Rupanya Aku Cemburu

Sejak kecil aku banyak memperhatikan oranglain. Diam – diam membandingkan diriku dengan oranglain, maupun antara dua atau lebih oranglainnya. Bertanya dalam hati, dimana kah letak beda dirku dengan orang lain pada umumnya? Mengapa aku merasakan hal yang demikian? Apakah memang perasaan ku saja?

Kenyataannya, aku begini karena dirimu. Aku cemburu karena warnaku tak sama denganmu. Aku cemburu karena kita tak “sama” maka tak bisa bersama.


Tak peduli seberapa dekat aku denganmu, pada akhirnya tak bisa sama – sama ya? Tak peduli seberapa pendek jarak langkah nyata di antara kita, aku selalu merasa ada jurang dalam tak terlihat yang membentang di antara kita.

Atau mungkin semuanya hanya ada di hadapanku saja?

Bahkan sebatas kata – kata sapa saja tak jua kunjung keluar dari bibirku yang terdiam bisu. Meski segenap ruang di hatiku sejujurnya meronta – ronta memanggil namamu. Meskipun di setiap sudut pandangku selalu dapat kutemukan kamu.

Lidahku terasa kelu, hatiku membiru hanya karena sebuah alasan malu.


Ingin ku hanya sesederhana menjadi normal. Menjadi orang – orang pada biasanya, yang bebas lepas dengan segala cara miliknya. Aku bisa dengan teman – temanku, namun mengapa tak bisa denganmu. Apa aku begitu takut?

Jangankan memikirkan beda yang lain. Baru beda warna pada setitik kertas saja aku sudah sedemikian merasa jauh darimu.

Ya.

Aku cemburu pada teman – temanmu, bahkan aku pun cemburu pada sahabatku sendiri yang bisa bercanda – canda denganmu. Berada dekat dengamu, melihat tatap hangat matamu yang begitu ku sukai terlebih saat dirimu tersenyum ataupun tertawa itu.


Sudah suratan jika pada setiap pertemuan kelak pasti bersama dengan adanya perpisahan. Ini yang membekas dalam hatiku dalam – dalam. Hingga akhirnya membuatku urung membuka hati karena sang takut sudah bersarang di sana.

Ku kira begitu awalnya. Tetapi entah mengapa hatiku justru terbuka sendirinya padamu.

Kamu berkata padaku, bahwa dirimu akan hendak berpisah. Segera berpindah tempat di jauh sana. Seharusnya aku senang, namun entah mengapa aku lebih merasa sedih. Aku takut kita berpisah, padahal kita baru saja bertemu bukan?

Kala itu batinku gelisah, hingga aku bertanya – tanya pada temanku. Apa kabar yang demikan memang benar adanya? Namun mereka justruk berbalik tanya, “Memangnya ada apa? Memangnya siapa?” Aku hanya bisa menggelengkan kepala, tak sampai hatiku menyebut namamu.

Mereka semua percaya padaku, sebagaimana aku percaya kabar darimu.


Aku yang waktu itu hendak menyaksikan sebuah pertunjukan film, justru masuk theater dengan pertanyaan dan rasa penasaran yang lain. Potongan adegan demi adegan pun berlalu, namun tak sampai lebih dari 30 menit aku memutuskan untuk pamit dan pergi meninggalkan teman – temanku. Batinku terlalu gelisah untuk tetap diam di sana, sedang aku mengetahui bahwa dirimu akan segera pergi.

Tetapi toh aku bisa apa? Ini yang membuatku begitu sesak.

Rasanya aku ingin menahanmu, tetapi ini juga yang selalu jadi harapanmu, bukan?

Aku melangkah dengan tujuan kosong bersama isi hati yang tak karuan. Roda – roda kendaraanku begulir menuntunku hingga entah kemana. Tidak peduli lagi, aku rasanya sudah kehilangan arah. Hampir sudut – sudut terjauh di kota, ku lewati berkali – kali. Lantaran karena aku tak mengerti harus berbuat apa lagi.

Berulang kali aku berteriak, mengehela nafas panjang tak terhitung lagi jumlahnya. Alih – alih hendak melepas rasa sesak di hati, tapi nyatanya tak bisa juga.

Sesampainya di rumah, aku menjatuhkan diri di atas pembaringan. Tak terasa air mata di sudut – sudut mataku sudah mengeri di sepanjang perjalanan tadi. Mataku memejam, membantin kuat sebuah pertanyaan kepada Yang Maha Kuasa, “Mengapa yang demikian, Ya Tuhan?”

Jawabannya pun datang. Rupanya sebuah pesan darimu.


Kamu tertawa, tak menyangka bahwa aku benar – benar mempercayai kabar darimu. Harusnya aku pun tertawa juga karena tersedar bahwa kamu memang sedang hanya bercanda padaku. Tetapi nyatanya aku tak bisa tertawa.

Aku terlalu takut dan sedih. Sedemikian takutnya, jikalau memang semuanya ternyata benar adanya. Apa ini lantaran aku merasa belum siap? Atau memang selama – lamanya aku tak pernah siap, mengetahui jika memang kenyataan nanti hendak berpisah dengan dirimu?

