Memenuhi Janji

Memenuhi Janji2

Mungkin lokasi gambar di atas adalah tempat yang tidak begitu dikenal orang banyak. Wajar saja, karena memang gambar di atas adalah sebuah gambar dari masjid di lingkungan Kantor Pusat tempat instansiku bekerja. Dan sekali lagi pun mungkin saja, tempat ini hanyalah sebuah tempat biasa di tengah keseharian para pegawai yang bekerja di sana. Namun bagiku tempat ini begitu berarti, di sana tempat segala tanyaku menemukan jawabnya. Di sana pula, tempat di mana pada akhirnya kelak ku penuhi janjiku di waktu silam.


November empat tahun yang lalu aku memulai karir di instansi ini, kala itu statusku masih On Job Training (OJT) pada sebuah kantor di wilayah Jakarta Barat. Sambil menunggu saat – saat dimana Surat Keputusan (SK) penempatan pertamaku keluar. Jaraknya tak begitu lama, sekitar bulan Juli 2015 keluarlah pengumuman yang dinanti – nanti oleh angkatan kami. Sebuah pengumuman tentang di mana nanti wilayah kerja pertama kami mengabdi. Dan saya sendiri mendapatkan sebuah tempat di kota perbatasan utara Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan, namanya Malinau.

Malinau? Di mana itu? Aku pun juga tak tahu dibelahan bumi Indonesia sebelah mana kota itu berada. Benar – benar yang sama sekali buta. Namun ketentuan tetaplah sebuah ketentuan, dan lagi pula sebuah pengabdian pada hakikatnya adalah rasa tanggung jawab. Tanggung jawab untuk sebagai perwujudan kesetiaan yang dilakukan dengan ikhlas. Aku mengucap syukur begitu melihat namaku di sana, bagaimanapun Allah yang memilihkan takdir untukku. Bismillah.

Di balik semua hal tadi, jika kalian tanya akupun sama seperti kalian, selalu punya harap ingin dan impiannya sendiri. Kecewa? Jelas. Karena sebenarnya ini bukan keinginanku, jikalau memang sedari awal aku bisa memilih sesuai dengan pilihanku sendiri. Aku ingin merajuk, tapi kepada siapa, dan lagi pula buat apa? Toh sebuah garis ketentuan kehidupan yang begitu megahnya tak mungkin dapat dirubah hanya karena rengekan seorang kecil di dunia.


Aku begitu ingat, pada sebuah Ashar aku bertolak dari kantorku menuju kantor pusat untuk menyelesaikan sebuah urusan administratif kepegawaian baru. Seusainya aku singgah ke masjid ini. Namanya Masjid Salahuddin, seusai beribadah alih – alih merajuk, meratapi ketentuan-Nya, aku kala itu justru berikrar kuat. Tak ada sedikit pun keraguan dalam tekad ini. Hati ini sepenuhnya bulat, bibirku berujar yakin;

“Kelak aku pasti akan kembali ke tempat ini dengan aku yang lebih baik dari saat ini, Insya Allah.”


September tahun 2015 adalah kali pertama saat aku menjejak kaki di tanah perantauan. Sebuah janji ku buat pada diriku sendiri. Bahwa sungguh tak ada alasan untuk bermain – main ataupun bermalasan dalam pemenuhan tanggung jawabku, keluarga yang ku tinggalkan melepasku bersama doa dan harapan baik yang selalu menyertaiku. Lantas bagian dari diriku mana yang ingin mencederai hal baik itu. Aku sadar jikalau memang dilakukan perbandingan, aku bukanlah pegawai yang paling cemerlang, banyak kekuranganku di sana – sini. Namun berbekal pesan orangtuaku dan juga nasihat orang – orang terdekatku, aku selalu berusaha untuk bekerja sebaik yang aku bisa. Karena aku percaya tak ada usaha yang pernah sia – sia.

Setahun waktu berlalu, sampai pada hari Jumat di sekitar penghujung bulan September tahun 2016, sebuah pesan singkat sampai di ponselku. Isinya begitu sederhana, sebuah penugasan baru padaku dalam bentuk sebuah ajakan yang penuh kesantunan dan sarat keramahan. Pengirimnya adalah Bapak Kepala Kantor-ku sendiri, beliau mengajakku seolah seperti seorang Ayah yang memberikan tempat terbaik untuk anaknya. Aku pun menyanggupi untuk mengemban amanah jabatan yang baru.

Awal Oktober tahun 2016 aku resmi menduduki jabatan yang baru. Sebelumnya pun aku sempat diberi pertanyaan lagi, apa kiranya aku bersedia atau memang ingin memilih yang lain. Tetapi hatiku sudah bulat dan mantap untuk melaksanakan tugas yang satu ini, karena memang ini adalah bidang kesukaanku dan bagiku ini sudah selangkah lebih dekat dengan janjiku di waktu lalu.

