Bala – Bala

Pada satu waktu, saat sedang berjalan – jalan di malam hari kami singgah di sebuah toko mainan anak – anak. Biasanya kami langsung berpencar dengan sendirinya menuju lorong favoritnya masing – masing. Tapi waktu itu aku memilih berjalan menemaninya. Sedang tak ada yang ingin kucari, alibi-red. Padahal mah emang ingin sama – sama terus hehe.

Berulang kali ia menggumam gemas ketika menemui boneka/figure yang dirasa lucu baginya. Padahal kurasa itu biasa aja. Yaa, meskipun kadang ada sih yang bikin ikutan gemas juga haha, tapi sebagai laki – laki tangguh aku harus menahan godaan. Tetep stay cool, padahal dalam hati udah teriak – teriak ”Waaaaaa…. kawai!” haha.


Saat lagi asik melihat sebuah chogokin yang super duper keren, lenganku ditariknya tiba – tiba.

“Eh… eh liat ini lucuu! Hehe” ujarnya menunjuk suatu boneka binatang di dalam kotak.

“Waah iya warnanya lucu, kamu mau?” tanyaku padanya melihat boneka bercorak warna – warni itu.

“Kamu sadar nggak sih itu apaa? Hehe” tanyanya balik padaku.

“Lhooo emangnya apa?” aku memperhatikannya lebih jelas dengan kacamataku.

“Eh iyaa, ini mah laba – laba!” sontakku kaget.

“Emang iyaaa, haha emang kamu kira apaa?” tawanya kecil.

“Ngga jadi lucu dia mah, batal – batal.” sangkalku cepat, maklum aku adalah salah satu manusia yang begitu takut dengan laba – laba. Sembari berjalan cepat menjauhi sisi si boneka laba – laba.

“Yaa udaah, tapi nggak usah jauh – jauh juga sih, sinii haha” ia tertawa lagi melihat tingkahku.

“Ngga apaa, aku lagi mau liat ini nih, bagus…” jawabku asal menunjuk suatu figure yang aku pun sebenernya nggak tahu itu apa dan siapa haha.

“Bilang aja takut wee…” godanya sambil mendekat ke arahku dan memasang wajah meledek yang menjengkelkan, tapi lucu juga hehe.

“Enak aja takut! siapa cobaa yang takut!” jawabku ketus tak sadar cemberut yang membuatnya semakin menjadi – jadi meledekku.

“Mmm… Trus siapa yaaa yang waktu itu sampai teriak?” ledeknya kali ini sambil cengengesan.

“Kaan… kaaaan diinget – inget lagi hahah.”

Kami larut dalam tawa kecil yang begitu hangat. Mengingat satu momen kecil di waktu lalu yang menjadi awal mula cerita kedekatan kami berdua.


Sedari pagi seorang temanku sudah sibuk merencanakan sesuatu di awal mula kelas. Rencananya sederhana, hanya sekadar iseng menjahili teman kelas lainnya dengan memberi sedikit kejutan. Ia membawa sebuah boneka laba – laba hitam yang berbulu. Aku yang sudah melihatnya lebih dulu jadi biasa – biasa saja, tidak kaget sama sekali. Dalam hati aku bergumam, “ya elah masih aja main kayak gituan udah gede kayak gini, siapa yang takut coba?”

Kelas berjalan seperti biasa pada umumnya, begitu khusyuk dan tenang, semuanya serius belajar memperhatikan dan menjawab soal – soal. Demikian juga aku yang kala itu duduk kedua dari depan muka kelas. Aku begitu fokus mengerjakan soal yang rasanya njelimet ini, sampai aku tidak memperhatikan keadaan sekitar. Tidak sadar temanku yang di belakang sedari tadi sudah memanggil namaku.

“Sst, woii Ron…” panggilnya diam – diam. Dia ini Alvit temanku yang berniat jahil tadi.

“Bentar – bentar vit, gw lagi ngerjain nih tanggung…” tahanku sembari menggeser tangannya yang sedari tadi mencolek punggung seragamku.

“Et dah, ini sebentar ajaa, lemparin aja ke depan cepet..” ujarnya begitu tergesar – gesa.

“Ya udah sini, emang apaan sih?” sambil tetap mengerjakan soal tangan kiri ku menyambut sesuatu yang diberikan oleh Alvit.

