Senar

Sudah ku katakan padamu, tentang bagaimana gambaran diriku. Seumpama gitar yang telah cacat fisiknya, maka juga cacat semua tujuan hidup dirinya. Leherku bengkok, senarku sudah berkarat bahkan ada yang putus terurai tak beraturan.

Namun engkau tetap saja. Begitu sabarnya memetikku dengan jari jemarimu yang lembut itu. Mengajakku untuk bersama, menemani lantunan nada nyanyianmu yang merdu itu. Meski sebenarnya aku pun tahu diri, aku hanyalah nada – nada sumbang dalam nyanyian hidupmu.


Ah. Aku memang bodoh.

Coba lihat! Sekarang semuanya lebih parah. Bukan hanya nada – nada jelekku yang merusak nyanyianmu. Pada akhirnya seperti yang selalu kutakutkan–akupun justru melukaimu. Aku tidaklah buta untuk mengetahui darah itu perlahan menetes dari goresan luka di jemari mungilmu itu.

Merah dan pekat.

Luka yang kugoreskan padamu begitu dalam, aku tahu. Sebab karenanya kamu pun dengan tiba – tiba menarik tanganmu dariku. Menangkupkan tanganmu yang terluka di dadamu erat. Menutup apapun yang hendak mendekatimu. Naluri seseorang yang melindungi dirinya akibat terluka.


Aku sedih. Lantaran aku tak bisa apa – apa. Selain mengetahui bahwa akulah satu – satunya alasan yang membuatmu terluka. Lebih – lebih aku bukan hanya sekadar orang biasa. Aku terang – terangan telah melukai seseorang yang dengan baiknya menemani dan membersamaiku, meski dengan segala kehinaan yang nyata – nyata melekat pada diriku.


Kamu melepasku tiba – tiba. Tanpa suara dan isyarat apapun. Meninggalkan aku yang tak bisa berbuat apa – apa selain bersadar diri, aku lah yang memulainya dengan telah melukaimu.

Tanganmu tak lagi mendekap erat diriku, akupun terbanting ke bawah. Jatuh keras menghantam lantai.Hancur juga tak berbentuk. Bukan hanya senarku, tapi juga keseluruhan diriku. Remuk tak bersisa menjadi potongan kayu yang tak bisa apa – apa.


Lagi pula sedari awal aku hendak berharap apa? Karena yang sudah rusak memang takdirnya rusak.

Lebih baik begini, kamu sembuhkan luka. Bertemu dengan gitar dan senar lain, yang menemani nyanyianmu dengan tak kalah merdu.

Sama sekali tak perlu kamu pungut diriku, sebab potongan diriku pasti akan melukaimu, lagi dan lagi. Lelah akibat ulah yang itu – itu lagi.

Tempatku memang di sini. Dalam tumpukan barang masa lalu yang usang lagi kelam. Tanpa guna ataupun nilai. Biarkan habis dimakan rayap tanpa perlu diratap.

Karena aku memang tak ada bedanya. Hanya hal yang terbiasa menyisakan sesal.


Sumber gambar : google.com

2 pemikiran pada “Senar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s