Tak bisa dipungkiri aku pun memiliki rasa penasaranku sendiri. Mengapa dari sekian banyak pilihan pada akhirnya beliau memilihku? Rupanya rasa penasaranku sebenarnya sudah memiliki jawabannya sendiri sedari dulu. Jawaban atas pertanyaan itu tadi tak lain dan bukan adalah usaha yang takkan pernah sia – sia. Hasil kerjaku sendiri dan rekomendasi-lah yang akhirnya membawaku sampai ke titik ini. Alhamdulillah, senang rasanya membuktikan sendiri kalimat itu di waktu lalu. Aku begitu gembira namun tak juga berlarut – larut, karena di sana sudah menanti juga pembuktian bahwa aku memang dapat mengemban amanah ini, dan sekali lagi aku hanya bisa untuk selalu berusaha bekerja dan memberikan hasil yang terbaik. Sesederhana itu.


Mei tahun 2017 namaku muncul kembali pada sebuah pemanggilan pertama peserta pendidikan dan pelatihan untuk jenjang jabatan yang lebih tinggi. Sebuah posisi yang memang telah lama aku inginkan sedari awal memulai karir di instansi ini. Jika coba dirunut lagi awalnya bagaimana bisa namaku muncul pada pemanggilan pertama ternyata lagi – lagi, semua asalnya pun dari hasil kerja dan rekomendasi. Alhamdulillah.

Beberapa bulan berikutnya aku pun sempat diberikan kesempatan hingga tiga kali, untuk diberikan pilihan tentang rekomendasi promosi berikutnya. Sedangkan teman – temanku yang lain mungkin tak sampai sejauh itu. Setelah berdiskusi dengan kedua orangtuaku pilihanku pun tetap tak bergeming, tekadku kuat tetap pada inginku di waktu lalu, Insya Allah.


Tepat setahun berikutnya, di awal bulan Mei tahun 2018, kira – kira pukul 21:00 WITA Bapak Kepala Kantorku tiba – tiba memberiku sebuah penugasan untuk berangkat esok hari ke Kantor Pusat di Jakarta. Sebuah penugasan yang sejatinya bukan level-ku, namun kurasa jauh di atas kompetensi milikku. Hendak ku pertanyakan mengapa harus diriku? Bukankah ada orang lain yang jauh lebih mumpuni ketimbang aku yang apalah – apalah ini.

Tetapi tunggu dulu, mungkin sedari tadi aku hanya memperhatikan beratnya tugas dan persiapan yang perlu kulakukan untuk keesokan hari. Setelah ku tenangkan diriku, aku coba merunutnya pelan – pelan ,memperhatikan hal – hal apa yang mungkin sudah terlewati dan rupanya benar saja, aku pun sontak berujar, “Masya Allah, ternyata ini akhirnya jawaban pemenuhan atas janjiku di waktu lalu ya Allah…”

Mataku terasa berair, entah bagaimana aku mengatakannya, ada rasa haru yang tak bisa kuluapkan dengan kata – kata. Haru karena rindu hendak berjumpa janji di waktu lalu. Juga haru karena tak terasa panjang perjalananku telah sedemikian manisnya Ia gariskan. Tiba – tiba tak ada lagi beban dipikiranku perihal beratnya penugasan hari esok. Aku tak pernah menjadi sebegitu yakinnya. Sungguh aku percaya bisa, dan Ia selalu menyertaiku, Bismillah.


Persiapan yang kurang dari 24 jam memang terasa begitu singkat padat, penerbangan pesawat di malam hari yang biasanya hanya ku lewati dengan beristirahat kini kuhabiskan dengan membaca tebalnya sekian naskah hasil putusan gugatan yang bahkan itupun belum selesai kubaca hingga perjalanan dari bandara ke rumah.

Kalau bukan karena mengingat janjiku pasti aku sudah menyerah. Ini benar – benar di batas kemampuanku. Kepalaku penuh dengan teks dan runutan kasus yang begitu kusut tak karuan, mulutku mungkin hampir berbusa berkali – kali mengulang membaca dokumen hingga akhirnya bisa ku mengerti. Bahkan seniorku yang ikut mendampingiku justru berulang kali berujar takut dan khawatir kepadaku. Aku hanya selalu berujar berulang kali padanya, “Tenang Mas, Insya Allah yakin kita bisa.”


Dahulu sekali, aku bercita – cita menjadi pegawai pada suatu subdirektorat di naungan instansiku ini. Bahkan aku berjanji kala itu akan mentraktir teman – temanku jikalau memang aku mendapatkan penempatan di subdirektorat itu saat penempatan pertama. Namun rupanya takdir berkata lain, jalan karirku nyatanya ada pada lintasan yang lain. Dan saat ini lah, saat ketika kedua lintasan itu sedang berpapasan.

Takdir membuatku kali ini tengah menuju subdirektorat itu dan rupanya bukan sebagai pegawai biasa, namun justru berkesempatan bertemu dan berdiskusi langsung dengan salah satu petinggi pada subdirektorat itu. Masya Allah, jika aku dulu di sini pun belum tentu aku bisa sedekat ini dengan Beliau. Sungguh memang Allah Maha Tahu segala yang terbaik bagi hamba – hambaNya.