Ukurannya cukup besar, banyak bulunya, dan terasa ada ruas – ruas yang begitu banyak di dalam genggamanku. Fokusku pada kertas tadi tiba – tiba teralihkan oleh respon alamiahku. Karena merasa aneh dan geli aku melihat ke genggaman tanganku, dan entah kenapa aku terkejut bukan main. Melihat seekor laba – laba hitam besar berbulu kini ada di dalam genggaman tanganku.

Akalku berpikir pendek berpacu dengan degup jantung yang tiba – tiba berdetak tak karuan, mataku ikut terbelalak, bersama gejolak tak tertahankan dari ruang di dalam dada—mulutku sempurna terbuka lebar, “WAAAAAAAAH!”

Aku berteriak kaget, cepat dan lantang. Mungkin lebih keras daripada teriakan komando inspektur upacara di lapangan. Kalo itu sih wajar di lapangan, lha ini aku teriak kok di ruang kelas.

  1. Aku shock, boneka laba – laba itu tanpa sadar bersamaan dengan teriakanku turut terlempar pula ke arah depan, tepatnya papan tulis di depan tempat sang Ibu pengajar sedang serius menuliskan materi.

Setelah rentetan kejadian itu saling beraksi, sekarang coba kita ulang lagi.

  1. Aku shock.
  2. Ibu pengajar shock.
  3. Alvit ternyata juga shock karena kaget tidak menyangka aku akan terkejut, karena target modus operandi yang sesungguhnya adalah ia yang sedang duduk di bangku paling depan kelas. Dan pada akhirnya satu isi kelas shock, mendengar teriakanku yang tiba – tiba, boneka laba – laba yang melayang keras dan cepat ke papan tulis pun turut menyumbangkan suara keras yang mengagetkan si ibu pengajar.

Tragedi laba – laba itu terjadi begitu saja.

Setelah tiba – tiba hening sepersekian detik, gemuruh tawa pecah di kelas kami. Si Ibu pengajar yang tadinya kaget akhirnya ikut – ikutan juga menertawaiku yang masih memasang muka shock tapi mulai memerah karena malu dan berulang kali mengucap maaf. Entah mau ditaruh mana lagi muka ini. Image diri yang biasa dikenal tenang dan kalem buyar, sebuyar – buyarnya gebyar BCA.

Tetapi diam – diam aku tersenyum juga, sebab kala itu adalah kala pertama kami saling berpandangan cukup lama. Ia yang seharusnya menjadi target kejutan, nyatanya justru tertawa manis melihat “kejutan” dariku.


Siapa yang sangka? Ternyata “udah gede kayak gini” masih juga takutan. Hehe

Siapa juga yang menyangka? kejutan itu jadi awal dari kejutan – kejutan manis lainnya di antara kita.


Saat sedang di pembaringan, sebuah panggilan darimu masuk;

“Hayooo lagi ngapaiiin?” tanyamu lembut.

“Lagi mainan nih sama si Bala – Bala, hehe” jawabku

“Hehe, lho katanya takuuut?” godanya.

Tanpa sadar aku menggelengkan kepala, lalu berujar pelan padanya
“Udah ngga takut lagi. Malahan sayang… ❤ ”

(habis)


Sumber Foto : Google.com

14 pemikiran pada “Bala – Bala

  1. bala-bala tuh kalau aku biasanya pakai wortel, kol, sama toge. terus dimakan anget-anget pakai cabai rawit pedes-pedes endes gitu masbro…#halah

    btw itu boneka emang imut tapi nggak kebayang juga kalau ada lekong takara sama laba-laba sampek teriak lebay begonoh… mungkin akika akan tertawa paling keras saat itu…

    Disukai oleh 1 orang

      1. Dulu bu ambar pernah beli boneka kaki seribu. Warnanya kuning merah, panjaaang bgt kayak guling, dan dia pake topi macem mad hatter. Yang ngilu kakinya banyak banget. Sejak kecil aku merasa dihantui sama boneka itu. Gak ngerti kenapa ada yang bikin boneka itu. Dan gak ngerti lagiiii kenapa doi beli boneka itu juga. Sigh -_-

        Dan boneka ini mengingatkan akan si ulet bulu mad hatter

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s