Berbagi Sedikit Cahaya di Langit

Setelah tanggal 5 Desember tahun lalu akhirnya baru sampai Februari tahun ini aku mulai mencoba menulis lagi. Dua post sebelum ini pun bukan sebuah tulisan yang benar – benar “tulisan”, mungkin lebih tepat dikatakan sebagai racauan pikiranku belakangan ini.

Serupa dengan teman – teman blogger lainnya, aku pun sejatinya ingin membuat semacam kilas balik hal yang terjadi selama tahun 2017 berikut segala harap dan resolusi pada umumnya di tahun baru 2018 ini. Yah, rupanya rencana hanya rencana. Pada akhirnya aku justru tak sempat membuat semuanya. Alih – alih menulis, aku justru sedang asyik dengan aktivitas yang lain, atau lebih tepatnya sedang sok sibuk – sibuknya.


Akhir Tahun 2017

Ketika beberapa orang mulai sibuk merencanakan kegiatan untuk mengisi liburan Natal maupun akhir tahun, aku justru tidak. Karena secara formal batas akhir pekerjaanku ya tepat hingga pukul 24.00. Lho ya ngapain toh kok sampe jam segitunya? Ngga perlu istirahat apaa?

Dahulu ketika awal – awal bekerja, aku pun berpikir demikian. Rasanya kok sedih tidak merayakan tahun baru, membersamai orang – orang terdekat dan tersayang. Bahkan aku mengutuk diriku sendiri, untuk apa sih memilih kerja begini? Karena nominal uang? Ah, banyak tawaran diluar sana yang bahkan bisa menghasilkan lebih dari penghasilanku saat ini.

Ego tinggi khas pegawai muda (udah mulai tua sih, haha).

Namun kembali lagi, pasti ada sesuatu hal yang sengaja Allah rencanakan tergaris pada hidupku. Pasti ada sesuatu hal mengapa aku harus mengerjakan setiap tanggung jawab yang ada saat ini.

Oleh sebab perkerjaanku pun tak jauh dari target nominal angka (rupiah), sudah pasti ada segala macam hitung – hitungannya di sana. Sederhananya, apa yang kami capai pada tahun berjalan akan berpengaruh pada sesuatu yang akan direncanakan dan akan berjalan di negara pada tahun berikutnya.

Ini bukan tentang besaran dan konstanta penentu penghasilan bulan – bulan berikutnya bagi kami. Tetapi lebih jauh tentang jalannya sebuah proses penyelenggaraan pemerintahan dan segala kebijakannya yang bermuara pada kesejahteraan di masyarakat.

Lho ngomong apa to mas? Daripada sok ngomong mikro – makro izinkan aku berbagi sedikit penggalan percakapan sebagai gambaran sederhana.



Pada satu kesempatan seorang Kepala Daerah sempat berdiskusi dengan saya, topiknya tidak jauh – jauh dari perihal keuangan, perpajakan, perekonomian dan tentu saja kebijakan – kebijakan publik. Beda daerah wilayah tentu beda juga problematika yang menyertainya. Banyak hal – hal yang saya bawa dari Ibukota ternyata memang tidak bisa diterapkan seratus persen di berbagai daerah lainnya di Indonesia ini. Sebab itulah ada yang namanya kebijakan.

Saya yang beberapa tahun lalu (ketika kuliah – baru lulus – dan pegawai baru) datang dengan membawa segudang idealismenya, beruntung memiliki pengalaman penempatan pertama pada daerah remote, jadi kedua mata kepala dan hati saya pun terbuka lebar – lebar. Sadar bahwa berbekal ilmu dan akal adalah bukan segalanya.

Pada satu titik beliau menceritakan kepada saya, hal sederhana saja, pada satu kebijakan bagi masyarakat di bawah pemerintahannya, khususnya masyarakat yang berada pada sisi – sisi terujung utara negeri ini. Yakni kebijakan perihal program bantuan pemerintah untuk sarana prasarana masyarakat setempat. Salah satu contoh pengadaan air bersih, penerangan, maupun sarana kesehatan publik.

Pembicaraan kami bukan hanya sebatas huruf dan kata – kata, namun lebih rigid lagi kepada nominal angka hingga tiap satuan sen rupiah-nya. Huruf dan angka di sana menceritakan sendiri secara detil tentang rencana dan realisasinya. Sebutlah pada satu indikator kegiatan pengadaan penerangan dan pengadaan alat pompa air bersih per-tiap kepala keluarga di salah satu desa, beliau menyampaikan tentang adanya defisit anggaran yang membuat pihak pemerintah dengan berat hati terpaksa mengurangi jumlah kepala keluarga yang menerima bantuan.

Duh.

Saya jadi membayangkan di tengah kumpulan kepala keluarga, ada keluarga yang tidak kedapatan bantuan. Ya Tuhan, ini miris sekali.

Di saat mungkin kebanyakan dari kita masih berboros listrik mereka sekadar menerangi rumahnya saja tidak bisa. Apalagi melihat kasus – kasus korup di luar sana, yang nilainya jika dibandingkan dengan biaya anggaran kegiatan pemerintah daerah ini, bukan hanya bisa menerangi satu Desa, namun puluhan desa lainnya di daerah pinggiran negeri ini.


