Langitan Malam (Bagian 1)


Banyak orang bercerita tentang bintang.

Pada bintang yang satu ini misalnya, ada banyak pasang mata yang memandangnya. Mengaguminya, indah gemerlap cahayanya.


Pada satu bagian, seseorang mudah temui bintang kesukaannya di kala malam. Tapi paginya lupa pula sebab ada mentari yang datang. Dan begitu malam ia kembali mencari sang bintang, begitu berulang seterusnya.

Pada bagian yang lain ada pula yang mencari bintang kesukaan di kala malam. Melewati panjang pagi dan siang hanya untuk dapat bertemu malam. Baginya penantian jadi sebuah perjalanan, dan hadir sang bintang jadi akhir dari semua tujuan.


Bagian yang pertama, ia ramah pada semua bintang. Bintang pagi, siang, dan malam. Penduduk langit tahu segala tentangnya. Dan bintang pasti ramah dan senang padanya, oleh sebab segala perhatiannya.

Bagian yang kedua, ia menyimpan rindu pada satu bintang. Bintang di malam. Yang terkadang muncul dengan sinar terangnya, atau hilang dalam pekatnya bayang – bayang si awan–mungkin sang bintang sedang bersinar di langit milik orang lainnya. Ia pasti tak begitu dikenal penduduk langit. Tetapi ia pasti mengenal diri sang bintang. Ia tahu kapan sang bintang muncul padanya, dan kapan pula ia bahkan tak datang. Sayangnya bintang tak pernah tahu hal yang begitu.


Banyak orang bicara tentang sang Bintang. Tetapi apa kamu pernah dengar Bintang bercerita tentang manusia di bumi? Tentang Bintang mengenal Ia yang memandangnya dari kejauhan malam.

Ah, pasti bintang kenal dengan orang bagian yang pertama. Lupa dengan bagian yang kedua.

Tapi apa itu salah sang Bintang?

Bagian pertama, menyanggahnya bersama dengan gelengan. “Bintang selalu punya waktunya sendiri.” begitu pungkasnya.

Bagian kedua, justru menjawab, “Ini cerita tentang sang Bintang, oranglainnya itu hanyalah gelap di langit malam.”


Bintang pun berseri lebih terang, entah sebab jawaban yang mana.

Hendak kutanyakan pada sang Bintang, namun malam sudah terlampau hening dengan semua bisu jawaban pengertian.


Sumber gambar: Google.com

12 pemikiran pada “Langitan Malam (Bagian 1)

    1. Makasiih mba Shintaa πŸ˜†

      Mulai nulis dr smp, kalau blog dr sma, tp kebanyakan asal nulis yg begini hehe.

      Aku tipikal org yg jarang punya favorit mba Shintaa, tp aku plg seneng baca tulisan2nya Raditya Dika, Pidi Baiq, Fahd Pahdepie, dan Quraish Shihab.

      Kalau mba Shinta suka penulis siapaaa? 😊

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sama2, Mas Toro.

        Cara Mas Toro membuat cerita itu bagus. Jelas banget kalo biasa nulis hehe Sering ikut lomba2 menulis kah? Atau lomba menulis cerpen?

        Semua buku dibaca aja mungkin yaaaa? Aku lebih seneng buku tentang hidup dan biografi. Aku seneng baca tulisannya Tere liye, Ahmad Fuadi, Habiburrahman E. Tapi, sekarang lagi belajar baca buku genre apapun mas supaya luwes pikirannya haha Buku Pidi Baiq juga kubaca.

        Disukai oleh 1 orang

      2. Hehe iyaa mbaa Shintaa, aku suka ikut nimbrung aja di lomba2 begitu, yg penting usaha dan belajar nulisnya hehe :3

        Iyaa dibaca2 ajaa apalagi nemu sesuatu yg dirasa menarik hehe, wkwk banyaak yaa bacaannya mba shintaaa da jd malu aku nulis meracau πŸ˜“πŸ˜°

        Suka

      3. Pantesan. Soalnya kata-kata dan tulisan Mas Toro itu bagus. Pasti udah terbiasa nulis deh. Kutunggu tulisan selanjutnya ya mas!

        Ini si Mas Toro merendah aja ya wkwk apa yg aku baca nggak sebanyak yg Mas Toro pasti deh. Keliatan dari hasil tulisannya kan. Msh jauh dari Mas Toro πŸ˜‚πŸ˜‚

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s