Sayap – sayap yang hendak pulang

Cahaya merah matahari yang bergelombang panjang telah sampai di pandang kedua bola mataku. Warna jingga sempurna mengganti langit yang sedari tadi biru kecerahan. Kurasa sudah tiba waktuku untuk segera pulang.

Ke puncak pohon tertinggilah tujuanku pulang. Teman sekawanan yang lain pun turut menghampiri dan membersamaiku. Mereka bersiulan, seolah sedang saling bergantian melantunkan nada lagu – laguan. Sedangkan di sini aku diam saja dan menunduk. Mereka bertanya padaku,

“Sedang ada apa wahai anak muda?”

Aku tak pernah ingin terbang lagi, atau lebih tepatnya aku tak pernah ingin terbang ke arah sana lagi. Biarkan saja aku tersesat, atau memang sekarang sudah?

Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri bergantian, memindah – mindah titik fokus pandangan. Seolah hendak mencari jawaban atau menghindar dari pertanyaan. Melihatku yang demikian mereka justru menertawakanku.

“Kita adalah yang terbaik, dengan sayap – sayap putihnya yang paling bersih menawan.”

“Mereka merawat kita dengan baik, hidup kita telah teratur dan berkecukupan. Cukup jalani saja apa yang ada, kawan.” ujar mereka padaku.

Aku mengerti. Kalimat yang demikian bukan sekali dua kali sudah disampaikan padaku. Dan aku pun masih bisa mengingatkan diri, tahu betul bahwa hidupku memang sudah dalam sedemikian indah tatananNya.

Sekali lagi aku mengerti.

Tetapi bukanlah itu masalahnya, bagian terumitnya adalah aku yang justru tak bisa mengerti diri.


Karena aku tahu meskipun aku pergi nan jauh ke sana; bersama sekuat apa pun kepak dan bentangan sayapku, sejauh apapun angin membawa terbangku, selalu ada hal tak terlihat yang menuntunku kembali pulang.

Segala medan magnetis akan kembali menuntun jalan terbangku. Entah ribuan kilomter ke arah utara, selatan, timur, maupun barat aku selalu akan kembali menuju titik tengah medan magnetku. Kembali pada titik kepulanganku. Begitu kata mereka kodratku sebagai seekor merpati.


Tetapi sungguh batinku gelisah. Bagaimana jika saat ini hingga pun waktunya nanti, aku masih tetap begitu takut untuk pulang?

Sedang pemilikku di seberang sana begitu besar hatinya. Tak pernah ada sekalipun padanya ragu tentang arah kemana ku pergi. Sungguh percaya bahwa yang terbaik akan selalu pulang. Darinya dan kembali kepadanya.


Sumber gambar: Pinterest

20 pemikiran pada “Sayap – sayap yang hendak pulang

  1. Bener banget.. kadang tampa disadari dan di akui atau tidak pada dasarnya saya juga sering kali memiliki ikatan yang kuat terhadap tempat pulang. well… that’s the only place that make me feel comfortable 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s