Musim Gugur

“Udah cukuplah Bar pengalaman cerita lo kayak gini, nggak perlu ditambah lagi. Pikirin juga kebahagiaan untuk lo sendiri…” ujarnya setelah ku ceritakan padanya potongan dari kisah hidupku yang lain. Kisah lain dari yang sudah pernah ia tahu sebelumnya.

Aku hanya tersenyum sembari mengangguk perlahan. Bibirku seolah ingin mengiyakan perkataannya, tapi hatiku seperti menolak untuk bersepakat. Kurasa hatiku justru telah memilih sepakat untuk tidak bersepakat, ketika ia berkata agar memikirkan kebahagiaan diriku juga? Tentu saja aku memikirkan kebahagiaanku sendiri juga, karenanya aku tetap demikian.

Akan tetap mencinta dengan berbagai caranya. Selalu.

Karena jujur saja, aku bahagia dengan cara seperti ini. Menunjukkan apa yang kurasa dari dalam hatiku apa adanya. Berkata dan bertindak–jujur dan tulus apa adanya. Tidak pernah ingin sebuah kerumitan menjadi penghalang dari setiap rasa yang ingin kusampaikan padamu. Aku tak merasa perlu bersandiwara, apalagi bermain teka – teki padamu tentang apa yang kurasa.


Perihal musim gugur, aku juga mengerti. Kita sama – sama tahu kelak akan kedatangan dia yang satu itu, Musim Dingin.

Tapi itu bukan berarti aku harus benar – benar berhenti dan mati membeku sama sekali. Tidak. Aku bukan tipikal orang yang seperti itu. Seberapapun dekatnya aku dengan musim dingin, aku tetap mendekap erat ia yang mencipta hangat di dalam hati. Cinta.

Alih – alih hanya memperhatikan dedaunan yang perlahan luruh berserakan, tidak kamu memperhatikan sesuatu? Dedaunan itu tak lagi berwarna hijau, bukan?

“Ya tentu saja, kan sudah mati? Ia sudah habis pada masanya.” Kurasa mungkin itu jawabanmu. Aku tak menyalahkanmu, mungkin memang benar tapi tidak sepenuhnya. Lagi – lagi untuk kesekian kalinya aku kembali sepakat untuk tidak bersepakat denganmu ya?

Sadarkah kamu? Pada musim gugur ini pigmen – pigmen karotenoid itu dominan membubuhkan warna kuning dan jingga pada dedauananku itu? Pigmen yang sebenarnya sudah ada sejak musim panasmu yang begitu hangat padaku dulu. Hanya saja sekarang ia nampak dominan lantaran kamu yang tanpa sadar mengurai pigmen hijau klorofilku itu.

Bagiku warna jingga dan merah itu terlihat begitu cantik. Sinar siang hari yang cerah semakin memupuk juga sang Antosian, ia yang memang hadir memberi warna merah di musim ini. Ah, bagiku ini begitu cantik dan indah bagaimana Ia menciptakan suatu rentetan kisah siklus nan indah dengan ciri khasnya masing – masing. Alhamdulillah.


“Harusnya mas sendiri pasti juga sudah tahu, bagaimanapun juga kamu pasti akan bertemu dengan musim dingin itu, kan?”

Memang. Aku pun memang sudah tahu, tapi entah mengapa ia yang ada di dalam hatiku menolak mentah – mentah jika diminta mati.

Maka memang beginilah caraku, membiarkan semua rasaku luruh berguguran padamu. Hingga helaian daun terakhirku.

Aku memilih tetap menunjukkan rasa dan warnaku padamu, apa adanya. Hijau muda, hijau tua, kuning, jingga ataupun merah merekah. Itu semua warna – warni rasaku padamu.


Terus terang, aku sungguh tak pernah tahu apa warna kesukaanmu padaku? Atau bahkan kamu lebih memilih untuk tetap diam saja, lantaran takut jika kelak rasamu luruh berguguran padaku? Tidakkah kamu lihat kini aku sudah di musim gugur padamu, sendirian? Apakah warnaku masih kurang jelas padamu?

Aku tak akan mengguncangmu, memaksamu menjatuhkan dedaunan untuk hanya sekedar memberi jawaban guguran yang sama padaku. Tidak, aku tidak akan pernah begitu sungguh. Aku menghormati tumbuhmu, hidupmu, dan semua indahmu.

Kamu punya musim tumbuhmu sendiri, aku mengerti itu.

Andai kata memang musim tumbuh kita benar – benar berbeda, aku hanya ingin kamu tahu dan juga mengerti satu hal;


“Musim gugur juga adalah satu dari sekian musim bagaimana cintaku tumbuh padamu.”

“Cara bagaimana ia menunjukkan warna – warni rasaku yang tak hanya satu padamu.

“Cara bagaimana ia menunjukkan begitu banyak helaian daun cinta yang tumbuh sejak bersamamu.

“Cara bagaimana ia berusaha tetap tumbuh dalam cintanya di setiap lini masa, kelak panas maupun dinginnya, kelak suka maupun dukanya, sayang.”


Sumber gambar : Unsplash.com

4 pemikiran pada “Musim Gugur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s