Luka Sendiri

Seperti pada hari – hari pada biasanya, usai mengerjakan suatu laporan aku hendak menjilid hasil laporan yang telah selesai dicetak. Aku menuju meja kerja yang memang sudah disiapkan untuk itu. Namun di atas sana, peralatan dan segala macamnya tidak tertata rapi. Lalu aku pun berinisiatif merapikannya terlebih dahulu. Di saat inilah jemari tanganku secara tak sengaja menggenggam isi pisau cutter yang ternyata menempel pada solasi lakban hitam yang tertutupi kemasan pembungkus kertas hvs.

Karena genggamanku cukup kuat, pisau itu menyayat cukup dalam pada bagian telapak ruas terbawah jari telunjuk kananku. Anehnya aku tidak merasakan sakit saat itu.

Justru hal yang aku rasakan pertama kali adalah sensasi hangat yang terasa mengalir di genggaman tangan.

Apa mungkin aku sudah mati rasa?

Darah segar mulai mengalir di sepanjang jemariku. Aku pun bergegas ke kamar mandi, hendak mencuci luka ku itu.

Begitu dibasuh, barulah aku merasakan sakitnya.
Aneh ya? Bagaimana sakit itu justru terasa ketika hendak menyembuhkan lukanya?


Usai mencuci luka ku, aku kembali menuju ruangan kerjaku dengan darah yang masih saja mengalir di jemariku. Aku bertanya pada seorang rekan kerjaku, apakah ia memiliki plester perekat luka atau semacamnya. Dia bilang tidak ada, dan justru bertanya padaku untuk apa? Ku tunjukkan pelan jariku yang sudah basah memerah. Dia justru langsung bergegas berdiri;

“Ayo rek ke bawah cepetan, minta (plester) aja ke bagian umum!” ajaknya cepat.

“Eh nggak usah, lo di sini kerja aja, gak apa – apa biar gue ke bawah sendiri aja bisa kok, santaai” jawabku.

Aku pun mengambil beberapa helai tisu untuk mengusap darah dan menekan lukaku agar darahnya tak menetes di sepanjang perjalanan. Tapi bukan bagian umum lah tujuanku. Rasanya aku tak ingin membuat repot oranglain perihal urusanku. Meskipun memang sebenarnya memang obat – obatan dan peralahan kesehatannya memang di sediakan untuk para pegawai  yang sedang membutuhkan. Aku justru melangkah kaki ke lantai paling bawah.

Tujuan pertama ku adalah sebuah kantin di dekat kantor. Di sana aku bertanya kepada Ibu pemilik kantin, apa sekiranya ada plester luka yang dijual.

“Nggak ada mas, biasanya ada juga hanya untuk jaga – jaga. Misalkan ada pegawai ibu yang terluka di dapur, tapi kebetulan ini lagi nggak ada.” Jawab sang ibu kepadaku.

Memang seharusnya manusia ya seperti ini ya.
Bersiap dengan segala kemungkinan terburuknya. Hal tak terduga yang mungkin sama sekali tak pernah terbayang dan diinginkan sebelumnya. Aku terdiam cukup lama, rupanya aku memang sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana ya.


Aku pun berpamit kepada ibunya. Melangkahkan kaki keluar dari kantorku. Saat berjalan di tepian jalan aku sempat berpapasan dengan seseorang yang tengah diboncengan sepeda motor menuju kantor. Ia memanggil namaku dengan cukup kencang, dengan nada dan suara khasnya setiap kali memanggil namaku;

“Mas Toro? Ngapain maas?” tanyanya sembari tetap melaju menjauhiku.

Aku yang sadar memiliki suara pelan, hanya bisa tersenyum dan hendak melambai untuk menunjukan jemariku yang terluka, tapi untuk apa, pasti tidak akan terlihat juga batinku.

Kala itu meski waktu baru pukul sembilan pagi, namun panasnya terasa begitu menyengat. Berulang kali usai mengusap peluk keringat, aku pun juga harus tetap menekan luka di genggaman tanganku. Tisu yang tadinya berwarna putih bersih kini sudah mulai berwarna merah merata. Beruntung akhirnya aku menemui sebuah warung kecil dan membeli beberapa plester perekat luka, Alhamdulillah.


Sekembalinya di kantor, aku berbaring dahulu di pelataran musholla. Kembali mencuci lukaku di sana. Untuk kemudian kurekatkan plester tadi di genggaman jemari telunjuk kananku. Lalu bergegas kembali menuju lantai empat ruangan tempatku bekerja. Melanjutkan kembali apa yang memang sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawabku.

Sepanjang perjalanan, aku memikirkan beberapa hal.

Sepertinya untuk beberapa waktu dekat ini aku tak bisa berkendara sendiri, gumamku dalam hati.
Tanganku terasa nyeri ketika dibuat menggenggam.

Begitu juga.

Ku rasa dalam beberapa kurun waktu ini aku lebih baik sendiri. Terlepas dari yang namanya hubungan asmara. Sebab bagaimanapun juga, hanya diriku sendirilah yang tau seberapa dalam luka hati ini.

Rupanya
Hati ini masih saja terluka,

Dan ku belum siap terjatuh untuk kesekian kalinya.


Biarkan aku;

Berupaya sembuh dari luka sendiri.

atau pun;

Berupaya sembuh dari luka, sendiri.


26 pemikiran pada “Luka Sendiri

      1. Wkwkwk… Boleh, poem can heal, insyaAllah. Tapi aku tapa dulu ya, udh lama gak nulis ini.. Selamat menyembuhkan luka Toro.. 🙃

        Disukai oleh 1 orang

  1. Aku pun pernah tertusuk benda tajam. Tapi tertusuk pecahan botol kaca dan ditelunjuk, Mas. Dan terkejut karena nggak nyangka luka kecil kok darahnya banyak banget ckck

    Kita aneh. Makin dewasa kita makin nggak suka ngerepotin orang lain. Aku pun sama, bola balik ke sana ke kemari cari plester sendirian ckck

    Sejak saat itu, selalu simpen plester di dompet :”

    Cepet sembuh, Mas Toro. Luka sendiri, ataupun, luka, sendiri :’)

    Disukai oleh 2 orang

  2. Kami butuh jungler!!! Cepat pulih kapten!!! Anak muridmu sudah platinum!!

    Yaela tor, sekali kali minta tolong aj gpp kaliii, gw juga sering ngrepotin 😕

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s