Karena seluruh kalimat yang ia telah ucapkan dan akan diucapkan telah aku rencanakan untuk saling berhubungan. Aku mulai mengerti dirinya dari sambung tiap potong cerita hidup miliknya.

Sebenarnya ada hal yang sedari tadi ingin aku tanyakan, namun untuk satu ini entah bagaimana caraku mengutarakannya. Aku takut menyinggungnya, ataupun membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi mungkin karena aku bukanlah orang yang pandai berbasa – basi, akhirnya kutanyakan begitu saja pula padanya. Tentang bagaimana ia kulihat begitu tabah dengan hati dan segala ceritanya.

Kuteguk green tea latte di depanku saat aku berdebar mendengar dirinya mulai bercerita.


Serupa seperti kalimat awalku dipembuka cerita ini, ia mengaku biasa saja seperti orang pada umumnya. Seperti lelaki kecil yang belajar dari kenakalannya. Ia bermain hal yang sama. Tetapi ada hal tambahan pada dirinya, yang membuat semua permainan dan bagian dirinya berbeda.

Tak peduli apakah itu permainannya, mobil – mobilan , senjata, robot, layangan, gundu, bahkan sebuah pulpen, ia selalu bisa membuat sebuah kisah dari permainan dalam imajinasinya. Dan ada hal lain yang membuatnya berbeda dengan teman – temannya. Katanya, ia selalu menyelipkan kisah romansa di setiap permainannya. Entah itu tentang pertemuan dengan kekasih, perpisahan, pengorbanan, ataupun kisah akhir kehidupan bersama penutup cerita permainan dalam imajinya.

“Selalu ada romansa?” tanyaku seolah tak percaya.

Ia menjawab dengan anggukan. Aku mulai mencatat lagi dalam buku kecilku. Sekali lagi, menarik.

“Bagaimana bisa? Memangnya sudah pernah menjalani romansa sedemikiannya?” sambungku.

Ada sesuatu yang diberikan oleh Tuhan. Dan ia merasa bersyukur dapat memilikinya. Dirinya mengaku bisa begitu merasakan cinta dari lingkungan di sekitarnya. Hal yang nampaknya sulit diutarakan, tapi aku memahaminya.

Mungkin ini semua jawaban mengapa semua hal tentangnya tak jauh – jauh dari tentang romansa. Karena aku tahu di dunia luar, ia sosok yang begitu berbeda. Dan mungkin juga, hanya orang – orang terdekat dalam kehidupannya yang bisa mengerti tentang hati dan dirinya.

Berikutnya aku bertanya, apa sama sekali tak pernah malu tentang segala hal dirinya? Kejujuran dan keterbukaan yang seperti menelanjangi dirinya sendiri, membagikannya kepada oranglain di luar sana, membiarkannya diketahui dunia luar?

Terang saja aku khawatir, ketika seseorang begitu lembut pada kisah dan hidupnya, apakah tak ada ketakutan dan kekhawatiran sedikitpun padanya tentang keras dan kejamnya dunia di luar sana? Kenapa terlalu baik? Kenapa harus begitu tulus? Mengapa dirinya dapat begitu ikhlas?

Pikiran dan hatiku begitu gusar. Yang kurasa kali ini memang itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan dari dalam diriku sendiri.

Pandangannya bergeser sedikit, ia menatap jauh di depan sana. Dadanya sedikit membusung lalu berangsur turun. Tarikan nafasnya terdengar lebih teratur. Ia berangsur begitu tenang. Sembari menggenggam cangkir di tangan kanannya. Bibirnya mulai berkata lirih.

“Hati akan selalu punya jawaban untuk dunianya.”

Dan malam itu pun aku pulang membawa jawabannya setelah membayar bill secangkir green tea latte pada kasir di kedai itu.



Sumber gambar: google.com

12 pemikiran pada “Hati Lelaki dan Dunianya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s