Terus terang ketika mendengar dan mengetahui berbagai macam berita tentang masih buruknya integritas di negeri ini, saya rasanya sedih bukan main. Aku mencoba memberikan gambaran sederhana, seorang Ayah dan Ibu yang tengah banting tulang bekerja keras untuk membiayai anaknya agar dapat bersekolah, tetapi anaknya malah tidak pernah ke sekolah, segala uang dan biaya hasil keringat orangtuanya malah dipakai untuk bermain dan kesenangannya sendiri. Sedang Ayah dan Ibu tak pernah tau, dan terus saja bekerja demi anaknya. Bayangkan betapa hancurnya hati sang orang tua ketika suatu hari baru mendapati anaknya ternyata selama berlaku yang demikian.

Kecewa. Begitulah perasaan saya. Bukan hanya saya, tapi ribuan oranglainnya yang turut bekerja susah payah untuk mengumpulkan pundi – pundi demi pembangunan negara. Lantas buat apa jika itu semua dipergunakan untuk yang bukan seharusnya? Bahkan bukan hanya kami, orang – orang yang telah berkontribusi menyisihkan sebagian penghasilannya demi negara apa hendak tak dipedulikan? Sungguh banyak aliran budi baik dari setiap perjalanan rupiah yang masuk ke kantong negara. Kenapa begitu tega mengkhianatinya dengan berlaku yang demikian?

Tetapi saya ingat kembali cerita perumpaan tadi, sebagaimanapun nakalnya anak tadi, tak pernah ada orangtua yang sampai hati membenci anak – anaknya sendiri. Alih – alih meninggalkan anaknya, dan di luar segala pelajaran yang mereka berikan padanya. Mereka pun justru akan tetap menyayangi anaknya, tetap memberi dan mempercayai anak – anaknya.

Takkan ada habisnya jika saya hanya mengutuki perbuatan buruk tersebut. Daripada membuang tenaga sia – sia, lebih baik saya lampiaskan semuanya dengan cara – cara yang lebih baik. Hal yang nyata – nyata memberi hasil dan membantu dengan porsi yang saya bisa.


Hari itu hingga penghujung tahun ponselku tak berhenti mengeluarkan bunyi – bunyian. Segala macam notif yang biasanya ku mode senyapkan harus kubuat berdering. Aku harus jadi orang yang paling pertama mengetahui perkembangan pencapaian kantor kami.

Secara realtime sebelah layar monitorku menampilkan perguliran angka yang sudah mencapai angka triliunan itu. Tapi jujur saja semuanya itu masih jauh dari target yang sudah ditentukan. Di dalam benak saya terbayang lagi kasus kecil kepala keluarga di desa tadi. Waa.. harus semangat hingga detik terakhir!

Bersamaan dengan itu ada satu kasus dengan nominal sekian ratusan milyar rupiah angka penerimaan negara sedang dalam status tak terdistribusi atau kasarnya “nyangkut” secara sistem. Dan ada perasaan senang bukan main ketika pada akhirnya aku dengan 26 huruf dan 10 angkanya berhasil membuat nominal tersebut masuk ke dalam kas negara seutuhnya.


Ku lirik sekilas jendela yang mengarah ke luar kantor. Langit hitam gelap sedari tadi sudah mulai nyala berwarna – warni. Biasanya jika jam segini suasana sudah sunyi senyap, langit – langit justru berdentuman. Suara ledakan kembang api ada di sana – sini. Di temani suara musik dan lantunan lagu yang sengaja diperdengarkan nyaring – nyaring mengundang keriuhan samar kudengar.

Rupanya sudah tahun kedua aku tidak merayakan tahun baru bersama keluargaku di Jakarta. Setelah sebelumnya aku meyempatkan diri menelfon keluarga di sana, memberi ucapan selamat tahun baru. Padahal mah mereka masih satu jam lebih lambat dibanding waktu tempat diriku berada, hehe.

Dan sudah dua tahun juga aku tidak melihat nyalanya langit – langit pada hitungan detik pergantian tahun. Tapi kupikir apalah arti itu semua, jika memang dengan sedikit usaha dan pengorbananku ada keluarga di sana yang dapat merasakan nyalanya langit – langit rumah mereka sepanjang tahun.

Salam hangat.

Rakunkecil.

sumber gambar: google.com


*)ps: Selepas Desember yang sangat padat, aku pikir aku akan punya sedikit waktu luang di bulan Januari, ternyata tidak! Begitupun ketika dipenghujung Januari, berharap Februari akhir akan ada waktu senggang, ternyata juga tidak! Waa!

Ada quote dari JARED LETO, vokalis dari band favorit, Thirty Seconds to Mars:

Someone once said…”Work is the bridge between dreams and reality”. So just be warned: if you have big dreams be ready for a ton of work.

3 bulan belakangan ini terasa melelahkan secara fisik maupun mental, tapi pribadi selalu berusaha yakin setiap usaha tidak akan pernah sia – sia. Dan akhirnya….. kebaikan itu pun berturut – turut datang. Alhamdulillah.

Januari, bulan yang paling aku sukai, ternyata membawa kejutan besar dalam hidupku, ada kado terbaik yang Allah berikan tepat di tanggal kelahiranku. Yang lagi – lagi mengingatkanku bahwa aku tak perlu ragu, karena semua hal yang telah terjadi dalam hidupku memang sudah diatur dengan sedemikian indahnya. Tulisannya akan menyusuul! :3

18 pemikiran pada “Berbagi Sedikit Cahaya di Langit

  1. Ah selalu telat baca tulisan Mas Toro! Nggak tau kenapa, nggak ada email masuk ke inbox aku, padahal udah subscribe. Kesel!
    Aku suka banget sama tulisan yang ini, jarang banget rasanya ada anak muda yang mau berkontribusi ke negara, apalagi kalau liat di kota Jakarta, rasanya semua orang ngejar mimpinya masing-masing.
    Semangat terus ya, Mas Toro!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s