Berbesar Hati

Aku bukan pencerita masalah hati yang baik. Terkadang aku justru sering tidak dapat menyampaikan dengan baik kisahku sendiri. Dan karenanya aku selalu membalutnya dalam suatu kisah cerita dengan alih – alih ini adalah suatu kisah karangan bersama pemerannya. Namun kali ini aku ingin sedikit berbagi perasaanku. Tanpa embel – embel karangan. Tanpa pula hal yang perlu ku sembunyikan.


Sepekan yang lalu, demamku masih tinggi dan sakitku belum juga reda. Tiba – tiba saja Engkau timpakan pula padaku, bagaimana rasanya pedih karena terlalu berharap pada hambaMu.

Aku kehilangan semuanya. Semuanya, seluruh nikmat yang Ia berikan kepadaku selama ini. Nikmat sehat juga cinta yang telah Ia berikan sampai saat ini. Mungkin memang benar adanya aku telah lalai dalam bersyukur kepadaNya. Hingga Ia mengambilnya dariku, agar aku kembali mengingatNya.

Namun alih – alih mengerti, aku justru jatuh dalam lubang jurang kesedihan yang amat dalam. Aku belum pernah merasa sepi sendirian seperti ini. Mendadak aku merasa orang yang hidup sendirian di dalam dunia yang begitu besar ini. Aku merasa tak punya siapa – siapa untuk bercerita ataupun sekadar membagi rasa sesak yang berkumpul di dalam dada. Kecewa, amarah, benci, dan semuanya menumpuk menjadi satu hal yang dinamakan sakit hati.

Dalam suasana yang hening diam, aku yang masih terbaring dalam sakitnya menatap langit – langit ruangan. Berbisik lirih tentang tanyaku pada Tuhan, “Tuhan, kali ini Engkau ingin agar aku belajar apa lagi?”

Diri ini meski dalam banyak salahnya, hanya selalu ingin berbuat baik ya Tuhan. Tak pernah sekalipun aku berniat jahat kepada oranglainnya, namun entah mengapa jalan untuk merasakan baiknya kasih dan sayangMu selalu terasa begitu berat bagiku Tuhan?


Menangis. Air mataku keluar perlahan dari kedua ujung pelupuk mata. Tanganku mencengkeram erat dadaku. Aku berteriak, namun sama sekali tidak bersuara.

Setelah beberapa lama waktu berselang. Perlahan kuraih remot televisiku, aku mencari lagu Remember Me – Thomas Bergersen di salah satu aplikasi pemutar lagu. Thomas Bergersen sendiri merupakan salah satu komposer lagu favoritku, semenjak aku mengenal karya pribadinya maupun karya – karyanya di Two Steps From Hell bersama Nick Phoenix sejak aku masih duduk di bangku SMA.

Dan lagu Remember Me ini pula yang selalu menjadi temanku dalam menenangkan diri. Dari beratnya ujian, kegagalan, kekecewaan, ataupun segala hal yang terjadi di luar harapan – harapanku. Kubiarkan lagu ini dimainkan dalam mode berulang.

Lagu ini seakan berbicara dan menguatkan hatiku. Mengingatkan padaku bahwa semuanya memang terjadi untuk suatu alasan baik dan besar yang hanya belum kuketahui dan kumengerti.

Mungkin itu pula alasannya mengapa bagiku lagi ini terasa begitu cocok ketika menjadi salah satu soundtrack trailer di film berjudul Collateral Beauty. Sebuah film sederhana namun sarat pesan yang begitu dalam. Terutama kepada orang – orang yang tengah merasa kehilangan. Entah itu seseorang, tujuan, arti, maupun alasan hidupnya.


Aku duduk di tepian pembaringan. Pandanganku masih kosong tetapi hatiku mulai berangsur tennang. Kulangkahkan kaki ku untuk menyucikan diri. Seseorang pernah berkata padaku, daripada aku menangis di atas bantal, jauh lebih baik dirimu menangis dalam sujudmu.