Pagi harinya sebelum bertemu, aku singgah sejenak ke tempat yang sudah ku nanti – nantikan sejak dahulu. Ternyata butuh tiga tahun lamanya aku berjumpa kembali denganMu ya Allah, di rumah-Mu ini, Masjid Salahuddin. Usai menunaikan ibadah sunah, tak henti – hentinya aku memandangi isi sekeliling Masjid ini. Rasa rindu itu akhirnya terbayarkan sudah.. Mataku berkaca, batinku tak henti – hentinya mengucap syukur Alhamdulillah, Waaaaaaaaah! Sungguh Engkau telah membimbingku sampai sejauh ini, mewujudkan semua harap dan impian janjiku di waktu lalu, terima kasih ya Tuhaan!


Aku benar – benar memenuhi janjiku di waktu lalu. Pada akhirnya aku mengerti, mengapa Engkau menggariskanku untuk kali pertama bertugas di Malinau hingga penugasan – penugasan saat ini. Aku bisa saja tidak sabar, mengutuki ketentuanmu dan memilih jalan yang lain. Namun ternyata kesabaran itu memberikan jawabannya yang satu, Engkau sungguh menyayangiku, mendengarkan semua harap dan keinginanku yang ingin kembali padaMu dengan diri yang lebih baik.

Pengalaman kerjaku di perbatasan mengajarkanku untuk belajar mengupayakan dan menghasilkan yang terbaik tanpa mengenal batasan. Kesungguhan di setiap langkah usahaku pun telah Engkau gariskan sehingga aku selalu berada pada garis – garis takdir yang memang telah Engkau pilihkan untukku. Semuanya terjadi untuk menjadikan diriku yang ada seperti ini, Alhamdulillah.

Setelah dari sana aku bertolak melaksanakan penugasanku setelah seniorku juga tiba di Kantor Pusat. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Hari itu aku sungguh menjadi orang yang paling bahagia dan berbinar – binar rasanya. Hingga kini, aku pun semakin dan selalu yakin tentang tiga perihal kunci keberhasilan;

Man Jadda Wa Jada

(Siapa yang bersungguh – sungguh akan berhasil)

Man Shobaro Zafiro

(Siapa yang bersabar akan beruntung)

Man Saaro ‘Alaa Darbi Washola

(siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)


Tulisan ini kubuat bukanlah sama sekali untuk menyombongkan diri sendiri namun justru sebagai pengingat diri untuk langkahku ini dan masa depan nanti. Alhamdulillah terhitung awal Juli 2018 ini, akupun tengah kembali mengemban sebuah amanah baru yang juga ternyata merupakan rentetan garis takdir baik sebelumnya yang telah Ia tetapkan padaku. Bismillah.

Dan juga, tulisan ini kusampaikan padamu yang tengah berjuang dalam setiap langkah hidupmu, apapun itu, selalu dan selalu janganlah pernah berhenti berusaha, bersabarlah atas ketentuanNya dan tetaplah berjalan dalam naungan RidhaNya, yang Insya Allah itu semua akan menuntunmu pada hal yang memang terbaik bagimu.

Semangaaaat!! 🙂

Salam hangat,

Rakunkecil.


Sumber gambar Google.com

28 pemikiran pada “Memenuhi Janji

  1. Turut bahagia dan bangga atas perjuangannya, Mas Toro. Selamat! :’) saat ini masih di Kalimantan atau sudah kembali ke Jakarta mas?

    Terima kasih atas ceritanya. Terima kasih juga untuk tiga perihal kunci keberhasilannya. Insya Allah selalu diingat, untuk selalu berusaha, bersabar, dan berjalan dalam naungan ridho-Nya.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Alhamdulillaaah, makasiih mba Shintaa! ^^
      Untuk sekarang masih di kalimantan mbaa, aku pindah ke samarinda sekarang hehe.

      sama – sama yaa mba Shintaaa, aku juga banyak belajar dari tulisan2 kamuu :”D

      Suka

      1. Sama2, Mas Toro ^^ Sehat dan sukses di Samarinda, mas! Semoga Allah selalu mudahkan urusannya. Aamiin.

        Alhamdulillah, sama2 belajar yaaaa mas. Kutunggu tulisan selanjutnya, Mas Toro 🙂

        Disukai oleh 1 orang

  2. Congrats mas toro, Allah memang selalu memberikan jalan yang terbaik ya, walau kadang pada mulanya kita merasa agak tidak sreg dengan apa yang kita dapatkan. Semangat terus mas toroo! 😀 sukses selalu!

    Disukai oleh 2 orang

  3. Manisnya paras masjid Salahuddin. Aku sukaaaaaa. 🙂

    Menyimak rangkaian ceritanya ku sempat terharu pada awal dan melanjutkan dengan senyuman. Terima kasih sudah berbagi pengalaman yang berkesan, teman. Mengingatkan bahwa ketentuan-Nya selalu yang terbaik. ^^

    Keep spirit di manapun mengabdi. Hihiii.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s