Pada akhirnya aku mengerti. Setelah sekian panjang malam aku bertanya – tanya dalam hati. Perihal sebab dan mengapa aku bersedih.

Rupanya aku cemburu.

Bukan lantaran sekadar berbeda warna atau berbeda hal apapun itu.

Rupanya aku cemburu.

Karena aku begitu takut sang waktu begitu lekat padamu dan kelak membawamu berlalu dariku.

Aku cemburu pada setiap hadirnya waktu, karena seberapapun dekatnya aku denganmu, aku tak pernah benar – benar membersamaimu.

rupanya aku cemburu

Sumber gambar : Youtube.com

21 pemikiran pada “Rupanya Aku Cemburu

  1. Kisah patah hati bahkan sebelum membuka hati sepenuhnya ya :’)
    Dari tulisan kak Toro aku sadar, ada banyak orang yang memang bisa hanya sebatas kita kagumi, nggak akan bisa kita miliki 😭

    Btw aku lebih suka gini, lagunya di taruh di atas, biar dari awal baca udah ada pengiringnya. Apalagi pake lagunya spirited away, mantap 👌

    Disukai oleh 5 orang

  2. Ah, waktu memang benar-benar membuat tak nyaman hati para perindu, ya Mas Toro.

    Mengetahui bahwa waktu memiliki hak prerogatif untuk mengendalikan apapun itu, mungkin, lebih baik kita tak tahu malu saja.

    Tak tahu malu untuk terus menyapanya, tak tahu malu untuk terus jujur perasaan kita padanya, dan tak tahu malu untuk membersamainya.

    Disukai oleh 2 orang

      1. Betul, Mas Toro. Selamat berjuang, Mas Toro.

        ‘Tak tahu malu’ bukan melulu tentang hal negatif ternyata ya. Untuk jujur dengan perasaan sendiri menjadi ‘tak tahu malu’ itu penting hehe

        Disukai oleh 1 orang

  3. Kalo saya cemburu sama si “kamu” karena sepertinya dia begitu dicintai. Dicemburui. Kepergiannya pun ditangisi.

    Juga sama si “aku”. Mungkin kisah cinta memang nggak selalu soal suka dan senang, tapi juga sedihnya perpisahan. Tapi entah itu berakhir suka ataupun duka, jatuh cinta — that butterfly-in-the-stomach feeling — rasanya pasti menyenangkan.

    Tapi saya paling cemburu sama si rakunkecil. Karena dia bisa menulis cerita sebagus ini 🙂

    Disukai oleh 2 orang

    1. eleuh eleuuh, aku boleh panggil nama aslimu, jangan? heheh

      aku juga cemburu sama kamu yang begitu kenal dirimu sendirii dan duniaamuu :”)
      makasiiih masih aja baca tulisanku yang gak jelas dr duluu heheh :”D

      Suka

  4. Karena aku begitu takut sang waktu begitu lekat padamu dan kelak membawamu berlalu dariku.

    Aku cemburu pada setiap hadirnya waktu, karena seberapapun dekatnya aku denganmu, aku tak pernah benar – benar membersamaimu

    :””))
    Makna benar benar membersamaimu bener bgt 😦 gapaham setelah baca ini malah jadi takut kehilangan. Heu

    Disukai oleh 2 orang

  5. Mendadak galau… Bener-bener galau karena ngerasa cerita ini serupa dengan apa yang aku rasakan sekarang :’) tapi entah kenapa aku merasa sepertinya memang jalannya sudah seperti itu.. Aduh jadi sedih beneran ini mah.. 😭

    Disukai oleh 2 orang

    1. Bismillaaah mas Fahri ( ini aku salah nggak sih manggilnya mas Fahrii?) insya allaaah jalanNya yang paling baiiik, disyukuri dan dinikmati perasaannya, itu tandanya perasaannya mas Fahri benar adanya sampe bisa ngerasa begituu :”D

      Suka

  6. “Ingin ku hanya sesederhana menjadi normal”, yah Kak 😂 sayangnya dia lelaki dan aku juga bukan wanita, apa hanya se-simple gender, perasaan cinta juga bisa terbentur kodrat.

    Nanti kami segera wisuda, sama-sama tahu mau kemana, sama-sama tahu akan pergi berpisah. Perasaan bakal jadi tetap perasaan. Akhirnya aku cukup bahagia dengan hanya sekadar mengenal, tanpa harus dekat dan punya rasa saling memiliki ; bahkan untuk status sahabat sekalipun.

    Terimakasih Kak buat tulisannya 😁

    Disukai oleh 2 orang

    1. semangaaat semoga lancaar wisudanyaaa, ngga ada salahnya untuk ngungkapin perasaanmu gimana pun caranyaa, karena paling sesak kalau kita selamanya nyimpen perasaan itu sendiriaan…

      Semoga bahagiaaa selaluu untuk kaliaan berduaa:)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s