Seusai menghadap diriNya, aku bersujud. Kusampaikan segala sesak yang ada di dalam dada. Aku sama sekali tak lagi meratap dengan pertanyaan semacam “Mengapa ini semuanya harus terjadi?” Kali ini aku justru meminta doa, agar selalu dikuatkan dan diberikan pemahaman yang baik atas semuanya.

Semuanya terjadi karena sesuatu ketentuan yang besar, aku yakin.


Dan benar saja, aku menjadi lebih tenang. Aku menjadi tidak marah apalagi memiliki rasa benci di dalam hati. Meskipun aku masih harus perlahan mengikhlaskan semuanya, pada akhirnya kubesarkan hatiku untuk dapat menghubungi dirinya.

Aku berbicara padanya, bertanya, dan mendengarkan segala ceritanya. Sembari berusaha sebisa mungkin tetap tenang dan menerima kenyataannya. Di penghujung pembicaraan, kembali kutanyakan dengan pelan padanya. Juga kukatakan padanya, apa yang memang menjadi keinginanku. Meski untuk yang terakhir kali, dan meskipun juga sudah kutahu apa jawabnya.

Dia menentukan pilihannya, dan memang itu bukan diriku.

Berat rasanya. Tetapi aku sama sekali tidak ingin melukai perasaan baik yang selama ini juga usaha kujaga. Perasaan dan hatiku jauh lebih besar daripada luka ini, ku kuatkan hatiku. Aku mengiyakan perkataannya. Mendoakan pillihannya agar menjadi pilihan hidupnya yang terbaik juga, selalu.

Meski berat, kutanyakan pula padanya, tentang bagaimana “dirinya” yang menjadi pilihannya. Apakah dia telah menanyakan kabar perihal “dirinya” seusai jauh perjalanan untuk dapat menemuinya?

Aku ingin kamu peduli padanya. Agar ia juga selalu peduli padamu. Begitu doaku dalam hati padamu diam – diam.

Kemudian aku pun berpamit dan menutup panggilanku padanya. Mungkin juga dari hidupnya.


Kehilangan ini mengajarkanku untuk selalu tetap tulus dan berbesar hati. Belajar mencintai dengan penuh kesabaran dan kepercayaan.

Sebab memang itu yang selalu dilakukanNya padaku, andaikan aku selalu dapat mengerti. Menerima ku kembali berulang kali, dalam kesabaran dan kasih sayangNya yang tak terbatas.

Agar sampai saat ini, dan seterusnya aku selalu percaya. CintaMu tulus dan nyata, pada semua hamba – hamba baikMu. Alhamdulillah.


Sumber gambar : Google.com – Collateral Beauty

22 pemikiran pada “Berbesar Hati

  1. MenghadapNya, bersujud padaNya, menyampaikan sega rasa sesak padaNya.

    Semua manusia pasti ya ada di posisi itu. Memang paling masuk akal mengadu padaNya dan mensugesti diri sendiri untuk bangkit.

    Hanya kepadaNya juga kita kembali nanti. Kita pasrahkan saja hidup ini padaNya. Semangaattt 💪

    Disukai oleh 1 orang

  2. dikala sedih dan banyak hal terjadi, saya selalu percaya bahwa apapun yang terjadi adalah sudah kehendak Allah, pasti tidak ada yang terlewat dari catatan-Nya. satupun tidak ada.
    Semoga dilapangkan hati-hati kita yang sempit hingga sesak rasanya. Semoga Allah kuatkan Mas Toro, semangat. :’)

    Disukai oleh 2 orang

  3. Makasih udah nulis dengan perasaan jujur, Mas Toro :’) nangis aja yang puas mas, sembuhkan lukanya pelan-pelan.
    Sun will rise and we will try again :’) Allah pasti menguatkan dan melapangkan hati Mas Toro, Insya Allah.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s